
Setelah tiga hari menempuh perjalanan yang melelahkan, akhirnya Pangeran Indra Mahesa dan Gayatri tiba juga di perbatasan kota raja kerajaan Galuh.
Tanpa mengurangi kecepatan kuda tunggangan mereka, mereka berdua lalu memacu kuda itu menuju langsung ke istana kerajaan.
Kebetulan, saat ini di istana sedang berkumpul para sesepuh kerajaan di ruang Paseban bagi membahas peperangan yang sedang berlangsung antara kerajaan Galuh melawan pasukan prajurit dari Paku Bumi.
Kedatangan pangeran Indra Mahesa bersama dengan Gayatri tentu saja sangat mengejutkan bagi mereka.
Banyak diantara mereka yang bertanda tanya dalam hati mengapa bisa panglima tertinggi kerajaan meninggalkan pasukannya untuk kembali ke kota raja.
Sementara itu diluar, pangeran Indra langsung memasuki ruang Paseban itu dengan langkah tegap dan penuh wibawa. Tampak rambut nya terurai melewati bahu dan di genggaman tangan kirinya, terdapat sebilah keris bergagang kepala naga yang dikenal oleh mereka adalah keris tumbal kemuning.
Melihat dari cara berjalannya pangeran Indra ini, hal ini kembali mengingatkan Gusti Prabu Rakai Galuh tentang mimpinya sepuluh tahun yang lalu.
"Kakek Prabu, hamba kembali tidak akan lama. Setelah ini hamba akan kembali untuk bergabung dengan pasukan hamba di perbatasan. Kedatangan hamba ke sini hanya untuk mengatakan bahwa hamba ingin menjadi raja yang memiliki mahkota yang lebih besar dari mahkota yang saat ini Kakek Prabu kenakan," kata Pangeran Indra Mahesa.
"Cucu ku. Apa maksud dari perkataan mu tadi? Apakah saat ini kau telah berhasil mengalahkan para prajurit dari Paku Bumi?" Tanya Gusti Prabu Rakai Galuh.
"Untuk saat ini belum. Tapi sebentar lagi hamba dan seluruh pasukan akan memenangi peperangan ini. Di saat itu, hamba akan menjadi raja di tiga kerajaan sekaligus. Hamba akan menjadi raja di Paku bumi, Sri Kemuning dan Setra kencana," jawab pangeran Indra Mahesa yang tampak sangat percaya diri.
"Lalu, ada apa sebenarnya sehingga kau kembali ke kota raja? Apakah kau membutuhkan bantuan atau ada hal yang lain? Jika kau membutuhkan bantuan, sebaiknya sampaikan saja kepada Prabu Kerta Rajasa. Ini karena, prajurit yang kita miliki semuanya sudah berangkat ke medan perang,"
"Tidak sama sekali kakek Prabu. Hamba kembali hanya untuk menjemput Sadewa. Hamba membutuhkan keahliannya dalam hal menyusup. Hamba menginginkan agar Sadewa menjadi penghubung antara mata-mata yang hamba kirim agar lebih mudah menyampaikan pesan," jawab Pangeran Indra Mahesa.
__ADS_1
"Kalau begitu, baiklah. Kau boleh kembali ke dalam pasukan mu dan segeralah bawa kabar baik kepada kami di sini," kata Gusti Prabu Rakai Galuh penuh harap.
"Ibunda, ananda mohon izin. Ananda hanya sekedar singgah untuk memastikan keamanan di kota raja ini. Saat ini prajurit kita telah menunggu ananda di lembah jati. Ibunda tidak boleh membocorkan rahasia ini!" Kata Pangeran Indra Mahesa berbisik ketika dia hendak berpamitan.
"Bagaimana bisa? Bukankah prajurit yang dipimpin oleh Jaya Pradana saat ini sedang berada di kadipaten Gedangan?" Tanya Permaisuri Galuh Cendana juga sambil berbisik.
"Siasat yang ananda lakukan berhasil membuat mereka gentar, Bunda. Mereka telah menarik pasukan dari kadipaten Gedangan dengan niat untuk membokong kita dari belakang melalui lembah jati. Mohon restu dari ibunya. Ananda akan segera memberi kabar baik!"
"Berangkatlah anak ku. Restu dan doa ibu akan selalu menyertai perjuangan mu,"
"Dinda Gayatri! Apakah Dinda tidak akan berpamitan dengan Ibunda ku?"
Pertanyaan dari Pangeran Indra Mahesa ini langsung membuat Gayatri terpaku diam tanpa tau harus berbuat apa.
Permaisuri Galuh Cendana hanya tersenyum saja lalu beranjak dari kursinya menghampiri Gayatri yang berdiri agak jauh di dekat prajurit yang bertugas menjaga pintu.
"Kakang Pangeran. Izinkan aku untuk ikut serta ke medan perang!" Pinta Putri Melur.
"Kau mau ikut berperang? Apa yang bisa dilakukan oleh Putri manja seperti mu? Kau akan menjadi beban bagi kami nantinya," tolak Pangeran Indra tanpa Tedeng aling-aling. Dia masih kesal dengan gadis manja ini. Dari kesan pertama mereka bertemu saja sudah tidak baik. Apa lagi semakin mengetahui sifat asli Putri kerajaan Garingging ini. Semakin memuakkan saja baginya.
"Kau jangan meragukan kemampuan ku, Kakang! Aku tidak kalah hebat dari Gayatri itu! Aku juga belajar ilmu olah Kanuragan. Aku juga pandai memanah. Apakah kau menganggap bahwa aku akan kalah dari gadis itu?"cibir Putri Melur sambil berkacak pinggang.
"Putri ku. Kau tau dengan siapa kau bicara saat ini? Kau harus tau di mana tempat mu! Lihat kakek Prabu Rakai Galuh! Mengapa kau begitu biadab?" Tegur Gusti Prabu Kerta Rajasa yang merasa malu atas ulah putri nya itu.
__ADS_1
"Pokoknya, diizinkan atau tidak, aku akan pergi berperang membantu kakang Indra Mahesa. Kita memiliki seribu prajurit di sini. Aku akan memimpin seribu prajurit kita untuk membantu di kadipaten Gedangan!" Kata Putri Melur tetap saja tidak mau mengalah.
"Uwak Prabu.., hamba juga ingin menyertai pasukan yang dipimpin oleh kakang Indra Mahesa. Tekat hamba sudah bulat. Hamba juga memiliki hak untuk memperjuangkan negri ini. Sebagai Putri dari seorang Mahapatih, keponakan dari Uwak Prabu Rakai Galuh, sepupu dari Permaisuri Galuh Cendana, tidak ada alasan bagi Kakang Indra Mahesa untuk menolak keikutsertaan hamba demi mempertahankan negri ini dari serangan musuh," kali ini Sekar Mayang pula yang angkat bicara.
Mendengar semua ini, membuat Pangeran Indra Mahesa mendadak merasa pusing tujuh keliling.
"Jika aku tau begini, menyesal aku singgah di kota raja ini. Menyesal aku tidak mengikuti saran dari Gayatri ketika di hutan bambu kemarin," rutuk Pangeran Indra dalam hatinya.
"Kakek Prabu, Paman Prabu Kerta Rajasa, Kakek Mahapatih dan Ibunda Permaisuri, hamba mohon diri dulu," kata Pangeran Indra lalu mengibaskan kain yang melilit di pinggang nya dengan kasar. Kemudian, tanpa sempat mendapat jawaban, dia segera keluar meninggalkan ruang Paseban itu sambil menarik tangan Gayatri secara paksa.
"Pelan-pelan, Kakang! Tangan ku sakit. Jangan karena kakang kesal dengan kedua wanita itu, aku pula yang menjadi sasaran," kata Gayatri sambil mengurut pergelangan tangannya yang terasa sakit.
"Cepat tukar kuda mu di Istal! Kakang menunggu di depan sana. Kita akan segera berangkat!" Kata Pangeran Indra Mahesa segera memanggil seorang prajurit yang berjaga.
"Hamba, Gusti Pangeran,"
"Segera panggil Sadewa. Katakan aku menunggunya di gerbang timur kota raja. Suruh dia segera berangkat menemui ku. Ingat! Jangan ada yang mendengar perintah dari ku ini. Terutama kedua putri itu!" Pesan pangeran Indra Mahesa yang segera dibalas dengan anggukan kepala dari seorang prajurit tadi.
Setelah menukar kuda mereka dengan yang baru dan lebih kekar, pangeran Indra Mahesa dan Gayatri pun segera menggebah kuda mereka meninggalkan depan istana itu. Sedikitpun mereka tidak menghiraukan teriakan Putri Melur dan Sekar Mayang yang meminta agar mereka menunggu untuk berangkat bersama-sama.
"Cepat Dinda! Kita harus mengecoh kedua gadis itu. Jika tidak, mereka akan menjadi beban bagi kita nantinya!"
"Baiklah Kakang!"
__ADS_1
Mereka terus saja menggebah kuda mereka mengarah ke arah kadipaten Gedangan. Namun, setelah setengah jalan, mereka memutar arah perjalanan mereka menuju ke bagian gerbang timur kota raja untuk menunggu kedatangan Sadewa.
Bersambung...