
Pangeran Indra Mahesa tidak langsung menjawab pertanyaan dari Raden Danu ini. Baginya, tidak baik terlalu menceritakan kekurangan yang saat ini sedang dihadapi oleh pasukannya.
Sambil tersenyum, Pangeran Indra Mahesa memerintahkan kepada Senopati Arya Prana dan Tumenggung Paksi untuk membawa Raden Danu beserta para prajuritnya untuk beristirahat dari perjalanan yang sangat melelahkan dari kota raja ke kadipaten Gedangan ini.
Tidak mau terlalu mendesak kepada sang Pangeran, Raden Danu akhirnya menyetujui dan segera ikut ketika Senopati Arya Prana mengajak mereka untuk meninggalkan tempat mereka berhenti tadi menuju ke istana kadipaten.
Ketika mereka sama-sama berjalan, barulah Raden Danu mengetahui bahwa saat ini pangeran Indra Mahesa beserta seluruh pasukannya sangat memerlukan biaya setidaknya sepuluh ribu keping Ringgit emas untuk membeli kuda.
Hanya itu saja yang diceritakan oleh Senopati Arya Prana. Dia tidak menceritakan tentang jebakan yang telah mereka pasang di jalan bawah tebing di lembah jati yang saat ini di jaga oleh adiknya yaitu Arya Permadi dan Wiguna bersama penduduk desa kadipaten Pitulung dan sisa prajurit kerajaan Sri Kemuning yang masih setia.
__ADS_1
Mendengar hal ini, Raden Danu sejenak menghentikan langkahnya. Hal ini membuat Senopati Arya Prana dan Tumenggung Paksi juga ikut-ikutan menghentikan langkahnya dan segera bertanya. "Ada apa Raden Danu? Mengapa kau berhenti melangkah?" Tanya mereka dengan heran.
"Sebenarnya sepuluh ribu keping Ringgit emas itu bukanlah jumlah yang banyak. Hanya saja, uang itu terkubur bersama peti tepat di bawah pohon beringin di depan istana kerajaan Setra kencana. Aku tidak sempat membawa uang tersebut karena keburu dikejar oleh prajurit Paku Bumi," jawab Raden Danu lalu melanjutkan. "Andai ada yang sanggup, aku akan dengan senang hati untuk menunjukkan tempat itu. Tapi kau tau sendiri. Ilmu silat ku tidak setara dengan Raka Pati, apa lagi Gagak Ireng. Aku bisa mati konyol andai kepergok dengan mereka," kata Raden Danu tanpa menyadari bahwa Pangeran Indra Mahesa saat ini sedang menguping pembicaraan mereka dengan menggunakan ajian Pembeda gerak dan nadi.
"Setahuku, beberapa tahun yang lalu aku pernah ke kerajaan Setra kencana. Di depan istana itu terdapat lima pohon beringin besar. Sedangkan di bagian kaputren, ada satu lagi pohon beringin besar. Pohon yang mana satu yang kau maksud?" Tanya Tumenggung Paksi.
"Tepat di tengah-tengah! Ada dua di kiri dan dua di kanan. Kemudian ada sebatang lagi yang sedikit mengarah ke tembok istana. Diantara pohon dan dinding tembok lah peti uang beserta perhiasan aku kubur. Aku mempercayakan perjuangan ini kepada kalian untuk kemerdekaan negri ku. Aku tidak ingin menjadi raja menggantikan mertua ku Gusti Prabu Setra kencana. Cukup aku menduduki Setra kencana sebagai Adipati saja. Asalkan kalian sanggup menumpas si durjana Jaya Pradana ini, aku merasa bersyukur. Karena, dendam atas kematian ayahanda Prabu dan Istri ku dapat terbalaskan!"
"Apa kau yakin? Penjagaan di istana sangat ketat. Aku khawatir kita akan berhasil," jawab Raden Danu dengan wajah sarat akan keraguan.
__ADS_1
"Kalian bertiga bisa menunggu ku di luar tembok istana. Aku akan mengambil peti yang sedang kalian bicarakan. Kalian bertiga berangkatlah terlebih dahulu malam nanti selepas rembulan berada tepat di ujung kepala. Lalu, kalian tunggu aku di bagian luar tembok," terdengar suara berbisik dengan sangat jelas sekali membuat Raden Danu celingukan mencari sumber suara tersebut.
"Heh?! Siapa itu?" Tanya Raden Danu sambil memandang ke sekelilingnya.
"Hahaha. Itu adalah Gusti Pangeran Indra. Dia berbicara menggunakan ilmu pengirim suara. Kau jangan heran. Selain seorang Pangeran, dia adalah seorang pendekar muda yang sakti mandraguna," jawab Senopati Arya Prana.
"Bersyukur lah. Karena, untuk menghadapi Jaya Pradana, kita memang harus memiliki seorang jago yang dapat kita andalkan. Raja lalim itu sangat sakti. Konon, kabar yang aku dengar, dia adalah murid dari dedengkot rimba persilatan aliran hitam yang bergelar Datuk Hitam," kata Raden Danu.
"Aku juga berfikir demikian. Tapi sudahlah. Ayo kita lanjutkan perjalanan. Kau tentu sangat kelelahan, bukan?" Kata Senopati Arya Prana tidak ingin lagi membicarakan tentang diri Pangeran muda yang tampan itu. karena percuma saja. Pangeran Indra Mahesa saat ini sedang menggunakan ajian Pembeda gerak dan nadi miliknya. Apa gunanya bergosip andai yang digosipkan dapat mendengarkan gosip mereka dengan jelas.
__ADS_1
Bersambung...