
Pangeran Indra yang telah menetapkan hatinya kini melangkah dengan langkah tegap memasuki aula Paseban yang di dalamnya tampak seluruh Mentri dan punggawa sepuh telah berada di tempat duduknya masing-masing.
Di singgasana, tampak Gusti Prabu Rakai Galuh duduk diapit oleh Permaisuri Galuh Cendana di sisi kanan dan Mahapatih Mahesa Galuh di sisi kirinya. Tampak juga di sana ada Gusti Prabu Kerta Rajasa bersama Putri Melur yang hanya tertunduk malu-malu menatap ke arah pangeran Indra Mahesa. Namun, begitu tatapan penuh kebencian mengarah kepadanya dari mata pemuda itu, gadis itu pun segera menunduk.
Pangeran Indra Mahesa terus melangkah dengan gagahnya memasuki aula itu dengan pakaian ketentaraan. Ada sebilah pedang dengan gagang kepala rajawali tersandang di bahu nya, sementara itu di pinggang tampak keris tumbal kemuning terselip.
Begitu dia tiba di depan kedua kakek dan ibunya, pemuda itu langsung berlutut sambil memberi sembah.
"Sembah untuk Kakek Prabu, sembah untuk Kakek Maha Patih, dan sembah untuk kanjeng Ibu," kata Pangeran Indra Mahesa dengan merapatkan jari tangannya di depan kening.
Melihat ini, Gusti Prabu Rakai Galuh sendiri langsung turun dari singgasananya dan mengangkat pundak pemuda itu.
"Bangunlah wahai pahlawan ku yang gagah perkasa. Kau telah membebaskan kerajaan Galuh ini dari rasa ketakutan. Kau adalah pahlawan sejati kerajaan Galuh. Bangunlah!"
Pangeran Indra Mahesa segera bangun dari posisi berlutut lalu segera duduk di dekat kaki ibunya.
"Kalian! Kedua putri calon pendamping pewaris tahta kerajaan Sri Kemuning, segeralah sambut kedatangan calon suami kalian!" Kata Gusti Prabu Rakai Galuh menunjuk ke arah Putri Melur dan Putri Sekar Mayang.
__ADS_1
Mendengar ini, kedua gadis itu dengan malu-malu membawakan sebuah tempat air lalu dengan cekatan, putri Sekar Mayang membuka terompah alas kaki milik pangeran Indra Mahesa dengan niat, hendak membasuh kaki pemuda itu.
"Tunggu! Tunggu dulu! Apa maksud dari semua ini? Apakah Kakek Prabu bisa menjelaskan kepada ku?" Tanya Pangeran Indra berpura-pura terkejut. Padahal dia sudah tau semuanya dari Kakeknya yang lain yaitu Adipati Rakai langit dan Adipati Panembahan Ardiraja.
"Mengapa kau seperti ketakutan, Indra? Aku akan kembali ke kerajaan Garingging dan meninggalkan Putri ku, Melur di sini untuk mendampingi mu, atau lebih tepatnya menjadi Istri mu," kata Gusti Prabu Kerta Rajasa sambil tersenyum.
"Apakah ini adalah keputusan sepihak? Aku baru kembali dari medan perang. Tapi sudah disuguhkan dengan hal-hal yang tidak aku sukai," kata Pangeran Indra lalu bangkit berdiri.
"Duduk lah, Putra ku! Ini bukanlah sebuah keputusan sepihak. Ibu juga telah merestui rencana pernikahan mu dengan Melur dan Sekar Mayang," kata Permaisuri Galuh Cendana pula.
"Dengan siapa kau menikah, Cucuku?" Tanya Gusti Prabu Rakai Galuh terkejut.
"Aku telah menikah di kota raja Sri Kemuning dengan Gayatri. Karena, hanya itu syarat agar aku menduduki tahta kerajaan Sri Kemuning. Setelah ini, aku akan segera berangkat ke puncak alam untuk menemui eyang Jari Malaikat untuk meresmikan pernikahan kami. Lalu, bagaimana mungkin aku bisa menikahi wanita lain?"
Prang!
"Lancang!"
__ADS_1
Terdengar suara cawan yang terbuat dari perunggu di banting di atas lantai oleh Gusti Prabu Rakai Galuh membuat semua orang yang berada di tempat itu terkejut.
"Kau hanya mengetahui syarat menikah saja untuk menduduki tahta kerajaan Sri Kemuning. Tapi kau tidak mengetahui gadis seperti apa yang memenuhi syarat untuk dinikahi oleh mu. Gadis itu harus berdarah biru. Jika tidak, kau telah melanggar adat istiadat yang telah ditetapkan oleh pendahulu mu," bentak Gusti Prabu Rakai Galuh dengan tangan bergetar menahan kemarahannya.
Keadaan yang sudah sangat panas di dalam aula Paseban itu kini semakin panas ketika Gusti Prabu Kerta Rajasa pun bangun dari duduknya.
"Indra Mahesa. Apakah putri ku begitu buruk untuk menjadi pendamping mu? Aku belum pernah merasa dipermalukan seperti ini di depan khalayak ramai. Aku adalah seorang raja yang berdaulat. Pantang bagi seorang raja untuk dipermalukan. Terlanjur basah, lebih baik aku mandi sekalian. Jika kau tidak menikahi Putri ku, maka kembali persiapkan pasukan mu dan aku akan kembali ke kerajaan Garingging untuk mempersiapkan pasukan ku. Kita bertemu di kali watu Sewu untuk berperang!" Bentak Prabu Kerta Rajasa.
Pangeran Indra Mahesa hanya bisa melongo dengan ancaman dari Prabu Kerta Rajasa ini. Bukannya dia takut untuk kembali berperang. Akan tetapi, harus berapa lagi nyawa prajurit yang akan terkorban di kedua belah pihak.
"Putra ku. Jika kau menuruti perkataan Ibu, terimalah pernikahan ini. Atau kau akan sama saja dengan Jaya Pradana yang haus darah?" Kata Permaisuri Galuh Cendana menasehati.
"Baik. Aku mengalah. Tapi jangan dikira bahwa aku takut berperang dengan kerajaan Garingging. Lima puluh ribu pasukan dari Paku Bumi pun bisa kami bantai tanpa sisa. Apa lagi hanya lima ribu prajurit kerajaan Garingging," kata Pangeran Indra Mahesa lalu kembali duduk.
"Apa lagi yang kalian tunggu? Cepat cuci kaki ku ini!" Bentak pangeran Indra Mahesa membuat Putri Melur dan Putri Sekar Mayang ketakutan dan segera kembali membuka terompa milik pemuda itu kemudian mencuci kakinya.
Bersambung...
__ADS_1