
Sudah seharian Pangeran Indra Mahesa menghilangkan diri setelah keluar dari istana Kadipaten Gedangan.
Semenjak Raden Danu berangkat meninggalkan kadipaten Gedangan atas perintah sang Putra Mahkota yaitu Pangeran Indra Mahesa, bersama para prajurit yang berjalan kaki, para pembesar dan beberapa prajurit mulai sibuk mencari keberadaan pemuda itu. Termasuk Bayu Gatra, Andini dan Gayatri.
Tepat malam sudah menyelimuti kadipaten Gedangan, terlihat api unggun di kejauhan yang menarik rasa penasaran di hati kedua gadis dan seorang pemuda yang tidak lain adalah Bayu Gatra, Andini dan Gayatri itu.
Mereka bertiga segera menggunakan ilmu lari cepat dan sebentar saja mereka telah tiba di dekat sumber cahaya yang berasal dari api unggun yang terlihat dari kejauhan tadi.
Ketiga orang itu kini melihat seorang pemuda sedang duduk bersandar di sebongkah batu besar sambil sesekali melemparkan potongan ranting ke dalam kobaran api unggun yang langsung melahap potongan ranting kering tersebut.
Sejenak ketiga orang yang baru tiba itu merasa ragu apakah harus menghampiri pemuda itu atau membiarkan saja dirinya menikmati kesendirian nya.
Setelah mempertimbangkan sejenak, akhirnya Bayu Gatra pun memutuskan untuk menghampiri pemuda itu.
"Apakah kau masih betah sendirian atau kau membutuhkan seseorang untuk berbagi masalah mu, Dinda Indra?" Tanya Bayu Gatra begitu tiba di samping pemuda itu.
Pangeran Indra hanya menoleh sedikit lalu menggeser punggungnya untuk memberi tempat kepada Bayu Gatra.
"Oh itu bukan tempat ku. Ada yang lebih berhak," kata Bayu Gatra sambil tersenyum.
"Apakah kakang datang sendiri?" Tanya Pangeran Indra.
Pertanyaan tolol yang tidak pantas ditanyakan oleh seorang pendekar ini berhasil membuat Bayu Gatra geleng-geleng kepala. Dengan nada tertahan, dia segera bertanya. "Apakah karena sesuatu masalah, kau jadi kehilangan naluri kewaspadaan?" Tanya nya.
"Maafkan aku, Kakang. Aku saat ini benar-benar buntu," pangeran Indra menghela nafas berat lalu menghempaskan nya kuat-kuat.
"Aku tidak sendiri datang ke tempat ini. Di belakang mu ada Andini dan Gayatri," kata Bayu Gatra. Dia masih merasa heran. Apakah bisa kekalutan membuat seorang pendekar kehilangan indra pendengaran dan kewaspadaan?
"Oh.., benarkah? Di mana mereka saat ini?" Tanya Pangeran Indra. Mulutnya bertanya, tapi matanya tetap tertuju ke arah api unggun yang terus menyala membakar sisa-sisa ranting kering.
"Kemari lah Dinda Gayatri!" Seru Bayu Gatra.
Dengan ditemani oleh Andini, Gayatri pun segera berjalan pelan menuju ketempat dimana kedua pemuda itu berada.
__ADS_1
"Ada apa dengan mu, Kakang? Mengapa kau begitu bermuram durja? Kita baru saja mencapai kemenangan dalam peperangan. Tidak sepatutnya kakang menjadi kalut seperti ini," tegur Gayatri sambil duduk sedikit agak jauh dari Pangeran Indra.
"Aku masih memikirkan tentang syarat untuk menjadi seorang raja. Jika aku harus memilih antara Putri Melur atau Sekar Mayang, maka aku akan mengorbankan perasaan ku. Tapi jika tidak, maka aku akan mengorbankan Beratus ribu rakyat ku,"
"Kau aneh, Kakang. Mengapa kau begitu memikirkan tentang hal itu? Kau cukup menerimanya saja, lalu jalani dengan lapang dada. Semuanya akan membaik seiring berjalannya waktu," kata Gayatri pula.
Dia sadar diri bahwa tidak layak bagi pungguk merindukan rembulan. Bagaimanapun, dia sama sekali tidak memenuhi syarat untuk menjadi pendamping pangeran Indra Mahesa.
Dirinya hanya seorang anak yatim yang dipungut oleh seorang tokoh sakti bergelar Jari Malaikat. Lalu tokoh sakti itu mengangkatnya menjadi murid dan mengasuhnya sejak berumur sepuluh tahun.
"Lalu, bagaimana dengan mu?" Tanya Pangeran Indra Mahesa sambil menatap ke arah gadis itu.
"Bagaimana apanya, Kakang? Kau menikah lah. Aku ini adalah seorang pendekar dan aku akan berkelana dari satu tempat ke tempat lainnya untuk membantu orang yang membutuhkan bantuan. Tidak ada yang perlu dipikirkan," jawab Gayatri.
"Apa kau tidak kecewa andai aku menikah dengan kedua putri itu?" Tanya Pangeran Indra Mahesa.
"Kau ini, Kakang. Bagaimana aku kecewa? Kita ini adalah sahabat. Sebagai seorang sahabat, aku pasti akan bahagia untuk kebahagiaan mu," kata Gayatri tersenyum kecut.
"Berarti kau sedikitpun tidak memiliki rasa kepada ku?" Tanya Pangeran Indra yang langsung bangkit berdiri.
Pangeran Indra Mahesa hanya menatap kosong ke arah kepergian Bayu Gatra bersama dengan Andini. Dia tau mereka berdua tidak akan pergi jauh. Mereka hanya memberi ruang kepadanya agar lebih nyaman membicarakan masalah yang saat ini sedang dia hadapi.
Pangeran Indra kembali menarik nafas dalam-dalam lalu menghempaskan nafas itu kuat-kuat.
"Kakang.., kau menanyakan rasa kepada ku? Bagaimana aku memiliki rasa sedangkan kau tidak pernah mendahului. Aku ini seorang wanita. Walaupun tampak seperti bunga liar di tepi jurang, dan kau adalah kumbang di taman istana, tapi yang namanya bunga, tidak pernah mendatangi kumbang lalu dengan pasrah menyerahkan madunya untuk di hisap oleh sang kumbang. Aku bukan jenis betina murah seperti Putri Melur yang rela merendahkan dirinya demi mengejar seorang lelaki. Walaupun aku datang ke sini, itu karena kami dan semua bawahan mu sangat mengkhawatirkan dirimu. Selebihnya, tidak," kata Gayatri sambil bangkit berdiri lalu melipat kedua tangannya di depan dada. Sekuat tenaga dia menekan suaranya agar tidak bergetar saat mengucapkan kata-kata tadi. Bagaimanapun, dia adalah gadis yang telah jatuh cinta kepada pemuda itu sejak pandangan pertama. Bahkan jauh sebelum dia mengetahui bahwa pemuda itu adalah seorang pangeran.
"Jika aku katakan bahwa aku mencintaimu?" Tanya pangeran Indra Mahesa lalu menatap ke arah gadis cantik yang berada di sampingnya itu.
Walau remang-remang, namun tampak jelas bahwa wajah Gayatri saat ini seperti kepiting rebus. Wajah gadis ini berubah memerah begitu mendengar perkataan dari Pangeran Indra Mahesa barusan.
"Kakang..,"
Perkataan Gayatri seketika terputus ketika pangeran Indra Mahesa menarik kepala gadis itu lalu membenamkan wajah gadis itu di dalam pelukannya.
__ADS_1
"Aku mencintaimu, Gayatri. Aku sungguh sangat-sangat mencintaimu. Tapi di lain sisi, aku juga sangat mencintai rakyat ku. Terkadang aku merasa bahwa semuanya menjadi sia-sia. Namun, ketika aku kembali melihat tatapan penuh harap dari setiap pancaran mata milik seluruh rakyat ku, aku merasa berdosa jika aku harus mengorbankan mereka demi kepentingan pribadi. Jika paman Jaya Pradana masih hidup, aku akan dengan senang hati berdamai dengannya dan menyerahkan keris tumbal kemuning agar dia sah menjadi seorang raja di kerajaan Sri Kemuning. Dengan begitu, kita bisa hidup bersama. Mungkin kita akan bertani, berternak ayam dan ikan. Lalu kita akan memiliki anak perempuan dan laki-laki yang banyak. Kita akan memiliki ramai anak yang imut dan lucu," kata pemuda itu sambil terus memeluk dan membelai rambut gadis yang berada dalam pelukannya itu.
Sejenak dia merasakan ada sesuatu yang hangat menetes membasahi dadanya yang bidang berotot.
Pangeran Indra Mahesa melepaskan pelukannya. Sesaat dia terpaku melihat gadis yang dicintainya itu menangis.
Dengan lembut, pangeran Indra Mahesa mengusap air mata gadis itu lalu kembali memeluknya.
"Kakang, andai Jaya Pradana masih hidup, lalu kau memberikan keris tumbal kemuning kepadanya dan menjadikannya sebagai raja yang sah, apakah itu bisa menjamin bahwa dia tidak akan menghancurkan kerajaan Galuh dan Kerajaan Garingging. Kau memang sudah ditakdirkan untuk menjadi seorang raja demi kemaslahatan rakyat mu. Dan aku, akan selalu ada untukmu," kata Gayatri. Dia benar-benar mengerti kemelut yang sedang dihadapi oleh pemuda pujaannya itu.
"Aku mencintaimu, Dinda. Karena cintaku, aku tidak sanggup menjadikan mu sebagai selir. Tidak apa-apa jika anak kita kelak tidak bisa menjadi seorang raja. Itu lebih baik bagi dirinya agar tidak dikekang oleh adat istiadat yang akan membuat kisah yang sama dengan ayahnya kembali terulang. Itu baik untuk anak kita. Namun, yang membuat hatiku berdarah adalah, ketika dirimu harus menjadi selir. Aku sungguh tidak bisa,"
"Terkadang aku berfikir, mengapa aku selamat ketika jatuh ke jurang diwaktu tujuh belas tahun silam? Andai aku..,"
"Tolong jangan diteruskan kata-kata mu itu, Kakang! Semua sudah digariskan oleh Sang Maha Pencipta. Kita ini hanya lakon. Kita hanya wayang hidup yang akan menjalani semua yang telah diatur oleh sang Dalang. Dia lah dalang sesungguhnya. Syukuri apa yang telah Dia berikan. Jangan pernah menyesali sesuatu yang telah ditetapkan oleh-Nya! Terkadang menurut kita baik, tapi belum tentu baik untuk kita. Begitu sebaliknya,"
"Apakah Dinda punya jalan keluar bagi masalah ini?" Tanya Pangeran Indra. Saat ini, jawaban ada pada Gayatri. Apapun keputusan gadis itu, dia akan menerimanya.
"Aku akan kembali ke pertapaan guru ku. Jika kakang benar-benar mencintai ku, kita akan melangsungkan pernikahan di sana. Kakang boleh kembali ke istana dan aku akan tetap tinggal di tempat pertapaan milik guruku. Kakang boleh mengunjungi ku kapan saja jika kakang ada waktu. Dengan begitu, kakang akan selalu ada untuk rakyat, bisa menikahi seorang gadis berdarah biru, sekaligus tidak menjadikan diriku sebagai seorang selir," kata Gayatri dengan air mata yang semakin banyak mengalir.
Pangeran Indra Mahesa jatuh berlutut dihadapan gadis itu begitu mendengar perkataan yang keluar dari mulut seorang insan yang memiliki kebesaran hati yang sangat jarang dimiliki oleh gadis lain.
"Aku, pangeran Indra Mahesa mungkin bisa dikatakan sebagai lelaki yang sangat beruntung sekaligus lelaki yang sangat celaka dalam satu waktu," kata Pangeran Indra
"Sudahlah kakang. Semua akan indah bila disikapi dengan kebijaksanaan,"
Sepasang muda mudi itu kini duduk bersandar sepanjang malam itu dengan pangeran Indra terus mendekap gadis pujaan hati nya di dalam pelukannya.
Terasa damai dan tentram bagi Gayatri ketika berada dalam pelukan pemuda yang dia cintai. Dia merasakan adanya perlindungan dari pemuda itu.
Mereka tau, jika salah satu diantara keduanya mundur, maka mereka berdua pasti akan roboh. Maka dari itu, jalan terbaik agar tidak hancur adalah tetap bersama dan saling menguatkan.
Selesai baca, harap tinggalkan like nya ya!
__ADS_1
Bersambung...