Pangeran Tanpa Mahkota

Pangeran Tanpa Mahkota
Rencana membongkar kedok Pratisara


__ADS_3

Pagi masih terlalu dini bagi seseorang untuk meningkatkan tempat tidurnya. Pagi yang masih sangat gelap. Mungkin kata yang tepatnya adalah 'pagi buta,' namun, itu tidak menjadi penghalang bagi seorang lelaki dengan memakai zirah perang. Lelaki itu keluar mengendap-endap ke arah beberapa ekor kuda yang tertambat di salah satu pohon di dekat perkemahan.


Dengan gerakan yang sangat lincah dan ringan sekali, lelaki itu melompat lalu hinggap dengan sangat manis di punggung salah satu dari sekian banyaknya kuda itu.


Sambil merunduk untuk mengelus-elus kepala sang kuda, lelaki itu perlahan menepuk punggung kuda. Tunggangannya itu agar tidak terlalu menimbulkan suara brisik.


Semakin dalam lelaki itu memasuki hutan belantara, kini dia turun dari punggung kudanya lalu menuntun kuda tersebut ke arah sebatang pohon yang sangat besar sehingga akar-akarnya menonjol membentuk susunan layaknya kamar-kamar.


Dari salah satu ceruk akar timbul di pohon itu, lelaki tadi seperti meraba-raba kemudian tak lama setelah itu, ditangannya kini terdapat satu buntalan yang ketika di buka, ternyata berisi pakaian prajurit yang berbeda warna dan corak dari yang dia kenakan.


Dengan sigap lelaki itu menanggalkan pakaiannya, setelah itu dia juga menanggalkan sejenis kulit tipis di wajahnya dan juga kumis dan jenggot palsu.


"Aku harus lekas keluar dari hutan ini menuju ke kadipaten Gedangan," batin lelaki itu sambil terus mencopot pakaiannya.


Setelah berganti pakaian, lelaki itu kini menuntun kudanya menuju ke arah selatan untuk segera berangkat menuju ke kadipaten.


Belum lagi lelaki itu sepenuhnya meninggalkan kawasan hutan itu, dari arah depan dia melihat seorang penunggang kuda seperti kesetanan menuju ke arah yang sama yang hendak dia tuju.

__ADS_1


"Pratisara!" Gumam lelaki itu lalu segera berlindung di balik sebatang pohon.


"Sialan. Aku keduluan. Huhf.., entah apa yang akan terjadi jika rencana pengkhianat ini sampai berhasil. Tentu saja kerugian akan berada di pihak musuh," kata lelaki itu lagi dalam hati.


Lama lelaki itu termenung tidak tau harus berbuat apa, tiba-tiba dari arah sedikit jauh, tampak seorang lagi penunggang kuda juga sama-sama seperti di kejar setan. Namun bedanya, penunggang kuda yang satu ini berbelok di salah satu simpang yang berlawanan dengan jalan yang Pratisara ambil tadi.


"Tumenggung Paksi?! Mengapa dia ada juga di sini? Bukankah..,"


"Jika dugaan ku benar, maka sudah pasti Tumenggung Paksi ini di suruh oleh Gusti Pangeran Indra Mahesa. Jika begitu, apakah aku ini juga dibuntuti?" Pikirnya dalam hati.


Baru saja dia akan melangkah menghampiri kudanya, kini dari atas pohon berlompatan lima orang lelaki mengenakan pakaian hitam-hitam dan langsung menjejakkan kakinya di depan lelaki itu.


"Jangan takut Kisanak! Kita berada di pihak yang sama. Kami ini adalah Lima bersaudara dari Banten. Kami diutus oleh Gusti Pangeran Indra Mahesa untuk membantu perjalanan mu,"


"Lima bersaudara dari Banten?"


"Benar. Kau kah yang bernama Larkin itu?" Tanya salah seorang yang tampaknya adalah ketua dari kelima orang itu.

__ADS_1


"Benar. Apa maksud dari semua ini?" Tanya Larkin.


"Sebelumnya perkenalkan! Namaku adalah Ujang Wardi. Julukan ku adalah pendekar kujang emas. Dan ini adalah keempat adik-adik ku. Kami sengaja di utus oleh Gusti Pangeran Indra Mahesa untuk membuntuti mu dan memberikan bantuan andai kau dalam keadaan yang memerlukan bantuan. Oh ya.., bagaimana dengan perencanaan mereka. Apakah kau ada mendengar sesuatu perencanaan yang sedang mereka susun?" Tanya Pendekar kujang emas.


Terdengar hembusan nafas berat dari Larkin.


Dia saat ini sangat kecewa karena pergerakannya selalu didahului satu langkah oleh Pratisara.


"Pratisara ini. Dia benar-benar pengkhianat. Dia ingin memusnahkan seluruh pasukan yang ada di kadipaten Gedangan dengan cara untuk menjebak mereka. Para prajurit dari Paku Bumi akan segera membuat kekacauan di luar benteng untuk memanas-manasi prajurit kerajaan Galuh. Jika bentrok terjadi, maka mereka akan berpura-pura kalah. Sementara para prajurit yang dipimpin oleh Pratisara akan mengejar mereka. Kemudian mereka akan membokong seluruh pasukan yang mengejar dengan puluh ribu pasukan yang memang telah bersiaga di dalam hutan. Ini lah yang aku khawatirkan. Bagaimanapun, Pratisara adalah seorang Panglima. Para prajurit pasti tidak akan merasa curiga,"


"Lalu, mengapa kita tidak segera pergi saja menuju ke kadipaten Gedangan?" Tanya Pendekar kujang emas.


"Percuma, Kisanak. Tidak akan ada yang mempercayai kata-kata ku. Bukankah Kisanak membuntuti ku karena kecurigaan?" Tanya Larkin membuat kelima bersaudara dari Banten itu hanya menatapnya dengan tatapan serba salah.


"Begini saja. Bagaimana jika kita berbagi tugas. Bukankah prajurit bawahan Sadewa masih berada di sekitar bukit? Temui dia. Dengan kalian berlima, tentu semuanya akan percaya. Katakan kepada mereka tentang rencana licik dari Pratisara ini. Ketika nantinya para prajurit akan mengikuti Pratisara untuk mengejar, kau dan keempat bawahnya Sadewa itu bisa mencegah dan jelaskan kepada mereka bahwa ada bahaya yang mengintai jika mereka nekat mengejar!"


"Benar juga katamu itu, Pendekar kujang emas. Baiklah. Kita berpisah di sini. Kalian jangan menunda lagi. Cepatlah menghadap ke Gusti pangeran!"

__ADS_1


"Baiklah sobat. Kita berpisah di sini!" Kata mereka lalu dengan menggunakan ilmu peringan tubuh, kelima bersaudara dari Banten ini sebentar saja sudah menghilang dari hadapan Larkin.


Bersambung


__ADS_2