
Di balik gerumbulan semak belukar, ribuan pasang mata tampak sedang mengamati ke arah ribuan prajurit yang mencoba melarikan diri ke arah dari mana mereka masuk tadi.
Begitu jarak diantara mereka dengan gerombolan yang kocar kacir itu berjarak sepenjangkauan anak panah, tampak pemimpin dari pasukan itu memberi aba-aba dengan gerakan bendera kecil berwarna hitam ditangannya.
Begitu bendera tersebut terangkat, para prajurit yang bersembunyi di semak belukar itu mulai siap memasang anak panah pada busurnya.
Kini bendera yang berada di tangan pemimpin pasukan tersebut telah turun separuh, maka semua ujung anak panah masing-masing telah di sulut dengan api.
Ketika bendera aba-aba di kibarkan dari atas sampai ke bawah, maka ribuan anak panah berapi melesat ke arah prajurit yang kocar kacir itu.
Sekali lagi api berkobar membakar seluruh apa yang ada di tempat itu termasuk, para prajurit yang berlarian tadi.
Karena pakaian mereka semua memang telah basah oleh minyak sejak di lorong jalan lembah jati, maka api pun sangat lahap membakar pakaian mereka.
Jerit, pekik dan teriakan kembali terdengar menyayat hati.
Selesai dengan serangan pertama, kini dari atas pohon berjatuhan balok-balok kayu besar dengan besi tertancap di sana-sini pada bagian balok tersebut dan langsung menghantam ke arah prajurit tadi.
Kini suasana sungguh sangat kacau balau.
"Seraaaaang!"
"Seraaaaang!"
__ADS_1
"Bunuh mereka semuanya!"
"Ayo bunuh. Jangan biarkan seorangpun yang dapat meloloskan diri!"
Bermacam-macam teriakan pembangkit semangat menggema di hutan lembah jati ini.
Saat ini, prajurit dari Paku Bumi hanya tinggal menunggu musnah saja.
Dari anak panah berapi, dijatuhi oleh balok kayu yang memang sudah dipersiapkan, dan dalam keadaan kacau-balau sedemikian rupa, mereka kembali harus di serang dari arah depan, belakang, samping kiri dan samping kanan. Benar-benar tidak ada tempat melarikan diri bagi mereka.
Karena sudah tau bahwa menyerah akan mati, melawan juga mati, maka mereka kini memilih yang ke dua.
Seluruh prajurit yang tadi sempat kocar-kacir, kini mulai merapatkan barisan lalu membuat kelompok bulat dengan punggung saling membelakangi untuk menghadapi segala kemungkinan dari kepungan yang dilakukan oleh prajurit kerajaan Galuh.
"Wahai seluruh pasukan Paku Bumi! Saat ini kita sudah tidak memiliki pilihan lagi. Melawan atau tidak, kita tetap akan mati. Maka dari itu, lawaaaan! Lawan sampai titis darah terakhir. Ayo lawan!"
Setelah tadi sempat kocar kacir dan bisa dipastikan bahwa saat ini mereka tidak lebih dari lima ribu prajurit saja yang tersisa dari lima puluh ribu pasukan, kini semangat melawan itu mulai bangakit. Bisa dikatakan inilah puncak dari peperangan ini.
Sementara itu, sekitar empat belas ribu pasukan gabungan dari kerajaan Galuh, Lembah Jati dan seribu prajurit dari kerajaan Garingging telah mengepung pasukan dari Paku Bumi.
Tidak sedikit pun mereka memberikan celah untuk mereka melarikan diri. Semuanya tertutup rapat. Satu-satunya jalan bagi mereka untuk selamat adalah, hanya dengan cara memenangkan peperangan. Jika kalah, sejuta persen tidak akan ada yang selamat.
Saat ini, lelaki yang memegang bendera hitam yang memberikan aba-aba tadi mulai mengatur ulang posisi pasukannya.
__ADS_1
"Prajurit yang bersenjatakan tombak?!"
"Siap!" Jawab para prajurit yang bersenjata tombak.
"Atur barisan kalian di bagian paling depan!"
"Siap laksanakan!"
Setelah kata perintah itu keluar, kini tampak para prajurit bersenjata pedang mundur ke belakang dan prajurit yang bersenjata tombak maju ke depan dengan perisai mulai di rapatkan bagaikan tembok besar.
"Pasukan berkuda! Tempati posisi capit kini dan capit kanan!"
"Siap!"
Pasukan berkuda kini membagi dua pasukan lalu segera menempati bagian kiri dan kanan dari pasukan berperisai dengan senjata tombak tadi.
"Pasukan pemanah siap?!"
"Siap.., siap.., siap!" Sambut mereka dengan suara bergema memenuhi angkasa.
"Lepaskan!"
Begitu pedang lelaki yang memberikan perintah tadi dikibaskan memberi aba-aba, ribuan anak panah kini menderu ke arah sisa pasukan prajurit dari Paku Bumi bagaikan hujan.
__ADS_1
Kembali jerit dan pekik terdengar memenuhi angkasa dan para prajurit yang terluka oleh anak panah yang dilepaskan oleh pasukan kerajaan Galuh. Kejadian ini persis sama ketika prajurit dari Paku Bumi menjebak pasukan prajurit dari kerajaan Setra kencana dulu. Terkepung dan dihujani oleh anak panah.