Pangeran Tanpa Mahkota

Pangeran Tanpa Mahkota
Kematian Datuk Marah Lelang dan Wikalpa


__ADS_3

Lesatan tubuh pangeran Indra Mahesa baru berhenti sejauh puluhan tombak. Itupun setelah tubuhnya tepat menghantam sebatang pohon yang besarnya dua kali pemelukan orang dewasa.


Darah segar kini tampak menyembur keluar dari mulutnya menandakan luka dalam yang dia derita cukup parah juga.


Dengan bersusah payah pemuda itu berusaha untuk duduk sambil menggapai tonjolan akar pohon yang timbul di permukaan tersebut.


"Uhuk.., uhuk.., uhuk!"


Terdengar suara batuk berulang kali disertai semburan darah kental kehitaman dari mulutnya yang menandakan bahwa saat ini dia sedang keracunan akibat ilmu ajian dari Datuk Marah Lelang tadi.


"Jangan mendekat! Aku keracunan," cegah Pangeran Indra ketika melihat ketiga sahabatnya berusaha menghampiri untuk memberikan pertolongan.


Di sisi lain, Datuk Marah Lelang tampak terkapar menelentang menatap sayu ke angkasa. Nafasnya tampak memburu dengan mulut, hidung, telinga, bahkan dari sudut kedua matanya mengeluarkan darah.


Lelaki tua dedengkot rimba persilatan itu kini megap-megap sambil berusaha menggapai apa saja yang bisa dia jadikan sebagai pegangan untuk bangun.


"Sudah lama aku tidak melihat pertarungan sehebat ini. Tidak ku sangka ternyata pemuda itu memiliki ilmu Kanuragan dan kedigdayaan yang sangat mumpuni. Jarang sekali ada yang mampu bertahan dari pukulan cakar maut yang dilepaskan oleh Datuk Marah Lelang ini," bisik Panglima Rangga.


Senada dengan mereka, kini Bayu Gatra, Andini, dan Gayatri baru melihat sisi yang mengerikan dari Pangeran Indra Mahesa ini.


Mereka sama sekali tidak menyangka bahwa sahabat baru seperjalanan mereka yang tampak seperti orang kurang waras ini memiliki kehebatan seperti yang telah mereka saksikan saat ini.


"Anak muda. Aku mengadu nyawa dengan mu!" Kata Datuk Marah Lelang sambil mengeluarkan senjata pusaka nya berbentuk garpu tala sepanjang tiga jengkal orang dewasa.


"Sepertinya pertarungan ini akan berakhir dengan salah satu diantara mereka menemui ajal, Kakang!" Kata Wiguna.


"Entahlah Dinda. Apakah pemuda itu mampu menghadapi kesaktian senjata pusaka milik Datuk Marah Lelang ini,"


"Semoga saja dia mampu, Kakang. Andai dia kalah, selesai lah riwayat kita semua yang berada di sini," kata Panglima Rangga pula.


Saat ini, kedua orang yang sedang bertarung tadi sudah kembali berdiri dalam jarak dua batang tombak.


"Anak muda! Keluarkan senjata mu. Mari kita akhiri pertarungan ini. Yang keluar hidup-hidup dari tempat ini adalah pemenangnya!" Kata Datuk Marah Lelang sambil mengibas-ngibaskan senjata yang berada di tangannya sehingga mengeluarkan suara menderu angin yang dahsyat.


"Baik. Aku akan meladeni semua keinginanmu," kata Pangeran Indra sambil meraba ke balik bajunya.


Kini di genggaman tangan pemuda itu tergenggam sebilah keris kuning keemasan dengan ukiran kepala naga di gagangnya.

__ADS_1


Sementara itu, di bagian warangka terdapat ukiran bunga-bunga dengan tubuh naga berada di atas bunga tersebut.


Beberapa orang mantan pembesar dari kerajaan Sri Kemuning tampak mengusap-usap kedua mata mereka melihat keris yang terdapat dalam genggaman tangan Pangeran Indra Mahesa.


Beberapa dari mereka kini mulai bergumam menyebutkan Keris tumbal kemuning.


"Itu.., itu adalah keris tumbal kemuning, Kakang!"


"Oh Tuhan. Berarti benar dugaan ku tadi. Pemuda itu adalah junjungan kita!" Kata Senopati Arya Prana.


"Putra Mahkota Indra Mahesa masih hidup dan kini telah tumbuh menjadi seorang pemuda yang gagah perkasa lagi sakti mandraguna,"


"Mari kita doakan untuk kemenangan junjungan kita. Ini adalah awal dari kebangkitan kerajaan Sri Kemuning dengan sang ahli waris nya masih hidup!"


*********


Pangeran Indra Mahesa yang saat ini berdiri tegak dengan sebilah keris tergenggam di tangannya mulai mengempos seluruh tenaga dalamnya.


Begitu seluruh urat-urat di seluruh tubuhnya bertonjolan, kini perlahan dia menarik gagang keris tumbal kemuning itu dari warangkanya.


Sreeeet!


Sreeeet!


Begitu keris tersebut sepenuhnya keluar dari sarangnya, kini tampak seekor bayangan naga dengan bentuk sempurna keluar dari ujung keris tersebut.


Mungkin karena pengerahan tenaga dalam yang begitu besar dari pemiliknya, sehingga menyebabkan naga itu begitu besar dan bersinar sangat terang.


Perlahan naga itu menjulang tinggi ke angkasa, berputar-putar di sana beberapa kali lalu menukik turun kemudian amblas masuk ke dalam tubuh pangeran Indra melalui ubun-ubun.


Sejenak tampak kedua bola mata pangeran Indra berubah kemerah-merahan. Lalu berangsur pulih seperti sedia kala.


Melihat senjata maha dahsyat ini, membuat Datuk Marah Lelang merasa keder juga. Tapi yang namanya orang rimba persilatan, mati dalam sebuah pertarungan adalah hal yang biasa. Bahkan menjadi suatu kebanggaan tersendiri bagi mereka.


"Bersiaplah anak muda!" Teriak Datuk Marah Lelang lalu melompat sambil mengibaskan senjatanya.


Pangeran Indra Mahesa yang telah siap sejak tadi langsung menyambut serangan itu. Dengan mengerahkan tenaga dalamnya ke arah lengan, dia kini memapak serangan itu dengan sengaja mengadu senjatanya dengan senjata yang berada di genggaman tangan Datuk Marah Lelang. Akibatnya...,

__ADS_1


Duaaar!


Letupan-letupan menimbulkan percikan api dan asap itupun mewarnai pertarungan kedua pendekar yang memiliki tingkat kemampuan yang sulit untuk di ukur tersebut.


Berulang kali kedua senjata sakti itu beradu membuat pemiliknya berulang-ulang kali juga terpekik tertahan.


"Hiaaat!" Kata Pangeran Indra sambil melompat ke atas lalu berputar di udara mengejar lesatan tubuh Datuk Marah Lelang yang sempat terpental akibat bentrokan dari ke dua senjata tadi.


Sambil melompat ringan, Datuk Marah Lelang berhasil menghindar dari terjangan kaki pangeran Indra Mahesa.


Belum sempat pangeran Indra Mahesa menjejakkan kakinya di tanah dalam keadaan sempurna, kini Datuk Marah Lelang telah mengirimkan sapuan kakinya me arah kaki pangeran Indra sehingga membuat pemuda itu kembali bersalto di udara lalu menjejakkan kakinya berjarak satu tombak dari lelaki tua itu.


"Hebat. Sungguh hebat sekali. Tidak sia-sia si Santalaya itu menurunkan seluruh ilmu silatnya kepada mu. Sekarang mari kita tuntaskan segera!" Puji Datuk Marah Lelang.


Lelaki tua itu kini meletakkan senjatanya lurus ke arah kening sambil merafalkan mantra.


Tampak asap kini mengepul berwarna hitam mengandung racun ganas mematikan.


Melihat lawannya kembali mengeluarkan aji kesaktian, pemuda itu pun tidak mau ketinggalan. Dia langsung merafalkan mantra dengan gerakan tangan kiri turun naik.


Perlahan namun pasti, kini dari batas siku tangan pemuda itu sampailah ke jari jemarinya berubah warna menjadi merah seperti sepotong besi yang terbakar di dalam tungku api.


"Telapak Maut!" Bentak Pangeran Indra lalu dengan tangan kiri dia memapas serangan dari Datuk Marah Lelang, kemudian dengan tangan kanan dia menusukkan keris tumbal kemuning ke arah dada bagian kiri Datuk Marah Lelang.


Akibatnya, terdengar satu ledakan membuat tanah bergoncang disertai suara jeritan dari Datuk Marah Lelang.


Tampak di jepitan ketiak Pangeran Indra, senjata berbentuk garpu tala milik Datuk Marah Lelang terjepit. Sedangkan keris tumbal kemuning kini amblas masuk ke dalam dada kiri Datuk Marah Lelang hingga amblas dan hanya gagangnya saja yang tersisa.


Tubuh Datuk Marah Lelang kini terjatuh dalam posisi terlentang bersamaan dengan nyawanya terpisah dari jasadnya.


Ketika pangeran Indra menyadari bahwa Wikalpa akan melarikan diri, dia pun dengan sigap melepaskan senjata milik Datuk Marah Lelang dari ketiaknya kemudian...,


Wuzzzz!!!


"Aaaakh...!"


Tampak senjata pusaka itu menembus bagian belakang Wikalpa membuat lelaki setengah baya itu tersungkur dengan nyawa juga lepas dari raga nya. Dia mati oleh senjata gurunya sendiri.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2