
Mendengar perkataan yang begitu sombong dari Putri Melur ini, membuat Gayatri ingin membuka mulut. Walaupun dia adalah seorang putri raja, tapi kesombongan wanita ini membuatnya merasa muak juga. Hal yang sama juga dirasakan oleh Andini. Tapi, sebelum kedua sahabat Pangeran Indra Mahesa ini akan membuka mulut, Pangeran Indra sudah terlebih dahulu mencegah lalu segera berkata.
"Apakah jika aku berlutut dihadapan mu, maka masalah ini sudah selesai?" Tanya Pangeran Indra sambil masih terus bersikap tenang.
"Belum. Kau juga akan membantu ku untuk memikul rusa ini dipundak mu. Kau harus mengantarkannya langsung ke perkemahan kami!" Kata Putri Melur masih dengan lagaknya yang sombong.
"Putri. Kau sudah keterlaluan. Apakah begini cara putri kerajaan memperlakukan rakyat jelata?" Tanya Gayatri merasa tidak senang dengan perlakuan dari Putri Melur ini.
"Aku tidak berbicara dengan mu. Aku tau bahwa kalian adalah orang-orang dari rimba persilatan. Akan tetapi, aku adalah seorang putri dari raja Garingging. Kalian sebagai rakyat jelata harus mematuhi setiap perintah dari penguasa!" Bentak sang Putri tetap tidak mau kalah.
"Putri Melur. Izinkan hamba bertanya. Apakah hutan watu Sewu ini termasuk dalam kekuasaan kerajaan Garingging?" Tanya Senopati Arya Prana dengan lambut.
__ADS_1
"In--ini. Paman!" Kata Putri Melur kepada salah seorang tetua yang berada di belakangnya. Ini dia lakukan karena tidak bisa menjawab pertanyaan dari Senopati Arya Prana tadi.
"Jika orang tua yang berdiri dibelakang Gusti Putri tidak bisa menjawab, biarkan hamba yang hina ini menjawabnya. Setahu hamba, hutan watu Sewu ini adalah wilayah yang masih termasuk dalam kekuasaan kerajaan Galuh. Sedangkan kerajaan Garingging berada di sebelah bukit sana itu! Dengan demikian, maka seluruh titah Gusti Putri tidak berlaku di sini. Karena, kami bukanlah rakyat Garingging!" Tegas sang Senopati.
"Apakah benar apa yang dikatakan oleh orang tua ini, Paman Manggala?" Tanya sang Putri.
Dengan salah tingkah dan berat hati, lelaki tua itu pun terpaksa juga mengangguk. Hal ini tentu saja membuat mental sang Putri mendadak jatuh.
"Sudahlah! Aku sama sekali tidak keberatan. Gusti Putri silahkan berjalan di depan. Hamba akan mengangkat rusa ini untuk diantarkan ke perkemahan Gusti Putri," kata Indra Mahesa yang tidak tega melihat semburat merah di wajah gadis yang menahan malu itu.
"Paman. Segeralah kembali ke perkemahan. Sebentar lagi aku akan menyusul!" Bisik Indra Mahesa lalu memanggul tubuh rusa persengketaan itu di pundaknya kemudian mengikuti rombongan Putri Melur dari belakang.
__ADS_1
Sementara itu, Senopati Arya Prana, Panglima Rangga, Bayu Gatra, Andini dan Gayatri hanya memandang saja kepergian Pangeran Indra Mahesa dengan tatapan penuh kegeraman.
Bagi Senopati Arya Prana dan Panglima Rangga, hal ini jelas sudah menjatuhkan wibawa seorang pangeran karena diperlakukan seperti itu oleh orang lain.
Bagi Gayatri pula, dia merasa geram karena merasa cemburu. Walau bagaimanapun, putri dari kerajaan Garingging itu sangat cantik walaupun terkesan sangat judes. Ada rasa cemburu terbersit dalam hatinya.
"Sudahlah. Mari kita kembali ke pinggir kali. Aku khawatir meninggalkan Gusti Permaisuri terlalu lama. Di sana hanya ada Tumenggung Paksi. Aku khawatir ada gerombolan rampok yang bisa saja mencelakai Permaisuri!" Kata Senopati Arya Prana sambil melangkah mendahului yang lainnya.
"Ayo Gayatri! Kakang Indra pasti tidak akan kenapa-kenapa!" Kata Andini membuat Gayatri tergagap.
Mereka pun lalu meninggalkan tempat itu untuk kembali bersatu dengan rombongan mereka yang lain yang menunggu di pinggir kali watu Sewu.
__ADS_1