Pangeran Tanpa Mahkota

Pangeran Tanpa Mahkota
PANGERAN TANPA MAHKOTA


__ADS_3

Pagi yang tenang dan cerah itu semakin lengkap terasa dengan kicauan burung-burung yang tampak hinggap di ranting pohon. Ada yang menyendiri, ada yang bergerombol, ada pula yang sedang menggoda pasangannya.


Di puncak gunung sumbing, tampak kabut belum sepenuhnya sirna karena matahari masih baru saja menampakkan wujudnya dengan warna keemasan dan sinar nya yang menyapa dengan kehangatan yang masih sangat bersahabat.


Biasanya pagi-pagi seperti ini para penduduk desa kaki gunung sumbing ini telah bersiap-siap dengan aktivitas mereka masing-masing.


Para petani tampak dengan peralatan pertanian mereka masing-masing mulai berjalan saling beriringan menuju ke pematang sawah. Ibu-ibu pula sibuk menganyam tikar pandan sedangkan para gadis-gadis menenteng rinjing berisi pakaian untuk di cuci di sungai sambil sesekali digoda oleh beberapa pemuda ketika mereka berpapasan di jalan.


Anak-anak gembala mulai mengembalakan ternak menuju ke padang rumput nan luas membentang sambil terkadang meniup seruling. Ada yang merdu dan ada pula dengan suara yang tidak beraturan. Sungguh indah dan damai kehidupan di kampung ini.


Di sebuah gubuk reyot, tampak seorang anak berusia sekitar tujuh tahun duduk termenung di depan tangga. Sesekali dia tampak memainkan ujung sutra kuning bersulam emas yang terikat di pinggangnya. Sebilah keris tampak terselip di pinggang anak itu.


Berulang kali dia menggaru-garu keningnya seolah-olah ada yang sedang dipikirkannya.


"Eyang. Tadi malam aku bermimpi bertemu dengan seorang raja. Katanya aku ini adalah cucunya. Hanya saja aku tidak sempat menanyakan siapa nama dan di kerajaan mana raja yang berada dalam mimpiku itu berasal," kata anak itu sambil menatap sayu ke arah seorang lelaki tua yang sedang menikmati secangkir kopi bertemankan beberapa potong singkong rebus. Tampak sebatang rokok Kawung terselip diantara bibirnya.


"Apa saja yang dia katakan di dalam mimpi mu itu Indra?" Tanya lelaki tua itu kepada anak bernama Indra tadi.


"Dia hanya bilang bahwa aku harus menolongnya. Menolong rakyat dan kerajaannya,"


"Eyang. Sebenarnya aku ingin bertanya. Jika aku ini adalah cucu mu, maka siapa orang tua ku?" Tanya Pangeran Indra.


Terdengar nafas berat yang dilepaskan oleh lelaki tua itu begitu mendapat pertanyaan dari anak berusia tujuh tahun ini.

__ADS_1


Dia mau menjawab apa? Dia juga tidak tau siapa orang tua dari anak ini. Selama ini dia hanya menduga-duga saja bahwa Indra ini adalah seorang anak bangsawan. Setidaknya anak dari seorang Adipati. Mengingat barang-barang yang ada pada dirinya ketika terjatuh ke dalam jurang di lembah bangkai tujuh tahun yang lalu adalah barang-barang yang tidak sembarang orang bisa memiliki.


"Indra. Sebaiknya kau belajar dengan giat. Kelak, eyang akan menceritakan semuanya kepada mu. Saat ini percuma. Kau masih terlalu kecil dan tidak akan bisa memahami apa yang akan eyang katakan. Maka dari itu, belajar yang rajin. Kelak kau akan tau siapa orang tua mu," kata eyang Santalaya beralasan.


"Bener ya Eyang! Kalau begitu aku akan belajar bersungguh-sungguh," kata Indra Mahesa.


*********


Waktu begitu cepat berlalu dan tidak akan pernah menunggu kita.


Setelah kemarin adalah sebuah kenangan, hari ini adalah kenyataan dan hari esok adalah harapan, tanpa terasa Indra Mahesa telah di gembleng di kaki gunung sumbing ini selama kurang lebih 17 tahun.


Kini Indra Mahesa tumbuh menjadi seorang pemuda yang tampan, tegap dan tangkas.


Pemuda yang biasa mengenakan celana putih, baju tanpa lengan yang juga berwarna putih, dengan sehelai sutra kuning bersulam emas mengikat di pinggangnya, Indra Mahesa kini menjelma dari orok menjadi remaja yang tangguh serta pilih tanding. Bahkan tidak jarang ketampanan Indra Mahesa ini menjadi buah bibir di kalangan dunia persilatan.


Bisik-bisik pun kerap terjadi diantara mereka ketika Pangeran Indra ini berada di kampung lereng gunung sumbing untuk sekedar membeli keperluan mereka sehari-hari.


Banyak para bujangan di desa itu merasa iri dengan ketampanan yang dimiliki oleh Pangeran Indra ini. Sehingga tidak jarang diantara mereka yang menggelar pemuda itu dengan sebutan PANGERAN TANPA MAHKOTA. Ini karena, perawakan yang tegap, kulit putih bersih, rambut lurus hitam melewati bahu, serta tutur kata yang penuh kesopanan benar-benar tidak layak dikatakan seorang pemuda kampung biasa.


Sama seperti hari-hari sebelumnya, hari ini Pangeran Indra tampak sedang giat berlatih jurus-jurus silat yang diajarkan oleh kedua gurunya itu secara berganti-ganti.


Terkadang Pangeran Indra harus melakukan lawan tanding dengan melawan kedua gurunya itu sekaligus sehingga tidak jarang pemuda ini jatuh bangun dalam menghindar serangan.

__ADS_1


Hari ini Pangeran Indra tampak sedang bertukar serangan dengan gurunya yaitu Eyang Santalaya.


Dengan menggunakan jurus langkah sakti, dia berhasil mementahkan setiap serangan yang dilancarkan oleh eyang Santalaya tersebut sambil sesekali balas menyerang.


Jurus langkah sakti ini adalah jurus pertahanan dari serangan lawan. Tampak jurus ini seperti tidak beraturan. Terkadang doyong ke kiri, meliuk ke kanan, berjongkok dan berjingkrak seperti monyet kebakaran ekor. Namun walau terkesan nyeleneh, tidak satupun serangan yang bisa menyentuhnya.


"Bagaimana Eyang? Apakah jurus langkah sakti ku sudah matang?" Tanya pangeran Indra sambil terus menghindar dari serangan sang guru.


"Jurus langkah sakti mu ini sudah lumayan. Hanya saja butuh diperhalus lagi dengan cara sering latihan. Kelak kau akan mampu meneruskan keharuman nama kami di persada rimba persilatan," jawab eyang Santalaya memuji.


"Indra. Kau tidak boleh cepat berbangga diri. Untuk menjadi begundal pasar, mungkin ilmu silat mu itu sudah cukup bagus. Tapi, untuk merambah kerasnya kehidupan di dunia persilatan, kemampuan mu itu belum ada apa-apanya. Kau masih perlu terus melatih ajian tapak suci, lebur Wesi, dan pukulan tapak maut. Ketika ketiga pukulan itu mampu kau kuasai dengan baik, aku yakin kau akan menjadi seorang pendekar yang pilih tanding,"


Terdengar suara seorang wanita tua baru saja keluar dari dalam gubuk reyot tempat mereka berteduh dari panas dan hujan selama tujuh belas tahun ini.


"Indra mengerti eyang Putri. Aku akan terus mengasah kemampuan ku," kata Indra berjanji.


"Sampai saat ini aku heran. Dari mana kau mendapatkan tenaga dalam yang begitu besar. Ketika kau masih bayi, tangisan mu mampu menggetarkan atap gubuk ku ini. Berumur tujuh tahun, kau bahkan tidak terpengaruh dengan ajian yang dilepaskan oleh Gagak Rimang. Menurut taksiran ku, butuh setidaknya empat puluh tahun berlatih untuk memiliki tenaga dalam seperti yang kau miliki ketika berumur tujuh tahun dulu," kata Bidadari kipas perak mengungkapkan keheranannya.


"Mana aku tau, Eyang. Kan guru ku hanya kalian berdua. Seharusnya kalian lebih tau daripada aku," jawab Indra sambil menggaru-garu jidatnya.


"Aku menduga, sepertinya ada seseorang yang telah memindahkan seluruh kesaktian dan tenaga dalamnya ke dalam tubuh mu. Heh anak setan bagus! Kau harus bisa membangkitkan kekuatan yang tersembunyi di dalam diri mu. Kami akan membantumu dengan cara kami. Saat ini kekuatan tenaga dalam yang kau miliki sudah terlalu besar. Tidak perlu di tambah. Hanya perlu di asah lagi agar bisa kau gunakan seperlunya,"


"Indra memohon bimbingan dari Eyang berdua," kata Pangeran Indra sambil berlutut.

__ADS_1


"Kau ini memang begitu. Jika ada maunya saja, baru memelas seperti orang kekurangan makan. Coba jika sontoloyo mu kambuh. Kau sama sekali tidak mau latihan. Dasar anak sontoloyo," kata eyang Santalaya sambil beranjak untuk duduk di dipan bambu di depan gubuk reyot milik eyang Kunti itu.


Bersambung...


__ADS_2