Pangeran Tanpa Mahkota

Pangeran Tanpa Mahkota
Prajurit dari kerajaan Galuh kembali


__ADS_3

Panglima Pratisara berulangkali mengangguk tanda setuju dengan perkataan yang diutarakan oleh Panglima Rangga ini.


Sebagai seorang panglima kerajaan besar seperti Sri Kemuning yang telah menjadi panglima perang dan memimpin pasukan sejak usia tujuh belas tahun, tentunya Panglima Rangga ini sarat akan pengalaman di medan perang.


Hanya sekali saja beliau kecolongan. Yaitu ketika Jaya Pradana menyerang kota raja Sri Kemuning.


Andai ketika itu mereka siap? Pasti keruntuhan Kerajaan Sri Kemuning tidak akan pernah terjadi.


Hal yang menyebabkan keruntuhan kota raja Sri Kemuning adalah karena pertama, sang prabu Jaya Wardana tidak mempercayai perkataan para sesepuh kerajaan tentang pembelotan yang dilakukan oleh Jaya Pradana.


Yang ke dua, saat itu seluruh kota raja sedang bersuka cita menyambut kelahiran sang putra mahkota sehingga mengadakan pesta jamuan. Hal ini ternyata dimanfaatkan oleh Jaya Pradana untuk menggempur kota raja kerajaan Sri Kemuning dimana para prajurit yang tidak siap itu terpaksa melawan dengan senjata seadanya. Dampak dari ketidak siapan mereka inilah yang menyebabkan runtuhnya kerajaan Sri Kemuning ditangan Jaya Pradana.


"Lalu, bagaimana menurut mu, Kakang?" Tanya Panglima Pratisara meminta pendapat.


"Bawa kembali pasukan mu ke kota raja. Saat ini kami sedang merintis jalan baru menuju ke kerajaan Galuh. Setelah semuanya selesai, kami akan segera menggabungkan diri bersama dengan seluruh rakyat yang bersama dengan kami untuk membantu kerajaan Galuh,"


"Sendiko dawuh Kakang Senopati Arya Prana. Aku akan segera membawa kembali seluruh pasukan," kata panglima Pratisara.

__ADS_1


"Segeralah berangkat, Dinda! Semoga saja belum terlambat,"


"Aku mohon diri dulu, kakang!"


Dengan diiringi tatapan ketiga orang itu, para prajurit dari kerajaan Galuh pun berangkat meninggalkan kawasan yang tidak jauh dari pinggiran lembah jati itu untuk kembali ke kota raja kerajaan Galuh.


"Bagaimana Kakang?" Tanya Tumenggung Paksi.


"Mari kita kembali ke lembah jati. Kita harus merundingkan semua ini bersama dengan Putra Mahkota," jawab Senopati Arya Prana.


Mereka bertiga lalu kembali mengerahkan seluruh ilmu meringankan tubuh yang mereka kuasai untuk kembali masuk ke dalam markas mereka di Lembah Jati.


*********


"Yang mulia Gusti Prabu Jaya Pradana. Seluruh pasukan yang mengepung perbatasan antara desa Waringin dan lembah jati telah di tarik dan semuanya telah dikerahkan menuju ke kadipaten Gedangan," lapor Gagak Ireng kepada Jaya Pradana yang baru saja kembali dari bukit Menjangan menemui guru nya bernama Datuk Hitam dan Putranya Jaya Wiwaha perkasa Alam.


"Hahaha. Bagus. Beritahu kepada Raka Pati untuk segera mengirim utusan ke Setra kencana! Katakan kepadanya untuk segera menyerang kadipaten Karang Kencana. Bunuh semua yang melawan lalu duduki kadipaten itu. Saat ini, hanya itu saja pintu masuk yang bisa dengan mudah untuk di jangkau. Setelah itu, hancurkan kadipaten Gedangan! Itu akan membuat kita selangkah lebih dekat menuju ke pusat pemerintahan kerajaan Galuh," kata Jaya Pradana memberi perintah.

__ADS_1


"Hamba, Gusti!" Kata Gagak Ireng sambil menghaturkan sembah.


Setelah Gagak Ireng meninggalkan ruang Paseban itu, dia segera berjalan menuju ke kediaman Raka Pati.


Tiba di sana, dia mendapati calon Mahapatih kerajaan taklukan Sri Kemuning ini sedang memberi makan ayam jantan peliharaan nya dan tampak sumringah menyambut kedatangan Gagak Ireng.


"Gagak Ireng. Kabar apa yang kau bawa dari Gusti Prabu?" Tanya Raka Pati.


"Kakang Raka Pati. Gusti prabu memerintahkan agar Kakang mengirim utusan kepada para prajurit kita yang berada di Setra kencana. Gusti prabu Jaya Pradana menginginkan agar kita segera menyerang kadipaten Karang Kencana dan secepatnya menguasai kadipaten itu," jawab Gagak Ireng sekaligus memberitahu apa yang dipesankan oleh Jaya Pradana kepadanya untuk disampaikan kepada Raka Pati.


"Hmmm. Baiklah. Aku akan segera mengirimkan utusan ke Setra kencana. Sekarang, mari kita minum dulu sampai mabuk!" Ajak Raka Pati kepada Gagak Ireng.


"Apakah ada wanitanya, Kakang?" Tanya Gagak Ireng sambil menjilat bibirnya.


"Hahaha. Otak mesum mu memang rakus, Gagak Ireng. Baiklah! Mari kita bersenang-senang. Ada banyak para dayang di sini. Kau bisa memilih lima atau sepuluh sekaligus. Jika kau mampu, kau bisa mencicipi semuanya!" Kata Raka Pati.


Mereka berdua ini memang terkenal sebagai pejabat hidung belang. Sudah tidak terhitung jumlah anak gadis orang yang di rusak oleh ketiga orang ini sebelum Wikalpa mati di tangan Pangeran Indra.

__ADS_1


Raka Pati juga dengan paksa menculik anak gadis orang untuk menjadi pelayan nafsu bejatnya dengan dalih, mempekerjakan mereka sebagai dayang. Dan anehnya, Jaya Pradana sama sekali tidak keberatan dengan kelakuan dua orang kepercayaannya ini.


Bersambung...


__ADS_2