Pangeran Tanpa Mahkota

Pangeran Tanpa Mahkota
Detik-detik sebelum pertempuran


__ADS_3

Baru saja pasukan besar dari Paku Bumi yang dipimpin langsung oleh Jaya Pradana memasuki jalan yang diapit oleh kedua tebing, kini dari arah hutan, bermunculan kepala-kepala manusia yang menyembul dari balik gerumbulan semak belukar.


Jumlah mereka saat ini mencapai sekitar ribuan orang dengan senjata panah siap dilepaskan tergenggam erat di tangan masing-masing.


Dari arah belakang pula, tampak rombongan berkuda mulai membuat jebakan di jalan masuk tadi. Ini semua mereka lakukan agar para prajurit yang nantinya melarikan diri ke belakang, akan segera mendapat kejutan dari mereka.


"Tumenggung Paksi.., Gusti Manggala Yuda telah memerintahkan kepada kita semua untuk tidak ikut bertempur di lembah jati. Baginda berpesan bahwa kita hanya cukup menunggu di sini saja. Ketika mereka bertempiaran mencari selamat dengan cara mundur, di sini lah kita akan menyerang mereka!" Kata Sadewa menyampaikan pesan dari Pangeran Indra Mahesa.


"Hmmm. Baiklah! Apakah ada lagi pesan dari junjungan?" Tanya Tumenggung Paksi.

__ADS_1


"Benar, Gusti Tumenggung. Baginda berpesan untuk menyiapkan panah-panah api. Entah apa maksud dari semua itu, namun kita hanya harus mengikuti apa yang diperintahkan," kata Sadewa pula.


"Hmmm. Pasti ada alasan yang semuanya tidak perlu dijelaskan dengan rinci. Namun aku dapat membaca maksud dari Gusti Pangeran ini. Karena, aku juga ikut menyiapkan jebakan itu beberapa purnama yang lalu," kata Tumenggung Paksi.


Tumenggung Paksi kini telah memerintahkan kepada seluruh prajurit pimpinannya untuk segera menyebar dengan anak panah yang telah dibungkus dengan kain di bagian mata yang tajam. Rencananya, begitu pasukan dari Paku Bumi melarikan diri ke arah mereka, maka panah-panah berapi akan menyambut mereka sebagai serangan pertama sebelum dilakukannya serangan serentak. Karena, ketika pasukan yang sudah kocar-kacir itu di serang, maka pertahanan mereka akan menjadi lemah. Ketika pertahanan dalam sebuah pasukan menjadi lemah karena telah kocar-kacir, jumlah yang ramai bukan lagi menjadi andalan utama.


***


"Dengarkan wahai seluruh prajurit ku yang setia. Begitu panah diren dilepaskan oleh Andini, maka bersiaplah untuk melakukan serangan!" Kata Pangeran Indra Mahesa yang disambut dengan semangat oleh seluruh mereka yang berada di tempat itu.

__ADS_1


Bukan hanya para lelaki saja. Bahkan emak-emak dan anak kecil pun ikut memungut batu kerikil untuk mereka lemparkan ke arah prajurit dari Paku Bumi yang akan melewati tempat itu.


Setelah selesai dengan perkataan nya, pangeran Indra lalu melesat ke atas puncak tebing paling tinggi dan kini tegak berdiri bagai batu karang memperhatikan ke arah ujung jalan di mana pasukan Paku Bumi akan tiba di bawah mereka tidak lama lagi.


Sementara itu, Andini tampak menerima busur panah beserta anak panah nya dari Gayatri yang langsung berjalan tepat di tengah-tengah antara timur dan barat tebing itu dengan sangat anggun sembari mengacungkan anak panah yang tinggal menunggu disulut dengan api.


"Lebih mendekat! Lebih mendekat! Lebih mendekat!" Kata Pangeran Indra Mahesa dalam hati.


Dia kini menggenggam erat gagang pedang lambang pemimpin tertinggi pasukan itu.

__ADS_1


Begitu nantinya pedang tersebut teracung ke atas, maka Andini akan melepaskan panah diren sebagai tanda bahwa semuanya mulai menyerang musuh.


Bersambung...


__ADS_2