Pangeran Tanpa Mahkota

Pangeran Tanpa Mahkota
Bidadari Kipas Perak


__ADS_3

Seorang lelaki tua tampak sedang berlari kencang sambil menggendong sesuatu yang terbungkus dalam kain sutra kuning bersulam emas.


Andai ada yang melihat seperti apa lelaki tua yang kurus kering hanya tinggal kulit pembungkus tulang itu berlari, pastilah orang akan sepakat mengatakan bahwa orang tua itu dari kalangan rimba persilatan.


Dari gayanya berlari menginjak rerumputan dan ranting kering namun ranting lapuk itu tidak patah, hal itu saja sudah menandakan bahwa ilmu meringankan tubuh lelaki tua itu sudah mencapai taraf kesempurnaan.


Siapa lelaki tua itu sebenarnya? Lalu apa pula bungkusan kuning yang dia gendong tersebut?


Lelaki tua ini tidak lain dan tidak bukan adalah eyang Santalaya. Dan sesuatu yang dia gendong di dalam kain sutra kuning bersulam emas itu tidak lain adalah Indra Mahesa. Putra Mahkota yang bernasib malang.


Lalu, mengapa sampai eyang Santalaya yang sudah mengundurkan diri dari dunia persilatan itu harus keluar dari pertapaannya? Jawabannya adalah, dia tidak mengerti mengurus seorang bayi.


Sejak kemarin Pangeran Indra menangis dan tidak mau diam. Hal ini membuat mantan tokoh nomor satu aliran putih di dunia persilatan ini menjadi kelabakan. Karena, seumur hidup dia tidak pernah merawat seorang bayi.


Sambil memutar otak, dia lalu teringan mantan terindah dalam hidupnya yang juga sudah sama-sama mengundurkan diri dari dunia persilatan dan menyepi di kaki gunung sumbing.


Dahulu kala, ketika masih sama-sama muda, eyang Santalaya dan Kunti bawuk adalah sepasang pendekar yang pilih tanding.


Malang melintang di dunia persilatan demi membasmi angkara murka, pasangan ini sangat ditakuti ketika masa-masa jayanya.

__ADS_1


Entah karena sama-sama ego, atau sibuk dengan urusan dunia persilatan, membuat sepasang kekasih ini urung menikah dan akhirnya sama-sama tua lalu mencari tempat masing-masing untuk menyepi.


Teringat akan mantan terindahnya itu, membuat eyang Santalaya tidak mau membuang-buang waktu lagi. Dia langsung menyelipkan keris tumbal kemuning ke pinggang, membungkus tubuh pangeran Indra dengan kain sutra kuning yang dia dapatkan bersama dengan tubuh sang anak yang terjun melayang beberapa hari yang lalu, dan langsung mengempos seluruh ilmu meringankan tubuhnya untuk segera sampai di gunung sumbing.


"Diam lah anak nakal! Jangan menangis terus! Sebentar lagi kita akan sampai di kaki gunung sumbing. Di sana nanti kita akan bertemu dengan eyang Kunti. Dia pasti sangat senang dengan keberadaan mu." Kata eyang Santalaya sambil terus berlari kencang.


Ada rasa khawatir yang teramat sangat terpancar dari tatapan matanya ketika melihat ke arah wajah anak bayi itu yang masih terus menangis itu.


Semakin dia melihat ke arah wajah itu, semakin khawatir hatinya, semakin kencang pula dia berlari sehingga kini yang terlihat hanya bayangan putih saja melesat bagai anak panah yang lepas dari busurnya.


"Itu dia kaki gunung sumbing sudah kelihatan. Jangan menangis lagi ya sayang eyang!" Kata eyang Santalaya lagi sambil hinggap di ujung daun lalang lalu melesat ke ujung lalang lainnya.


*********


Gunung sumbing


Di kaki gunung bagian timur terdapat hamparan ladang yang subur. Sementara di bagian barat terdapat satu kerajaan kecil bernama kerajaan Garingging.


Di sebuah gubuk reyot di dalam hutan di kaki gunung sumbing ini, tampak seorang wanita berpakaian kebaya usang dan celana gombor yang sudah tujuh warna antara pudar, daki, dan lain sebagainya.

__ADS_1


Di kalangan rimba persilatan, wanita tua ini di kenal dengan nama Kunti Bawuk.


Ketika masih muda, orang-orang di rimba persilatan memberinya gelar, Bidadari kipas perak. Ini karena, senjata andalan nya adalah sebuah kipas baja yang sangat tajam. Apa bila sudah dikeluarkan, maka dia akan berubah menjadi momok yang paling menakutkan bagi kaum golongan hitam.


"Aneh sekali. Mengapa dalam dua hari ini aku selalu kepikiran lelaki tua setan si Santalaya itu? Apakah dia dalam keadaan baik-baik saja atau malah sudah dimakan oleh cacing tanah?" Gumamnya dalam hati.


Sejenak terlintas di dalam benaknya ketika mereka masih sama-sama muda pada puluhan tahun silam.


Waktu itu dia masih sangat muda, cantik, berkulit putih bersih, selain memiliki kemampuan ilmu silat yang tinggi. Namun itu hanya tinggal kenang-kenangan belaka.


Kini dia hanya bisa mengingat masa-masa dulu di mana dia bersama dengan Wiratama saling bahu membahu menumpas angkara murka.


Hal yang paling tidak dapat dia lupakan adalah ketika mereka berdua bersama-sama mendapat tugas dari sesepuh golongan putih untuk menumpas komplotan rampok yang diketuai oleh Warok Giling Wesi yang selalu meresahkan rakyat jelata.


Ketika itu, mereka berdua langsung memberantas puluhan anak buah Warok Giling Wesi. bahkan, mereka berhasil memenggal kepala gembong rampok itu dan menggantung nya di alun-alun kadipaten Martapura.


Kini semuanya hanya tinggal kenangan saja.


Ketika masih muda, masih berjaya, semua orang akan mengelu-elukan. Kini, ketika sudah tua, sudah tidak memiliki apa-apa lagi untuk dibanggakan, Bidadari kipas perak mulai tersisih bahkan sudah mulai terlupakan.

__ADS_1


Hanya sedikit saja dari angkatan tua di dalam dunia persilatan yang masih mengenali mereka.


Walaupun nama mereka harum dan sering menjadi buah bibir di kalangan angkatan muda dunia persilatan, namun mereka hanya tau nama. Andai bertemu pun mungkin mereka tidak akan mengira bahwa wanita tua ini lah yang dulu menggemparkan dunia persilatan dengan gelar, Bidadari kipas perak.


__ADS_2