
Kokok ayam jantan kini memecah keheningan malam menandakan sudah masuknya waktu subuh meninggalkan malam.
Tepat ketika Kokok ayam yang ke dua kalinya, kini dua sosok tubuh kelihatan sedang melesat lalu hinggap di atas tembok istana kerajaan Setra kencana.
Begitu tiba di atas tembok, kedua orang itu tampak merebahkan tubuh mereka sama rata dengan batu tembok itu sambil memperhatikan keadaan di sekelilingnya.
"Gusti.., ada sekitar seratus orang prajurit yang menjaga istana itu," kata Senopati Arya Prana berbisik.
"Paman Senopati. Coba Paman alihkan perhatian mereka ke belakang. Aku akan memanfaatkan waktu yang sedikit untuk mencoba mengorek tanah di sekitar pohon beringin di dekat kita ini," kata Pangeran Indra.
"Baik, Gusti!" Kata Senopati Arya Prana lalu segera melompat ke arah dahan pohon beringin tersebut ke pohon beringin lainnya kemudian langsung menjejakkan kakinya di atas atap istana untuk terus ke bagian belakang.
Sementara itu, Pangeran Indra juga telah melihat dua orang penunggang kuda semakin mendekat ke arah tembok istana itu.
Dengan mengirim suara menggunakan tenaga dalam, pangeran Indra pun memerintahkan agar mereka berdua sebaiknya menuntun saja kuda tunggangan mereka agar tidak menimbulkan kecurigaan.
Tidak sampai sepeminuman teh, kini terlihat kobaran api di bagian halaman belakang istana yang luas itu membuat para prajurit yang tadi sedang berjaga di bagian depan mulai panik lalu segera mengalihkan perhatian mereka ke bagian belakang.
Jerit dan teriakan kini menggema memekakkan telinga di malam menjelang subuh itu.
Seluruh prajurit kini bergegas mengambil tong untuk mengangkut air demi memadamkan kobaran api yang semakin lama semakin melahap bagian belakang istana kerajaan Setra kencana itu.
__ADS_1
Melihat tidak seorangpun lagi prajurit penjaga yang berjaga di bagian depan istana itu, kesempatan ini langsung dimanfaatkan oleh Pangeran Indra Mahesa untuk meluruk turun dan mendarat tepat di bawah pohon beringin yang berada di bagian tengah-tengah antara empat pohon beringin lainnya.
Sesuai dengan petunjuk yang diberikan oleh Raden Danu, pangeran Indra Mahesa kini mengeluarkan ajian Lebur Wesi miliknya dan kini, telapak tangan yang telah berubah menjadi merah bara itu mulai mengorek tanah disekitar pohon beringin tersebut.
Tuk!
Terdengar benda keras berbenturan dengan ujung jemari tangan pangeran Indra Mahesa.
"Mungkin ini lah peti yang dikatakan oleh Raden Danu itu," kata Pangeran Indra Mahesa sambil mempercepat gerakannya mengorek tanah tersebut.
Kini, tampak lubang besar di bawah pohon beringin itu.
"Hmmm... Ini dia!" Kata Pangeran Indra lalu mengangkat sebuah peti berukuran sedang kemudian memeriksa isi dari peti tersebut.
Kini pangeran Indra Mahesa kembali mengorek tanah di sekitar pohon beringin itu dan kemudian menemukan lagi satu peti berukuran sama dengan peti sebelumnya.
Kembali Pangeran Indra Mahesa membuka peti tersebut dan kini dia melihat berbagai perhiasan terbuat dari emas dan batu mulia.
Tanpa menunggu waktu lagi, dia kembali melemparkan peti itu ke luar, yang langsung disambut oleh Raden Danu.
"Kalian segera kembali dan jangan menunggu ku!" Perintah Pangeran Indra Mahesa.
__ADS_1
"Gusti sendiri?" Tanya Raden Danu.
"Aku akan membantai prajurit Paku Bumi sialan ini. Biarkan Jaya Pradana tau bagaimana rasanya di rampok," kata Pangeran Indra menjawab pertanyaan dari Raden Danu.
Begitu selesai berkata seperti itu, Pangeran Indra Mahesa langsung melesat turun ke bawah kemudian berlari ke arah belakang bangunan istana.
Di sana dia sudah melihat bahwa Senopati Arya Prana telah di kepung oleh puluhan prajurit.
Tanpa ba bi bu lagi, pangeran Indra Mahesa langsung melapisi telapak tangannya dengan ajian tampak suci lalu segera mengamuk memukul dan menendang para prajurit yang sedang mengepung Senopati Arya Prana.
Serangan yang datang secara tiba-tiba dan membabi-buta itu kontan saja membuat pengepungan itu menjadi buyar dan berantakan.
Laksana banteng yang terluka, Senopati Arya Prana dan Pangeran Indra Mahesa membabat seluruh prajurit yang berada di tempat itu hingga nyaris tak bersisa.
Bau anyir darah kini sungguh menyengat hidung disertai bau mayat yang ikut terbakar bersama dengan bangunan yang terdapat di bagian belakang istana itu.
"Sudah Paman? Kalau sudah, mari kita kembali!" Ajak Pangeran Indra Mahesa sambil memperhatikan mayat-mayat prajurit Paku Bumi yang tergeletak tumpang tindih.
"Mari Pangeran!" Kata Senopati Arya Prana lalu mendahului melompat kebagian luar tembok.
Jangan lupa like nya ya!
__ADS_1
Bersambung...