
Di dalam kemah kini tampak Pangeran Indra Mahesa, Senopati Arya Prana dan Panglima Rangga sedang mendiskusikan sesuatu.
Mereka bertiga kini tampak serius membahas segala perencanaan yang sudah mereka bahas kemarin.
"Paman Senopati.., segera perintahkan kepada para prajurit untuk menebang pohon bambu! Kita akan segera membuat obor sebanyak mungkin. Pasukan pertama akan berangkat dengan dipimpin oleh Kakek Adipati Rakai langit. Nanti malam, keberangkatan mereka harus segera di mulai. Menurut perkiraan, mereka akan tiba di waktu subuh. Setelah itu, mereka wajib mendirikan kemah sebanyak-banyaknya di sepanjang bukit di dekat benteng pertahanan!" Kata Pangeran Indra Mahesa memberikan perintah.
"Hamba siap melaksanakan perintah!"
"Baiklah! Mari kita semua bekerja sama. Sudah tidak banyak lagi waktu yang tersisa," kata Pangeran Indra Mahesa lalu bangkit dari duduknya kemudian mengambil sebilah pedang.
__ADS_1
Kehadiran sang Pangeran Indra yang ikut terjun langsung untuk membantu para prajurit melakukan pekerjaan membuat semua orang yang terlibat menjadi bersemangat.
Sambil bernyanyi ala keprajuritan, mereka kini menebang pohon bambu, memotongnya menjadi bagian-bagian pendek, kemudian mengisinya dengan minyak lalu menyumbat kan kain di moncong bambu itu sehingga kini ada puluhan ribu potongan-potongan bambu berbentuk obor yang siap untuk dipakai.
Tidak berlangsung lama, kini kerja-kerja pembuatan obor itu pun selesai.
Untuk menunggu waktu malam, mereka kini beristirahat untuk melepaskan lelah secara bergantian bagi mengisi kembali tenaga mereka yang terkuras.
"Untuk peperangan ini, kakek sudah cukup banyak menderita. Kakek sudah terlalu siap sejak mengetahui bahwa mereka akan menyerang ke kerajaan Galuh ini. Oleh karena itu, kau beri saja perintah, maka akan kakek laksanakan!" Jawab Adipati Rakai langit. Dia adalah adik kandung Gusti Prabu Rakai Galuh. Hanya saja, dia terlahir dari seorang selir.
__ADS_1
"Kadipaten Gedangan adalah kadipaten kekuasaan yang kakek Rakai langit pimpin. Tentunya kakek lebih arif tentang kawasan itu. Oleh karena itu, malam ini, sesuai dengan rencana yang telah kita susun, maka para prajurit pejalan kaki seramai empat ribu orang akan berangkat terlebih dahulu. Setiap prajurit harus memegang dua obor yang menyala. Ini semua untuk mengelabui pihak lawan, agar mereka mengira bahwa prajurit yang datang berjumlah delapan ribu orang,"
"Dari mana kau mendapatkan taktik seperti itu, Cucuku?" Tanya Gusti Adipati Rakai langit.
"Aku banyak membaca tentang pasukan yang lebih kecil dapat mengelabui pasukan lawan yang lebih besar. Sebenarnya dalam peperangan ini, kemenangan bukanlah ditentukan dengan jumlah. Melainkan semangat berpasukan. Ketika semangat mereka turun, mereka akan kehilangan kepercayaan diri. Dengan begini, kita bisa mengulur waktu dan bisa mengalihkan perhatian musuh,"
"Kau memang sangat cerdas. Tapi, apakah itu bisa membantu? Bagaimana jika mereka mengetahui bahwa sebenarnya kekuatan kita tidak sampai sebanyak itu?" Tanya Adipati Rakai langit.
"Mereka akan percaya. Itulah mengapa aku melepaskan para pengkhianat ini untuk segera memberikan laporan kepada tuan nya. Mereka pasti akan percaya bahwa kita mendapat bantuan dari kerajaan Garingging dan Padepokan jati Anom. Itulah kenapa aku meminta kakek untuk berangkat duluan. Kemudian akan ada lagi pasukan demi pasukan yang menyusul secara bertahap. Ini berguna sekali dalam taktik. Mereka akan mengira bahwa pasukan bantuan akan benar-benar tiba tepat waktu sehingga, mereka akan berfikir untuk memulai serangan," kata Pangeran Indra Mahesa mengemukakan alasannya.
__ADS_1
"Baiklah. Mari kita bersiap-sedia. Kakek akan beristirahat sejenak untuk melanjutkan perjalanan malam ini,"
"Silahkan kakek beristirahat!" Kata Pangeran Indra Mahesa sambil menjura hormat.