Pangeran Tanpa Mahkota

Pangeran Tanpa Mahkota
Kegagalan Gagak Rimang


__ADS_3

Kehadiran tamu yang tidak di undang itu membuat sepasang lelaki dan wanita tua saling pandang dengan berbagai prasangka buruk.


Setahu mereka, danau teratai bukanlah tempat yang dekat yang bisa dikunjungi dengan sehari perjalanan. Tentunya mereka kini berpikir bahwa yang menjadi magnet kedatangan dedengkot aliran hitam ini tentulah kabar tentang Pangeran Indra yang menarik perhatian beberapa tokoh di rimba persilatan.


Melihat lelaki yang serba berpakaian hitam itu hanya tersenyum seolah-olah ada sesuatu yang tersirat di balik senyuman itu, kini Nini Kunti langsung mendamprat. "Hey gagak Rimang. Tidak ku sangka gubuk reyot ku ini hari ini akan kedatangan tamu. Tentunya kedatangan mu kemari bukan hanya sekedar menumpang lewat bukan?" Tanya bidadari Kipas Perak.


"Hahaha. Ternyata kau masih mengenaliku Kunti. Dan yang tidak aku sangka adalah, kau sengaja di sini dengan pasangan mesum mu si Santalaya itu," kata Gagak Rimang sambil mencibir.


"Kurang ajar. Aku tidak suka berbelit-belit. Sekarang katakan apa tujuan mu menyambangi gubuk reyot milik ku ini!" Bentak wanita tua itu sambil maju mendekat.


Dia segera menarik tangan Pangeran Indra agar menjauh dari Gagak Rimang.


"Hahaha. Aku suka dengan ketegasan mu Kipas Perak. Jujur saja. Kedatangan ku kemari karena termakan kabar angin bahwa kau dan Santalaya itu sedang menggembleng seorang anak lelaki yang katanya sangat tampan, bagus bentuk tubuhnya serta susunan tulang yang kokoh. Ternyata kabar angin itu bukan isapan jempol belaka. Aku sudah melihat sendiri seperti apa anak itu. Sekarang aku akan langsung saja mengatakan kepadamu bahwa aku, Gagak Rimang menginginkan anak itu untuk aku jadikan murid di pertapaan ku tepatnya di danau teratai," kata Gagak Rimang sambil menunjuk ke arah Indra Mahesa.


"Wah.., wah.., wah. Ternyata begitu toh. Nafsu makan mu kuat juga ternyata. Gagak Rimang. Dengarkan perkataan ku baik-baik. Anak ini adalah rejeki yang dikirimkan oleh Tuhan kepada ku di lembah bangkai. Sudah lima tahun anak ini bersama dengan kami. Sekarang, kau malah ingin mengambilnya. Sebenarnya bisa saja. Tapi apakah kau sudah siap?"


Kali ini eyang Santalaya yang angkat bicara setelah sejak tadi hanya menjadi pendengar saja.


"Gagak Rimang. Sebelum kau datang, sudah ada puluhan tokoh yang sama sealiran dengan mu menginginkan anak ini. Tapi kau tau apa kesudahan bagi mereka? Mereka mati dengan cara mengenaskan," kata eyang Santalaya lagi.


"Menyesal sekali, Santalaya. Sungguh menyesal sekali bahwa aku tetap pada pendirian ku. Aku sudah bertekad bahwa tidak akan pulang ke danau teratai sebelum anak anak ini berhasil aku bawa. Sekarang, aku sudah terlanjur jatuh hati pada anak ini. Apapun yang terjadi, aku akan merebutnya dari kalian,"


"Bekal apa yang kau miliki hah, Gagak Rimang? Jika kau merasa memiliki kemampuan, maka kau bisa merebutnya dari tangan kami. Tapi jangan salahkan jika nantinya kau akan pulang tinggal nama saja," kata Kunti Bawuk alias Bidadari kipas perak. Saat ini darahnya sudah naik sampai ke ubun-ubun mendengar perkataan dari Gagak Rimang tadi.


"Aku meminta dengan cara baik-baik, Kipas Perak. Jika kau menghalangi, maka bersiaplah untuk mati!"


"Hahahaha. Mati itu adalah hutang manusia yang hidup yang cepat atau lambat harus di bayar. Tetapi, memilih untuk mati seperti apa itu adalah pilihan kita. Mati dengan cara merebut hak orang lain atau mati dengan cara mempertahankan hak adalah sama-sama mati. Namun berbeda tujuan," kata Bidadari kipas perak sambil tertawa.


"Kurang ajar! Kalian ini memang sudah bosan hidup rupanya. Sekarang segala sesuatunya akan kita tentukan dengan seberapa mampu kau menangkis pukulan dan jurus-jurus ilmu silat ku," kini gantian Gagak Rimang pula yang membalas cibiran dari Bidadari kipas perak itu.


"Puiiih! Majulah kalau kau memang mampu!" Tantang nenek tua itu membuat Gagak Rimang serta merta mengertakkan giginya.


"Baiklah. Sepertinya mulut busuk mu itu harus di bungkam. Sekarang, perhatian serangan!" Kata Gagak Rimang sambil mengeluarkan bunga-bunga kembangan dari jurus-jurus dasar ilmu silatnya.


"Lihat tangan!" Kata Gagak Rimang sambil melakukan serangan awal dengan pukulan telapak tangan ke arah dada kempot milik Bidadari kipas perak itu.


"Hiaaat!"


Plak!

__ADS_1


Plak!


Plak..!


"Ikh..!"


Tampak kedua orang yang sedang bertarung itu sama-sama terjajar kebelakang akibat pukulan tangan Gagak Rimang yang mengandung tenaga dalam tingkat tinggi itu dipapas oleh tangkisan tangan Bidadari kipas perak.


Mereka berdua memang sengaja tidak menghindar dan memilih untuk melakukan benturan. Ini karena baik Gagak Rimang maupun Bidadari kipas perak ingin menjajaki seberapa kuat tenaga dalam yang dimiliki masing-masing lawan.


"Setan ini tinggi juga tingkat tenaga dalamnya," pikir Bidadari kipas perak sambil mengibas-ngibaskan tangannya yang terasa kaku kesemutan.


Sementara itu di pihak lawan pula, tak kurang kagetnya. Dia tidak menyangka bahwa tenaga dalam yang dimiliki oleh wanita tua peot ini tidak berada dibawah tenaga dalam yang dia miliki.


"Hahaha. Sekarang kaua sudah tau kan seberapa kuatnya aku?!" Kata Gagak Rimang. Dia sengaja berkata seperti itu untuk menyembunyikan rasa kagetnya terhadap kemampuan lawan.


"Puiiih! Kau terlalu menganggap enteng terhadap lawan mu. Mari bertarung sampai seribu jurus dan kita lihat siapa yang akan keluar dari gelanggang dengan nyawa melayang." Kata Bidadari kipas perak sambil menyemburkan ludahnya.


"Sombong!" Kata Gagak Rimang lalu kembali melakukan serangan.


Pertarungan yang seimbang itu tampak berlangsung sungguh cepat. Beberapa batang pohon tampak mulai bertumbangan terkena pukulan serta ajian yang mereka lepaskan.


Kini baik sosok Gagak Rimang dan Bidadari kipas perak hanya tampak bayang-bayang saja sambil terus bertarung mengeluarkan jurus simpanan masing-masing.


Kali ini tampak dua bayangan hitam dan putih itu sama-sama berputar di udara saling melepaskan pukulan masing-masing lalu sama-sama meluncur turun kebawah dalam keadaan masih saling serang.


"Hiaaat..!"


"Hup..."


Bugh! Bugh! Plak!


Cetar!


Terdengar ledakan dahsyat ketika keduanya saling melepaskan pukulan ajian kesaktian masih-masing.


Kini dari kedua orang itu sama-sama terpental beberapa tombak kebelakang sambil berjumpalitan lalu nyangsang di semak-semak belukar.


"Uhuk. Setan alas ini kuat sekali. Nyaris saja dadaku melesak ke dalam," kata Bidadari kipas perak sambil bangkit dengan sebelah tangan memegangi dadanya.

__ADS_1


Di pihak lain, saat ini Gagak Rimang juga tidak bisa dikatakan baik-baik saja.


Tubuh besarnya yang terjepit antara dua batang pohon perlahan bangkit sambil batuk darah.


Terlihat dari pakaian bagian dadanya tampak gosong dengan cap telapak tangan.


"Uh. Panas sekali pukulan wanita ini. Ternyata ajian tapak suci bukan omong kosong belaka. Jika itu orang biasa, sudah pasti jebol dadaku," kata Gagak Rimang pula dalam hati.


Dia lalu merangkak keluar dari semak-semak belukar itu kemudian duduk bersila mengambil sikap bersemedi.


"Eyang putri tidak apa-apa?" Tanya Pangeran Indra sambil berjalan mendekati wanita tua itu.


"Tidak. Eyang putri tidak apa-apa. Sekarang kau minggir lah. Kami akan menyelesaikan pertarungan ini," kata Bidadari kipas perak sambil bangkit berdiri.


"Aku akui bahwa kalian memang berjiwa ksatria. Aku menghargai itu. Andai kalian berdua bermain curang, pastinya aku akan mati hari ini. Aku kagum kepada mu Santalaya. Kau tidak membokong ku dari belakang."


"Gagak Rimang. Kami adalah orang-orang dunia persilatan yang rela mati demi nama baik daripada menang dengan kecurangan. Sekarang mari kita lanjutkan lagi pertarungan kita. Keluarkan ajian Guntur bumi mu. Kita lihat siapa yang akan hangus hari ini?!" Kata Bidadari kipas perak sambil berusaha untuk bangun. Namun apa daya, baru saja bangkit, dia sudah terjatuh lagi.


"Tidak untuk hari ini Bidadari kipas perak. Kita sama-sama terluka dalam. Aku berjanji akan datang lagi dua tahun dari sekarang untuk menuntaskan pertarungan kita ini. Tunggulah kedatangan ku!" Kata Gagak Rimang lalu segera hendak bangkit berdiri. Namun sama seperti Bidadari kipas perak. Dia juga terjatuh kembali ke tanah berumput tempatnya tadi duduk bersemedi.


Melihat lawan yang sudah tidak berdaya itu, Santalaya langsung melangkah mendekati Gagak Rimang lalu menyerahkan sebuah kendi labu kepadanya. "Minum air yang ada di dalam kendi ini, Gagak Rimang! Kau pasti akan segera pulih," kata eyang Santalaya sambil menyerahkan kendi labu itu kepada Gagak Rimang.


Gagak Rimang tidak langsung menerima kendi itu. Sebaliknya dia hanya menatap saja dalam-dalam ke wajah eyang Santalaya.


"Mengapa? Apa kau takut kalau aku akan memberikan racun kepadamu? Jika hanya untuk membunuh mu, sekali pukul saja kau pasti sudah binasa dengan luka dalam yang mau derita saat ini. Buang prasangka buruk mu itu!" Kata eyang Santalaya lalu menyodorkan kembali kendi itu kepada Gagak Rimang.


"Benar juga apa yang dikatakan oleh Santalaya ini. Tidak susah untuk membunuh ku dalam keadaan terluka begini." Katanya dalam hati. Dia lalu menerima kendi itu lalu menenggak isinya.


Gluk.., gluk.., gluk.


"Terimakasih Santalaya. Tapi ingat! Dua tahun dari sekarang aku akan datang lagi. Jika sampai pada hari itu, aku pasti akan habis-habisan," kata Gagak Rimang lalu segera melesat pergi meninggalkan arena pertarungannya tadi dengan Bidadari Kipas Perak.


"Huh. Gertak sambal. Apa dia kira aku takut. Dasar sampah dunia persilatan. Harusnya aku bunuh dia itu tadi," kata Bidadari kipas perak mengomel panjang pendek.


"Sudahlah. Kelak jika bertemu lagi, kalian bisa menuntaskan pertarungan kalian," kata eyang Santalaya sambil membantu Nini Kunti Bawuk berdiri.


"Ayo Indra! Mari masuk!" Ajak eyang Santalaya.


Pangeran Indra hanya menurut saja sambil menenteng keris tumbal kemuning ditangan kirinya.

__ADS_1


Dia sama sekali tidak tau apa kegunaan keris yang tidak bisa di cabut oleh orang lain itu. Dia hanya menganggap bahwa keris itu hanyalah mainan baginya. Jika keris itu di simpan, maka dia akan menangis bahkan tahan sampai seharian.


...BERSAMBUNG......


__ADS_2