Pangeran Tanpa Mahkota

Pangeran Tanpa Mahkota
Rencana menjual perhiasan


__ADS_3

Rombongan penunggang kuda yang berjumlah lima orang itu kini tampak memasuki kadipaten Kerta kencana tanpa sedikitpun mengurangi lari kuda yang mereka tunggang.


Dari cara ke-lima orang ini menunggang kuda, tampak jelas bahwa mereka sangat terburu-buru untuk segera tiba di tempat tujuan.


Ketika memasuki pusat kota kadipaten, mereka berbelok ke kanan di salah satu penginapan terbesar di kadipaten ini lalu berhenti tepat di depan penginapan yang sekaligus adalah kedai makan ini. Seorang lelaki setengah baya tampak keluar dari dalam kemudian membantu sang penunggang kuda untuk menambatkan tali kuda mereka di salah satu pohon untuk merumput.


"Selamat datang Den. Silahkan!" Kata lelaki setengah baya itu sambil mempersilahkan tamunya untuk masuk.


"Pak. Apakah sahabat-sahabat saya masih menginap di sini?" Kata lelaki penunggang kuda itu bertanya.


"Oh. Masih Den."


"Terimakasih pak. Kalau begitu, tolong sediakan makanan yang enak dan lezat ya. Ini untuk anda!" Kata lelaki itu sambil memberikan sekeping uang Ringgit emas kepala lelaki paruh baya itu.


"Ya Tuhan. Ini terlalu besar Den. Tidak ada kembaliannya." Kata sang pelayan ketakutan melihat uang Ringgit emas itu.


"Tidak apa-apa pak. Sekalian untuk sewa kamar sahabat kami yang menginap di sini." Kata lelaki itu dengan senyum ramah sambil menepuk pundak pelayan tadi.


"Masih sisa banyak Den."


"Ya sudah. Ambil saja untuk bapak kembaliannya. Sekarang, kami lapar. Tolong cepat sedikit ya pak!"


"Ba-baik.., baiklah Den." Kata lelaki itu lalu bergegas ke belakang untuk menyiapkan pesanan dari tamu kedai makannya itu.


"Kanda Arya Prana. Apakah Gusti Permaisuri baik-baik saja di sini? Aku sangat mengkhawatirkan keselamatan junjungan kita itu."


"Dinda Wiguna, kau tenang saja. Lihat di depan sana. Itu adalah panglima Rangga yang menyamar."

__ADS_1


"Sssst! Jangan lihat. Kalau kau begitu, penyamarannya akan terbongkar." Tegur Senopati Arya Prana.


Mereka lalu berdiam diri dan tidak berbicara lagi sampai makanan yang mereka pesan telah dihidangkan di atas meja.


Setelah selesai makan, mereka lalu memesan dua kamar di penginapan itu yang kebetulan kamarnya berdekatan dengan kamar sang Permaisuri menginap.


Sambil membawa buntalan masing-masing, mereka lalu bergegas menuju ke kamar yang mereka pesan tadi.


Ketika sudah berada di dalam kamar, Senopati Arya Prana langsung memberi tanda ke kamar sebelah tempat sang Permaisuri tinggal lalu segera memanjat dinding dan segera melompat turun menyeberangi kamarnya.


Begitu Senopati Arya Prana berada di kamar sebelah, dia langsung berlutut memberi sembah kepada seorang wanita muda dan cantik yang berada di hadapannya itu.


"Bagaimana dengan tugas mu Arya Prana?" Tanya sang wanita itu.


"Ampun Gusti Permaisuri. Kedatangan kami ke kerajaan Galuh telah didahului oleh Raka Pati dan prajurit Paku Bumi. Mereka telah mengeluarkan ancaman kepada Gusti Prabu Rakai Galuh untuk tidak menerima pelarian dari Sri Kemuning. Andai Gusti Prabu Rakai Galuh tetap memaksa, maka Jaya Pradana akan mengirimkan pasukan untuk menghancurkan kerajaan Galuh." Lapor sang Senopati.


"Lalu, apakah ada sesuatu yang dikatakan oleh Ayahanda Gusti Prabu Rakai Galuh?" Tanya sang Permaisuri.


"Ampun Gusti Permaisuri. Baginda menyampaikan titah agar kita segera berangkat menuju lembah jati. Sebuah lembah perbatasan tiga negara dan menetap di sana."


"Tadinya Baginda akan mengirim seribu prajurit untuk membantu kita membuka hutan di lembah jati. Tapi hamba tolak karena akan menimbulkan kecurigaan bagi Jaya Pradana. Mohon ampun Gusti!" Kata Senopati Arya Prana sambil mengatupkan kedua tangannya di depan kening.


"Bagus. Itu adalah tindakan yang cukup bagus untuk tidak menarik perhatian musuh. Lalu, apakah ada lagi pesan dari Ayahanda Prabu?" Tanya sang permaisuri.


"Ampun Gusti Permaisuri. Baginda Prabu ada mengirim bekal berupa Ringgit emas, perhiasan dari berbagai batu mulia, dan juga batangan emas sebagai bekal untuk kita bertahan di kawasan lembah jati." Jawab Arya Prana.


"Arya Prana. Kau ajak adikmu Arya Permadi dan Wiguna! Pisahkan Ringgit emas itu lalu jual semua emas dan perhiasan. Lalu semua hasil dari penjualan itu, belikan kepada senjata dan segala perlengkapan. Kita akan menguasai seluruh lembah jati dan jalur-jalur yang sering dilewati. Kita akan menjadi Penyamun lembah jati. Secepatnya kau berangkat untuk membeli perlengkapan. Setelah itu, kita langsung berangkat secara terpisah-pisah menuju hutan lebat itu. Kemudian kita akan bersama-sama mempelajari kawasan hutan itu."

__ADS_1


"Sendiko dawuh Gusti Permaisuri. Segala yang Gusti Permaisuri titah kan, akan hamba laksanakan."


"Hmmm. Segeralah berangkat dan jangan di tunda lagi. Kita tidak tau para begundal Jaya Pradana akan tiba kapan saja di sini!"


"Baik Gusti Permaisuri. Hamba mohon diri." Kata Senopati Arya Prana lalu menyembah sekali lagi kemudian melesat ke arah dinding, merayap lalu menyelinap di balik sekeping papan yang terbuka kemudian turun kembali di kamar yang tadi dia sewa.


"Bagaimana Kakang Prana?" Tanya Wiguna ketika Senopati Arya Prana sudah turun dari tempatnya menyelinap tadi.


"Gusti Permaisuri memerintahkan kita untuk menjual seluruh pemberian dari Gusti Prabu Rakai Galuh. Hasilnya di tukar dengan senjata dan perlengkapan. Kita akan merampok setiap prajurit yang membawa upeti dari paku bumi ke Sri Kemuning. Juga dari kawasan-kawasan lain. Hal ini demi melemahkan mental orang-orang Jaya Pradana."


"Wiguna! Kau cari adik ku Arya Permadi! Kita akan segera menyamar sebagai saudagar kaya yang menjual perhiasan. Cepatlah!" Perintah Arya Prana kepada Wiguna untuk mencari adiknya yaitu Arya Permadi.


"Sendiko dawuh Kakang. Kakang Prana tunggu di sini. Saya akan segera menemukan Arya Permadi." Kata Wiguna sambil berbalik menuju ke arah pintu.


"Wiguna! Ingat untuk memperhatikan di sekeliling mu. Hati-hati dengan tilik sandi yang mungkin sudah dikirim oleh pangeran Jaya Pradana!" Kata Senopati Arya Prana.


Dia arif benar tentang masalah seperti ini ketika memburu para pelarian. Hal yang paling umum dilakukan adalah dengan mengirim tilik sandi sebanyak-banyaknya untuk melacak orang-orang yang menjadi buronan sebuah kadipaten atau kerajaan.


Karena tadinya para pelarian ini adalah mantan punggawa kerajaan yang memiliki pangkat yang tidak rendah, maka strategi seperti ini adalah makanan bagi mereka.


Kalau dulu mereka selalu mengatur siasat untuk melacak keberadaan para penjahat yang dikehendaki oleh kerajaan, kini gantian mereka yang menjadi buronan. Maka di sini, adu taktik lah yang berbicara.


"Kakang tenang saja. Saya akan bergerak dengan sangat berhati-hati. Kakang juga harus berhati-hati. Andai aku tidak kembali dalam sepenanakan nasi, kakang boleh keluar dari penginapan ini untuk mencari ku."


"Baiklah. Berhati-hatilah." Kata Arya Prana sekali lagi.


"Aku pergi dulu Kakang!" Kata Wiguna lalu membuka pintu dan hilang dari pandangan mata Arya Prana di balik tikungan lorong menuju ke bagian kedai makan.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2