Pangeran Tanpa Mahkota

Pangeran Tanpa Mahkota
Pembantaian terakhir


__ADS_3

Sementara itu, prajurit berkuda mulai menabrak ke arah bulatan pasukan prajurit dari Paku Bumi yang tersisa itu bagi membuka ruang bagi prajurit lainnya untuk memasuki formasi bulan penuh dari pihak lawan.


Formasi bulan penuh memang sering digunakan oleh pasukan yang hampir kalah dalam peperangan.


Ketika mereka sudah dalam keadaan terkepung dan tidak ada lagi celah untuk melarikan diri, maka formasi bulan penuh adalah langkah terakhir bagi membentuk pertahanan.


Seluruh prajurit Paku bumi hanya menunggu saja serangan dari pihak lawan sambil sesekali memberikan serangan balasan.


"Panglima Rangga, mereka menggunakan formasi bulan penuh. Sangat sulit untuk mendekati mereka," kata Tumenggung Paksi yang memimpin pasukan pemanah.


"Gunakan pasukan pendobrak gerbang untuk menghancurkan pertahanan mereka!" Teriak Panglima Rangga.


Seketika itu juga prajurit berperisai terbelah menjadi dua. Lalu diantara lorong yang tercipta dari belahan pertahanan pasukan kerajaan Galuh, tampak keluar segerombolan prajurit yang menggotong balok kayu besar sambil berlari. Kemudian, dengan ujung balok kayu tersebut mereka mendobrak pertahanan formasi bulan penuh itu.


Kembali teriakan terdengar begitu pertahanan perisai prajurit dari Paku Bumi berhasil di dobrak.


"Seraaaaang!"


Bagai air bah. Gelombang serangan yang datang dari prajurit kerajaan Galuh menyerang dari segala penjuru.


Pertarungan tombak kini mulai terjadi antara pasukan paling depan dengan saling dorong terjadi diantara mereka.


Korban prajurit kini mulai berjatuhan. Banyak prajurit yang gugur dari kedua belah pihak dan tampak sisa prajurit dari Paku Bumi mengalami kerugian yang besar dalam peperangan pamungkas ini. Hal ini semakin diperparah ketika dari sisi lain, tampak Senopati Arya Prana, Wiguna, Arya Permadi, Bayu Gatra, Andini dan Gayatri membantu serangan yang dilancarkan oleh prajurit kerajaan Galuh.

__ADS_1


Kini keadaan benar-benar sangat tidak menguntungkan bagi pihak lawan.


Sosok tubuh manusia dengan bekas luka tikaman tombak, bacokan pedang bagaikan daun kering yang berguguran ke bumi.


Tidak ada sejengkal pun dari bumi yang mereka pijak di kawasan pertempuran ini yang luput dari genangan darah.


Sebelum matahari tergelincir ke ufuk barat, peperangan ini benar-benar telah berakhir dengan tidak satupun prajurit dari Paku Bumi yang dibiarkan selamat.


"Akhirnya peperangan ini usai juga," kata Senopati Arya Prana sambil menarik nafas lega.


"Pisahkan mayat prajurit kita dari prajurit Paku Bumi!" Perintah Panglima Rangga kepada mereka semua.


Kini seluruh pasukan prajurit kerajaan Galuh mulai menanggalkan senjata mereka lalu segera memilih-milih diantara sosok manusia yang tergeletak di tanah tersebut. Mana yang mengalami cedera, segera diberikan pertolongan. Dan mana yang sudah gugur, di tempatkan di tempat yang terpisah.


"Ayo tempatkan para prajurit kita yang gugur di dalam gerobak-gerobak! Mereka adalah pahlawan negri ini. Kita akan membawa mereka kembali ke kerajaan Galuh. Kita akan menguburkan mereka di satu tempat yang khusus agar suatu saat nanti anak cucu kita bisa menziarahi dan mengenang bahwa pada zaman sebelum mereka dahulu, ada ribuan ksatria yang telah gugur demi membela dan mempertahankan negri tercinta ini dari penjajah yang ingin menguasai negri mereka," kata Senopati Arya Prana dengan lantang.


"Malam ini kita beristirahat di sini saja. Besok pagi-pagi sekali, kita akan melanjutkan perjalanan untuk kembali ke kerajaan Galuh. Kirim utusan ke kota raja untuk mengabarkan kemenangan besar ini!"


"Biar aku yang kembali ke kota raja untuk mengabarkan kemenangan ini, Kakang Senopati!"


"Baiklah. Kau berangkat lah, Sadewa! Kabarkan kemenangan ini ke segala penjuru kerajaan!"


"Sendiko dawuh Kakang Senopati!"

__ADS_1


Selesai berkata, Sadewa pun langsung memilih kuda yang dirasa kuat, lalu melompat ke atas panggung kuda tersebut lalu menggebah nya menuju ke kota raja kerajaan Galuh.


"Kakang.., apakah kau melihat di mana Junjungan kita?" Tanya Panglima Rangga kepada Senopati Arya Prana.


"Entahlah Dinda. Aku tadi melihat Gusti Pangeran sedang mengejar Jaya Pradana yang melarikan diri," jawab Senopati Arya Prana.


Duaaaar!


Baru saja dia selesai menjawab pertanyaan dari Panglima Rangga, kini di bagian pinggiran hutan ke arah desa Waringin, terdengar satu ledakan yang menggetarkan kawasan hutan itu.


"Lebur Wesi, Kakang!" Kata Panglima Rangga.


"Benar, Dinda! Apakah...,"


Duaaaar!


Kembali terdengar suara ledakan yang sama dahsyatnya seperti ledakan pertama.


"Pasti terjadi pertarungan di perbatasan lembah jati dan desa Waringin, kakang!"


"Mari kita ke sana!"


Mendengar ini, Panglima Rangga, Tumenggung Paksi, Wiguna, Arya Permadi, Bayu Gatra, Andini dan Gayatri bergegas melompat ke punggung kuda mereka masing-masing, lalu segera menyusul Senopati Arya Prana yang telah terlebih dahulu menuju tempat terjadinya pertarungan itu.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2