
Matahari kini tidak lagi seterik siang tadi. Saat ini bias cahaya yang ditimbulkannya tidak segarang tadi ketika tepat di paras kepala.
Sinar kekuningan tampak menggantung di ufuk barat. Terlihat sangat indah sekali sore hari ini bagi sebagian penduduk yang desa mereka berada jauh dari lembah jati ini.
Namun, siapa sangka keindahan sore yang terlihat dari desa yang berada jauh dari lembah jati itu, tidak berlaku di bawah tebing dan di sekitar hutan lembah jati ini. Ini karena, sejak tadi siang sampai menjelang sore ini, telah terjadi pertempuran antara prajurit kerajaan Galuh yang mencegah prajurit dari Paku Bumi yang ingin menyerang negri mereka.
Banyak mayat bergelimpangan saat ini di sepanjang jalan di lembah jati tersebut, dan kebanyakan dari mayat-mayat itu adalah mayat para prajurit dari Paku Bumi.
Di tengah kekalahan yang diderita oleh mereka yang tidak ada satupun yang selamat, ada seseorang dari mereka yang berhasil kabur meninggalkan para prajurit yang ketika itu sedang mati-matian bertahan dari gempuran perangkap yang dipasang oleh para prajurit kerajaan Galuh yang bertahan.
...***...
Satu sosok tubuh tampak melesat dengan menggunakan ilmu lari cepat dari arah lembah jati menuju ke arah desa Waringin.
Tampak dari cara larinya, orang ini memiliki ilmu meringankan tubuh yang sangat tinggi.
Ini dapat terlihat dari pakaian yang dikenakan oleh orang ini adalah pakaian zirah perang atau Armor yang sebagian besar terbuat dari besi yang telah di bentuk sedemikian rupa. Namun, berat nya pakaian perang yang terbuat dari besi itu sepertinya tidak berpengaruh bagi lelaki itu. Di sini lah menandakan bahwa lelaki ini memiliki ilmu Kanuragan yang tidak rendah.
Sambil terus berlari, sesekali orang ini melirik ke arah belakang seperti ada sesuatu yang dikhawatirkan oleh orang ini.
__ADS_1
Ketika dia telah sedikit agak jauh meninggalkan hutan di lembah jati itu, baru lah lelaki itu memperlambat laju larinya dan kini dia telah memasuki sebuah desa yang telah lama ditinggalkan oleh penduduknya.
Baru saja dia memasuki desa tersebut, lelaki itu kini dikejutkan oleh seorang pemuda yang berdiri menghadang jalannya dengan cara membelakangi.
Tampak rambut pemuda yang mengenakan pakaian perang berwarna putih keperakan berkibar di tiup angin sore yang sepoi-sepoi.
Sementara itu, di punggung pemuda itu tersandang sebilah pedang dengan kepala burung rajawali dengan memiliki sepasang mata terbuat dari batu merah delima.
"Mau melarikan diri seperti pengecut? Begitukah cara mu mempertanggungjawabkan perbuatan mu, Paman?" Tanpa menoleh, pemuda yang berdiri membelakangi lelaki yang baru tiba itu melontarkan pertanyaan bernada ejekan.
"Si-sia-siapa kau ini?" Tanya lelaki itu tergagap. Namun, untuk agar tidak terlalu ketara bahwa dia sedang ketakutan, maka dia sedikit memperbesar suaranya.
"Aku adalah keponakan mu, Paman. Keponakan yang kau rampas kebahagiaannya. Keponakan yang telah kau bunuh Ayahnya. Keponakan yang telah kau gulingkan tahtanya secara paksa. Aku adalah Indra Mahesa Jaya Wardana Perkasa Alam!" Jawab pemuda itu lalu membalikkan badannya menghadap ke arah lelaki yang baru tiba tadi.
Lelaki itu berulang kali mengusap matanya seperti tidak percaya terhadap apa yang dilihatnya saat ini.
Dia seperti melihat gambaran pada dirinya ketika sekitar dua puluh tahun silam.
Memang, antara Jaya Wardana dan Jaya Pradana memiliki wajah yang sangat mirip bahkan sangat sulit untuk dibedakan. Hanya saja, Jaya Wardana lebih lembut dan tampak bersahaja. Berbanding terbalik dengan Jaya Pradana yang selalu urakan, kasar dan selalu berbuat sesuka hatinya.
__ADS_1
"Kau terkejut, Paman?" Tanya Pangeran Indra Mahesa sambil tersenyum sinis.
"Apakah kau akan membalaskan dendam kematian ayah mu kepada ku?" Tanya lelaki itu yang ternyata adalah Raja Jaya Pradana adanya.
"Apakah jika aku membunuh mu, mendiang Ayahanda ku akan hidup kembali?" Tanya Pangeran Indra.
"Lalu, untuk apa kau mencegat langkah ku?" Tanya Raja Jaya Pradana.
"Kembalilah ke jalan yang benar dan lurus, Paman! Aku akan memaafkan semua kesalahan mu. Akuilah diriku sebagai pewaris tahta kerajaan Sri Kemuning yang sah di hadapan seluruh rakyat! Apakah Paman siap mengakui itu?" Tanya Pangeran Indra Mahesa.
Mungkin jika di pikir-pikir, jika menurut hati yang panas, pangeran Indra Mahesa ini bisa dikatakan bodoh, karena memaafkan orang yang telah membunuh ayah kandungnya sendiri. Namun, pangeran Indra tidak ingin menjadi sebatang kara di dunia ini. Untuk apa dia menjadi raja jika tahta kerajaan yang dia duduki di cuci dengan darah paman kandung nya sendiri. Atas pertimbangan ini lah yang membuat Pangeran Indra Mahesa ingin maafkan kesalahan Paman nya ini dan mengajaknya untuk kembali ke jalan yang benar.
Baginya, asalkan sang Paman bertaubat, maka dia akan dengan senang hati memaafkan. Dia telah menjadi yatim sejak lahir. Dia juga tidak ingin kehilangan pamannya tersebut.
"Itu tidak mungkin, Keponakan ku. Aku telah banyak berkorban demi tahta kerajaan Sri Kemuning. Telah banyak yang aku korbankan, termasuk nyawa kakak kandung ku sendiri yaitu Kanda Prabu Jaya Wardana. Bagiku, ketika aku melangkah, maka tidak ada jalan untuk mundur," jawab Jaya Pradana menolak keinginan pangeran Indra Mahesa.
"Lalu, untuk apa kau melarikan diri seperti pengecut?" Tanya Pangeran Indra.
"Hahaha. Aku tau kekuasaan ku telah berakhir. Tadinya aku melarikan diri untuk menanti kedatangan mu dan bala tentara yang kau miliki di kerajaan Sri Kemuning. Aku tau andai pun aku mati, biarkan aku mati di atas singgasana yang selama ini aku perjuangkan!" Jawab Raja Jaya Pradana sambil tertawa getir.
__ADS_1
AKU HARAP AGAR PEMBACA TIDAK PELIT LIKE!
Bersambung...