Pangeran Tanpa Mahkota

Pangeran Tanpa Mahkota
Kecurigaan terhadap Larkin


__ADS_3

Pangeran Indra Mahesa tampak berdiri di pinggiran sebuah kali berair jernih sambil memperhatikan sekumpulan anak ikan yang tampak sedang memperebutkan sisa makanan yang dilemparkan oleh Pangeran Indra ke dalam air.


Pikirannya saat ini benar-benar tertumpu pada penjelasan dari Larkin yang dia rasakan sangat janggal rasanya.


Tadi, Panglima Pratisara juga telah mengatakan bahwa seluruh penjelasan dari Larkin ini jangan dipercaya dan terasa sangat aneh.


Awalnya tidak ada yang mengetahui bahwa sisa-sisa prajurit dari Sri Kemuning yang berdiam di dalam hutan lembah jati. Baru setelah Larkin bersama dengan rombongannya memasuki kawasan lembah jati lah yang menyebabkan Jaya Pradana begitu yakin dengan keberadaan sisa pasukan kerajaan Sri Kemuning.


Memang mereka mencurigai bahwa lembah jati dijadikan markas. Tapi itu hanya markas perampok dan bukan markas sisa pasukan kerajaan Sri Kemuning.


Yang ke dua, semua prajurit yang diutus oleh Gusti Prabu Rakai Galuh terbunuh kecuali Larkin. Atas kabar yang dibawa oleh Larkin pula lah, Gusti Prabu Rakai Galuh mengirimkan pasukan seramai dua ribu lima ratus orang ke lembah jati.


Setelahnya, pasukan itu terkepung dan dibantai tanpa kubur. Memang ada yang masih selamat. Namun keadaan mereka sungguh sangat mengenaskan. Berbeda dengan Larkin. Sedikitpun dia tidak terluka.


"Ada yang sedang Pangeran pikirkan?" Tanya satu suara dari arah belakang membuat Pangeran Indra harus menolah untuk melihat siapa yang datang.

__ADS_1


"Paman Senopati?!" Kata Pangeran Indra Mahesa menyapa.


"Apa yang sedang Pangeran pikirkan?" Tanya Senopati Arya Prana.


Sebenarnya doa sudah dapat menangkap apa yang dipikirkan oleh Indra Mahesa ini. Namun, untuk lebih membuktikan lagi dugaannya, dia sengaja bertanya langsung.


"Masalah Larkin ini, Paman. Bagaimana menurutmu?" Tanya Pangeran Indra.


"Pangeran mencurigai orang ini?" Tanya Senopati Arya Prana.


"Biarkan saja, Pangeran. Dia hanya mengetahui bagian luarnya saja. Namun tidak di bagian dalamnya. Kita beri dia waktu untuk melaporkan kedudukan kita. Lalu, lihat bagaimana mereka menangkap umpan yang kita berikan,"


"Apa Paman punya rencana? Coba katakan agar kita bisa bertukar pendapat," pinta Pangeran Indra Mahesa.


"Jika Larkin ini adalah mata-mata yang dikirim oleh musuh, maka sudah tidak ada gunanya lagi kita melakukan perjalanan malam dan beristirahat di siang hari. Kita berangkat seperti biasa saja. Berikan tugas-tugas kepada Larkin ini yang memungkinkan dia bisa sesegera bertemu dengan para begundal Jaya Pradana.

__ADS_1


"Apa itu tidak terlalu berbahaya, Paman?"


"Resiko memang perlu untuk di ambil. Gusti Pangeran tentunya tidak ingin salah dalam menjatuhkan tangan kasar sebelum mengetahui kebenarannya. Bukankah begitu pangeran?!" Tanya Senopati Arya Prana.


"Aku akui bahwa aku masih sangat rendah pengalaman dalam menghadapi keadaan seperti ini. Berbanding dengan Paman yang sudah cukup asam garam hidup dalam ketatanegaraan. Aku meminta tunjuk ajar dari Paman!" Kata Pangeran Indra Mahesa bersungguh-sungguh.


"Pangeran. Saat ini perjalanan kita tinggal dua hari lagi jika tidak ada halangan. Tugaskan Larkin ini untuk memata-matai pergerakan pasukan Jaya Pradana. Utus seseorang dari rimba persilatan untuk membuntuti Larkin ini. Kemudian, kita akan lihat. Seperti apa wajah Larkin ini sesungguhnya. Jika dia berkhianat, maka setelah dia kembali, selesaikan saja. Namun, andai dia tetap setia, maka orang ini wajib untuk diberi jabatan yang lumayan,"


"Bagaimana jika Larkin ini memberitahu kekuatan kita. Lalu, mengatakan jumlah prajurit yang kita miliki. Bukankah ini akan menggali kubur sendiri, Paman?"


"Inilah gunanya mengutus Larkin ini selagi perjalanan kita masih menyisakan dua hari lagi. Setelah itu, kita akan membuat helah seolah-olah...," Lalu Senopati Arya Prana pun berbisik ke telinga Pangeran Indra Mahesa.


"Hmmm... Gagasan Paman cukup masuk akal juga. Baiklah! Bertindaklah sewajarnya kepada Larkin ini. Aku ingin segera mengetahui. Andai dia berkhianat, maka ikat saja dia di salah satu pohon di hutan ini. Biarkan tubuhnya menjadi santapan serigala buas!" Kata pangeran Indra Mahesa.


"Sendiko dawuh Gusti Pangeran!" Jawab Senopati Arya Prana sambil menjura.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2