Pangeran Tanpa Mahkota

Pangeran Tanpa Mahkota
Runtuhnya kerajaan Setra kencana


__ADS_3

Dua orang penunggang kuda terlihat sedang memecut lari kuda masing-masing sehingga meninggalkan bekas debu yang berterbangan.


Dua orang yang mengenakan pakaian penduduk biasa ini adalah tilik sandi yang dikirim oleh Mahapatih Mahesa Galuh ke kerajaan Setra kencana.


Setelah melewati jalan setapak di sebuah lembah, kini dua orang penunggang kuda itu mulai melewati sebuah jalan di mana kiri dan kanan jalan tersebut terdapat dinding tebing yang tinggi. Ini adalah kawasan bukit batu di kadipaten Kerta kencana ini dan sangat strategis untuk mencegat musuh yang ingin memasuki kawasan kerajaan Galuh dari kerajaan Setra kencana.


Tanpa menghiraukan kuda tunggangan mereka yang sudah sangat kelelahan, mereka terus saja menggebah kuda tunggangan masing-masing lalu berpisah di persimpangan jalan.


Penunggang kuda yang pertama berbelok ke kiri menuju kadipaten Gedangan sementara penunggang kuda yang ke dua, terus lurus ke depan menuju kota raja kerajaan Galuh ini.


Begitu penunggang kuda yang pertama tadi tiba di depan gerbang keraton kerajaan Galuh, dia segera turun dari kudanya dan membiarkan prajurit penjaga gerbang menuntun kuda tersebut untuk ditambatkan.


Begitu dia tiba di depan rumah besar milik sang Mahapatih Mahesa Galuh, dia pun segera berlutut di depan pintu lalu berteriak. "Gusti Mahapatih, celaka Gusti. Kerajaan Setra kencana telah runtuh. Mereka telah kalah dalam peperangan di tangan Jaya Pradana,'


Laporan dari seorang Purwacaraka ini menarik perhatian para pembesar di kerajaan Galuh ini termasuk beberapa Senopati dan rakrian Mentri lainnya.


"Apa yang terjadi Sadewa?" Tanya Mahapatih Mahesa Galuh begitu dia tiba di depan lelaki pembawa berita tadi.


"Kabar buruk Gusti Mahapatih. Kerajaan Setra kencana telah runtuh. Raja mereka telah terbunuh. Semuanya hancur lebur ditangan pasukan Paku Bumi," kata Sadewa lagi mengulangi laporannya.


"Oh Tuhan yang maha agung. Sungguh, ini adalah berita yang sangat mengejutkan. Kau tunggu di sini! Aku akan menghadap Gusti Prabu Rakai Galuh untuk melaporkan berita yang kau bawa," kata Mahapatih Mahesa Galuh bergegas menuju ke balai sema agung.


Saat itu Gusti Prabu Rakai Galuh baru saja selesai bersantap bersama permaisuri ketika seorang Abdi dalem memberitahu bahwa Gusti Mahapatih Mahesa Galuh memohon untuk bertemu dan saat ini sedang menunggu di balai sema agung.


Dengan diiringi oleh beberapa prajurit pengawal, Gusti Prabu Rakai Galuh berjalan menuju ke balai sema agung yang di sana telah tampak Mahapatih Mahesa Galuh sudah berdiri dengan sikap hormat menyambut kedatangan Baginda Prabu tersebut.

__ADS_1


"Terimalah salam sembah hamba Kanda Gusti Prabu!" Kata Mahapatih Mahesa Galuh dengan sebelah kaki di tekuk dan mengatupkan kedua tangannya di depan kening.


"Bangunlah Dinda Mahesa Galuh! Ada apa kau menginginkan bertemu dengan ku? Bukankah hari ini tidak ada pertemuan?" Tanya Gusti Prabu Rakai Galuh sambil berjalan menuju ke kursi di singgasana nya.


"Ampun beribu ampun kanda Gusti Prabu. Baru saja tilik sandi yang hamba kirim kembali dari kerajaan Setra kencana,"


"Hmmm... Berita apa yang dibawa oleh tilik sandi yang kau kirim itu Dinda Mahesa Galuh?" Tanya Sang Prabu.


"Ketiwasan Kanda Gusti Prabu,"


"Apa maksudmu dengan mengatakan ketiwasan? Bicara lah yang benar. Ada apa sebenarnya?" Tanya Gusti Prabu Rakai Galuh tidak sabaran.


"Tilik sandi yang hamba kirim telah membawa kabar bahwa pasukan yang dipimpin oleh Gusti Prabu Kerta kencana berhasil di taklukkan oleh pasukan yang dipimpin oleh Jaya Pradana. Saat ini kerajaan Setra kencana telah runtuh Kanda Prabu!"


Ctaaaar!!!


"Panggil! Panggil orang yang kau tugaskan menjadi tilik sandi itu. Panggil dia menghadap sekarang juga!" Perintah Gusti Prabu Rakai Galuh.


"Sendiko dawuh kanda Gusti Prabu," kata Mahapatih Mahesa Galuh sambil memberikan perintah kepada prajurit yang ada di tempat itu untuk memanggil Sadewa yang sedang berada di rumahnya.


Tak lama kemudian prajurit tadi datang kembali bersama dengan seorang lelaki berpakaian penduduk biasa dan langsung berlutut memberi hormat kemudian duduk bersila tidak jauh dari kursi tempat Mahapatih itu duduk.


"Benar kau adalah tilik sandi yang di utus oleh Mahapatih Mahesa Galuh?" Tanya sang Prabu.


"Ampun Gusti Prabu. Hamba bersama seorang lagi memang ditugaskan oleh Gusti Mahapatih Mahesa Galuh untuk menyelidiki keadaan di Setra kencana," jawab lelaki bernama Sadewa itu sambil menghaturkan sembah.

__ADS_1


"Apa kau tau semua kejadiannya?" Tanya Gusti Prabu Rakai Galuh lagi.


"Hamba Gusti Prabu!" Jawab Sang tilik sandi.


"Sekarang, ceritakan semuanya kepada ku!" Perintah Sang Prabu.


"Sendiko dawuh Gusti Prabu!" Kata Sadewa lalu sebelum menuturkan peristiwa itu, terlebih dahulu dia memberikan sembah kemudian barulah dia menuturkan semua kejadian yang berlaku di Setra kencana.


Ketika itu, pasukan yang di pimpin oleh tiga punggawa berpangkat tinggi di kerajaan Paku Bumi yaitu Raka Pati, Gagak Ireng, dan Wikalpa telah mendapat perintah dari raja mereka yaitu Prabu Jaya Pradana untuk membagi masing-masing pasukan menjadi tiga ketumbuk.


Raka Pati mendapat posisi paling tengah dengan mengepalai sekitar lima ribu pasukan dengan rincian, lima ratus orang tentara berkuda, lima ratus orang pemanah, seribu orang pengangkut peralatan perang dan dua ribu pasukan jalan kaki.


Sementara itu untuk Wikalpa, dia mendapatkan perintah untuk mengepalai pasukan seramai dua puluh ribu tentara. Begitu pula dengan Gagak Ireng. Sisa dari pasukan berjumlah lima ribu lagi tetap berada di istana untuk mengawal istana dari segala macam kemungkinan yang akan terjadi.


Dengan perencanaan yang sudah sangat matang, berangkat lah pasukan sebanyak empat puluh lima ribu tentara ini meninggalkan kerajaan Sri Kemuning kemudian berpisah menjadi tiga bagian dengan lima ribu pasukan yang dipimpin oleh Raka Pati ini terus maju ke depan untuk memancing tentara dari kerajaan Setra kencana.


Kedua pasukan ini kemudian bertemu di medan perang yang luas itu dan bersiap-siap untuk saling serang begitu perintah perang turun dari sang Raja.


Semangat di dalam pasukan Setra kencana ini begitu menggebu-gebu karena mereka dipimpin langsung oleh raja mereka. Kemudian mereka semakin bersemangat karena melihat hanya pasukan kecil saja yang akan berperang dengan mereka.


Menurut perkiraan, lima ribu tentara itu akan musnah hanya sekali libas saja dengan kekuatan penuh dari kerajaan Setra kencana yang berjumlah lima belas ribu prajurit itu.


Setelah genderang perang ditabuh oleh kedua belah pihak dengan terompet saling sahut menyahut, kini pasukan kedua belah pihak mulai melancarkan serangan di dahului melesatnya ratusan panah ke arah masing-masing pasukan.


Jerit pekik pun kiat terdengar dari kedua belah pasukan menandakan bahwa salah satu dari ribuan manusia itu sedang terlena tebasan senjata.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2