
Saat ini, di pendopo rumah besar di padepokan jati Anom tampak beberapa orang yang sudah tua dengan rambut, kumis dan jenggot yang sudah memutih terlihat sedang duduk bersila sambil membahas sesuatu yang tampaknya sangat serius sekali.
Ketika rombongan Eyang Santalaya, Bidadari kipas perak dan Pendekar Mata Elang tiba, masing-masing dari mereka langsung berdiri untuk menyambut kedatangan mantan jawara nomor satu di rimba persilatan sekitar puluhan tahun yang lalu.
Awalnya pertemuan itu tidak terlalu menarik perhatian bagi murid-murid yang berada di kelompok terpisah dari para tokoh kosen itu. Namun, setelah pangeran Indra Mahesa tiba bersama kedua murid dari padepokan jati Anom, barulah terdengar bisik-bisik diantara para murid wanita, baik itu dari padepokan jati Anom, maupun murid dari tokoh tua lainnya.
"Stttt. Andini. Coba kau lihat pemuda yang bersama dengan Kakang Bayu itu!" Kata seorang gadis yang langsung berbisik di telinga sahabatnya.
"Maksud mu pemuda yang berjalan di tengah-tengah itu, Gayatri?" Tanya Andini.
"Benar. Wah. Kakang Bayu kalah jauh tuh," kata Gayatri sambil terus menatapi pangeran Indra yang sudah tiba di belakang kedua eyang gurunya itu.
Pangeran Indra sama sekali tidak tau kalau dirinya saat ini sedang menjadi buah bibir dikalangan murid dari padepokan jati Anom ini. Dia yang telah dipesankan untuk menjaga sikap oleh Bidadari kipas perak hanya duduk bersila saja sambil menunduk dibelakang eyang Santalaya.
Begitu Eyang Santalaya membuka suara, semua gadis yang sedang kasak-kusuk tadi langsung terdiam sambil mendengarkan inti dari pertemuan mereka kali ini.
__ADS_1
"Kakang Anom. Sebenarnya ada apa, kakang mengundang begini banyaknya orang-orang dari rimba persilatan ke padepokan yang kakang pimpin ini?" Tanya Eyang Santalaya sambil membenahi cara duduknya.
"Sebelum aku mengatakan apa yang menjadi maksud dan tujuan ku mengundang kalian semua ke padepokan ku ini, terlebih dahulu aku ingin mengucapkan banyak terimakasih karena kalian sudah mau jauh-jauh untuk memenuhi undangan ku ini,"
"Sebenarnya, ada banyak hal belakangan ini terjadi di ranah persilatan baik itu dari golongan hitam maupun yang memperalat golongan ini demi kepentingan kekuasaan. Kalian terlalu lama menutup telinga dan mata dalam masalah ini," berkata mahaguru Anom atau Pendekar Dewa Pedang memulai pembicaraan inti dalam pertemuan ini.
"Sebelumnya aku mohon maaf kepada kakang Anom," kata eyang Santalaya, kemudian melanjutkan. "Bukankah kita telah sepakat untuk tidak mendekati pintu istana dan mencampuri urusan kerajaan. Bukankah kita telah sepakat untuk menjauhkan diri dengan cara tidak menentang maupun mendukung pihak penguasa?"
"Itu dulu, Santalaya! Dulu sekali ketika Gusti Prabu Perkasa Alam memimpin kerajaan Sri Kemuning. Gusti prabu Rakai Bumi memimpin kerajaan Paku Bumi. Gusti prabu Rakai Galuh memimpin kerajaan Galuh, dan lain sebagainya. Sekarang ini keadaan sudah jauh berbeda berbanding sekitar dua puluh tahun yang lalu. Kalian tentu terlalu nyaman berada di pengasingan kalian, sehingga kalian sedikitpun tak lagi peka terhadap jeritan rakyat,"
"Seorang pendekar tetaplah seorang pendekar sampai kematian menjemput. Yang menjadi pertanyaan, pantaskah gelar pendekar itu kalian sandang?"
Hening seketika. Saat ini hanya helaan nafas dan hembusan yang berat terasa. Semua mata kini hanya mampu menatap tikar di ujung lutut mereka yang duduk bersila itu. Tidak seorang pun yang berani mengangkat kepala. Bukan karena takut kepada Dewa Pedang, melainkan merasa malu kepada diri sendiri.
"Kakang Anom memang benar. Tiadalah jua apa kiranya yang dapat kita banggakan kepada anak cucu kita kelak andai keadaan yang berlarut-larut ini terus saja menyengsarakan rakyat. Semerbak harum bunga Kamboja, harum berhembus sampai ke Malaka, tiada guna ilmu di dada, andai tak celik terhadap angkara murka," giliran sang Penyair Gila pula membuka suara menandakan bahwa dirinya saat ini mengiyakan segala apa yang dikatakan oleh Dewa Pedang tadi.
__ADS_1
"Golongan muda di rimba persilatan ini terlalu ramai. Mereka semua memiliki bakat yang tidak dapat dipandang sebelah mata. Kita yang sudah tua ini tentunya tidak terlalu dibutuhkan tenaganya. Panggung sudah berpindah tangan. Karena, setiap jaman pasti ada tokohnya, dan setiap tokoh, ada pula zamannya. Lalu, kita yang tua ini apakah masih diperlukan?" Tanya Bima Purana yang sedari tadi hanya mendengarkan saja.
"Jika orang-orang dari golongan hitam telah keluar dari sarangnya untuk membantu penguasa yang tidak sah demi kedudukan dan kepentingan, lalu, alasan apa yang kalian miliki untuk mengelak dari menegakkan kebenaran?" Tanya Dewa Pedang.
"Sebentar kakang Anom. Apa maksudnya dari perkataan mu tadi?" Tanya Mata Elang.
"Kau kenal dengan Datuk Hitam? Pasti kau kenal karena kau beberapa belas tahun yang lalu terluka parah ditangan dedengkot aliran hitam itu," kata Dewa pedang memulai penjelasannya.
"Sejak mangkatnya Gusti Prabu Perkasa Alam yang meninggalkan dua putra, salah satu dari mereka harus merelakan yang satunya lagi untuk menduduki tahta kerajaan. Hal ini menyebabkan rasa tidak puas di hati pangeran Jaya Pradana. Dia lalu berangkat ke bukit Menjangan untuk berguru kepada Datuk Hitam dan berhasil membujuk Datuk itu untuk mendukung setiap tindakannya. Dengan di bantu oleh muridnya bersama Gagak Ireng, mereka pun mulai menyerang kerajaan Paku Bumi dan menduduki tahta kerajaan itu sebagai wilayah taklukkan oleh Sri Kemuning. Setelah merasa cukup kuat, mereka membawa seluruh pasukan yang tergabung dengan para begundal golongan hitam untuk menyerang kota raja Sri Kemuning. Kalian tentu sudah mendengar tentang nasib kerajaan itu sekitar tujuh belas tahun yang lalu,"
"Kakang Anom, aku rasa pembahasan kita ini akan sampai pada intinya. Aku harap, kau segera memerintahkan agar seluruh murid padepokan jati Anom ini untuk keluar dari pendopo ini!" Kata Mata Elang meminta agar para muda-mudi murid dari padepokan jati Anom maupun murid dari Bima Purana untuk segera meninggalkan ruangan itu karena pembahasan mereka kali ini sangat rahasia.
"Mata Elang. Apakah kau mengetahui tentang sesuatu?" Tanya Dewa Pedang. Dia jelas tahu bahwa Mata Elang ini tentu bukan tanpa alasan menyuruh para murid untuk meninggalkan pendopo tempat pertemuan itu.
Mata Elang tidak menjawab, melainkan hanya mengangguk samar.
__ADS_1
Bersambung...