
"Gusti Pangeran.., hamba berdua telah melaksanakan perintah dari Gusti. Dan kini lihatlah di luar sana! Kami telah membeli sepuluh ribu ekor kuda, sepuluh ribu zirah perang, beserta sepuluh ribu pedang yang dibeli dari beberapa empu terkenal di kerajaan Galuh ini. Karena mereka sangat mencintai negri ini, mereka malah memberikan kita tambahan dengan masing-masing nya seribu. Ini termasuk kuda, Zirah dan peralatan prajurit lainnya," kata Tumenggung Paksi bersama dengan Raden Danu.
"Apakah kalian tidak menyisakan sedikitpun untuk Raden Danu? Itu adalah harta milik mertuanya yaitu Gusti Prabu Setra kencana,"
"Tidak mengapa, Gusti. Hamba rela. Asalkan seluruh rakyat Setra kencana terbebas dari penjajahan. Karena, jika negri kami masih di jajah, harapan bagi keluarga kerajaan yang masih selamat untuk kembali ke negerinya tidak akan pernah terwujud," kata Raden Danu. Dia merelakan seluruh harta yang terkubur di bawah pohon beringin itu dihabiskan untuk keperluan perlengkapan para prajurit yang sebentar lagi akan menghadapi peperangan besar.
"Aku berterima kasih kepada mu, Raden Danu. Kelak andai kita dapat menyingkirkan ancaman, kau boleh memimpin kembali kerajaan Setra kencana menggantikan Gusti Prabu Setra kencana," kata Pangeran Indra Mahesa sambil memegang kedua pundak Raden Danu.
"Hamba tidak berani, Pangeran. Cukup jadikan saja Setra kencana menjadi sebuah kadipaten. Kami akan dengan senang hati berada di bawah naungan kerajaan Sri Kemuning. Itu adalah salah satu dari ungkapan rasa syukur kami atas perjuangan yang Gusti lakukan,"
"Baiklah. Sekarang, mari kita lihat seluruh perlengkapan itu. Aku ingin mengadakan uji tanding antara seluruh prajurit yang ada di kadipaten Gedangan ini. Seluruhnya berjumlah dua puluh ribu prajurit. Setengahnya akan kita tinggalkan di kadipaten Gedangan ini untuk mempertahankan benteng, setengahnya lagi akan aku pimpin menuju ke lembah jati. Mari!" Ajak Pangeran Indra Mahesa.
"Mari, Gusti!" Kata mereka lalu segera keluar dari kemah tersebut.
Setelah mereka keluar dari tenda itu, kini Senopati Arya Prana, Tumenggung Paksi dan Adipati Rakai langit segera mengumpulkan semua prajurit.
Kini, di dalam benteng tersebut telah berkumpul dua pasukan yang masing-masing terdiri dari sepuluh ribu orang dalam satu kumpulan dan saling berhadap-hadapan.
"Dengar wahai prajurit ku! Aku ingin melakukan perang tanding dan akan menilai siapa-siapa saja diantara kalian yang berhak untuk masuk ke dalam pasukan inti. Jangan menggunakan senjata sungguhan kecuali pasukan pemanah. Bungkus mata tombak kalian dengan kain tebal agar tidak melukai lawan kalian. Gunakan pedang yang terbuat dari kayu!"
"Dengan ini, perang tanding di mulai!" Teriak Pangeran Indra Mahesa.
Begitu kata perintah telah turun, kini diantara mereka langsung memilih lawan masing-masing.
__ADS_1
Bagi pasukan bersenjata tombak, maka lawan mereka adalah prajurit yang bersenjatakan tombak. Bagi prajurit yang bersenjata pedang, maka lawannya adalah prajurit yang bersenjatakan pedang pula. Bagi prajurit pemanah, maka mereka melakukan pertandingan memanah sasaran dengan tepat.
Di sisi lain, sekitar empat ribu pasukan berkuda mulai menunjukkan kepiawaian mereka dalam mengendalikan kuda tunggangan mereka dengan melewati sungai, bukit kemudian kembali ke benteng.
Berbagai halangan dan rintangan terus berdatangan bagi menguji kehebatan penunggang kuda ini.
Ramai yang berhasil melewati rintangan. Namun, tidak sedikit pula yang gagal. Bahkan tidak jarang mereka terluka karena tidak bisa menghindari ujian yang mereka hadapi.
Dari atas menara pengintai paling tinggi, pangeran Indra Mahesa tampak ditemani oleh Senopati Arya Prana menilai siapa-siapa saja diantara mereka ini yang layak terpilih. Dan ternyata, para prajurit muda mendominasi pasukan yang terpilih untuk diikut sertakan ke lembah jati.
*********
Sementara itu, kita tinggalkan dulu latihan uji tanding yang dilakukan oleh Pangeran Indra Mahesa bagi memilih pasukan inti yang akan dia bawa ke lembah jati. Kini, mari kita lihat keadaan di perkemahan milik pasukan dari Paku Bumi.
Menjelang malam, Seluruh pasukan Paku Bumi telah menarik diri meninggalkan pinggiran hutan yang berjarak sekitar sepuluh mil dari pinggir benteng pertahanan di kadipaten Gedangan dan kini mereka telah tiba di kota raja kerajaan Setra kencana.
Jaya Pradana benar-benar sangat murka dengan keadaan ini sampai-sampai dia berteriak histeris karena tidak tau harus meluapkan kemarahannya entah kepada siapa.
Tidak seorangpun prajurit yang dia tugaskan untuk menjaga istana itu dalam keadaan selamat. Semuanya tergeletak dalam keadaan tidak bernyawa, bahkan sebagian ada yang hangus terbakar.
"Bangsaaaaat! Setan mana yang melakukan semua ini?" Teriakannya menggelegar.
Tidak seorangpun yang berani mengangkat kepala apalagi menjawab. Mereka semua hanya tertunduk karena takut terhadap murka dari raja lalim bertangan besi itu.
__ADS_1
"Raka Pati! Siapkan seluruh pasukan! Kita tidak jadi beristirahat di istana ini. Segera kembali ke kerajaan Sri Kemuning kemudian lanjutkan lagi perjalanan menuju ke lembah jati!" Kata Raja Jaya Pradana memberikan perintah.
Untuk apa lagi mereka singgah di bekas istana kerajaan Setra kencana ini.
Tidak ada lagi yang bisa dijadikan untuk tempat berlindung karena semuanya sudah menjadi debu.
Para penduduk di bekas kota raja ini juga sudah minggat entah kemana. Mungkin mereka mengungsi ke dalam hutan begitu mengetahui rombongan pasukan besar yang dipimpin langsung oleh Raja Jaya Pradana memasuki kota raja ini, sehingga membuat mereka harus menyingkir demi selamat.
"Sendiko dawuh Gusti Prabu!" Kata Raka Pati, lalu diapun berteriak memerintahkan agar mereka menyudahi istirahat nya lalu segera berangkat untuk melakukan perjalanan malam itu juga menuju ke kerajaan Sri Kemuning.
Banyak diantara prajurit yang merasa keberatan dengan perintah ini. Setelah seharian yang melelahkan dalam perjalanan, ternyata begitu tiba di kota raja kerajaan Setra kencana ini, mereka malah kembali di suruh untuk melanjutkan perjalanan. Ini yang membuat mereka merasa bahwa peperangan kali ini benar-benar menguras tenaga.
"Aku lebih baik lelah dalam peperangan daripada lelah dalam perjalanan. Ini sungguh sesuatu yang bodoh menurut ku," kata salah seorang prajurit berbisik kepada temannya.
"Sssst..! Jaga bicaramu! Nanti kalau ada yang mendengar, lidah mu bisa di potong!" Tegus sahabatnya itu.
"Baru kali ini aku melihat mereka seperti ketakutan menghadapi pasukan dari kerajaan lain. Selama ini, mereka begitu percaya diri,"
"Mungkin ini karena Gusti Patih Raka Pati yang gagal menjebak prajurit kerajaan Galuh dan juga apa yang menimpa terhadap diri Pratisara," jawab prajurit itu.
"Sepertinya kali ini kita menghadapi lawan yang cukup tangguh,"
"Ah... Sudahlah! Mari kita bersiap-sedia untuk melanjutkan kembali perjalanan. Nanti jika Gusti Prabu Jaya Pradana melihat kita bermalas-malasan, bisa dibunuhnya kita di sini," kata prajurit itu lalu bangkit dari duduknya.
__ADS_1
Didahului oleh pasukan berkuda yang mengawal sebuah kereta kencana yang ditarik oleh empat ekor kuda, rombongan pasukan itupun mulai meninggalkan bekas istana kerajaan Setra kencana yang hanya tinggal puing-puing saja.
Bersambung...