
Tiga orang lelaki berpakaian serba hitam tampak berjalan tergesa-gesa ke arah seorang pemuda yang tampak berdiri di atas sebatang pohon besar yang tumbang sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
Tampak pemuda yang memiliki wajah tampan namun tegang itu seperti tidak sabaran menantikan ketiga lelaki setengah baya itu sampai dihadapannya.
Begitu ketiga lelaki itu sampai dan langsung menjura hormat, pemuda itu langsung berkata. "Paman Senopati Arya Prana dan Paman Panglima Rangga! Lakukan seperti yang sudah kita rencanakan semalam! Aku akan segera berangkat menuju kadipaten Gedangan. Aku menduga bahwa saat ini di kadipaten Gedangan pasti sedang terjadi pertempuran. Malam ini Panglima Rangga pimpin dua ribu pasukan dengan masing-masing dari satu orang prajurit harus membawa dua buah obor! Malam ke dua, Paman Senopati pula yang memimpin dua ribu pasukan lagi. Lakukan seperti yang aku perintahkan! Malam ketiga, seluruh pasukan yang berada di sini berangkat dengan dipimpin oleh Tumenggung Paksi! Apa kalian mendengar?" Tanya pemuda itu dengan lantang.
"Hamba bertiga mendengar, Gusti!" Jawab mereka serentak.
"Siapkan dua kuda! Aku akan berangkat bersama dengan Dinda Gayatri,"
"Ampun Gusti Pangeran. Apakah hanya Gusti berdua saja? Mengapa tidak membawa pasukan. Ini agar lebih bisa menjaga keselamatan Gusti andai ada pihak dari musuh yang mencegat," kata Senopati Arya Prana. Bagaimanapun, dia sangat mengkhawatirkan keselamatan pemuda itu yang tidak lain adalah Pangeran Indra Mahesa adanya.
"Tidak dibutuhkan. Aku hanya cukup ditemani oleh seorang saja. Jika terlalu ramai, ini akan memperlambat pergerakan. Segera siapkan kuda ku!"
"Sendiko dawuh Gusti Pangeran!" Kata mereka lalu segera menjura dan bergegas kembali ke perkemahan.
Sementara itu, di Kadipaten Gedangan, tampak sekitar lima ribu prajurit dari Paku Bumi mulai bergerak meninggalkan perkemahan mereka dan kini jarak antara pasukan Paku Bumi dengan dinding tembok tidak sampai lima puluh tombak jaraknya.
Keadaan kini berubah menjadi hiruk-pikuk dengan kedua belah pihak tampak sedang bersiap-siap untuk melakukan serangan dan bertahan.
Kini, di bagian luar benteng, tampak pasukan prajurit bersenjata tombak dan perisai mulai berbaris dengan rapi di depan sambil membuat pagar perisai untuk melindungi pasukan pemanah yang tampak berdiri di belakang barisan tentara berperisai tadi.
Dua orang prajurit pangkat perwira tampak menunggang kuda sambil membawa panji-panji lalu mengibas-ngibaskan Panji itu.
Tak lama setelah itu, tampak ribuan anak panah melesat ke arah dalam benteng sehingga menancap di mana saja secara acak.
Begitu serangan anak-anak panah dari para prajurit Paku Bumi berhenti, kini tampak dari atas benteng menderu ratusan anak panah sebagai balasan yang kini tepat menghujani pasukan dari Paku Bumi.
Beberapa prajurit yang tadinya melindungi diri dengan perisai kini mulai mengangkat perisai mereka untuk melindungi diri.
Sebagian anak panah itu luruh ke tanah begitu menghantam perisai. Namun, sebagian lagi yang tidak sempat berlindung, harus rela terluka akibat tertancap anak-anak panah yang dilepaskan dari arah benteng.
__ADS_1
Pekik jerit dan teriakan mulai menggema dari para prajurit Paku Bumi yang tertembus anak panah itu.
Tampaknya serangan pertama tadi sama sekali tidak berarti. Buktinya, kerugian ada di pihak lawan yang berada di luar benteng.
"Gusti Raka Pati! Kita tidak bisa hanya mengandalkan serangan anak panah. Kita harus bisa. Mendobrak pintu benteng pertahanan mereka. Jika tidak, kita akan mengalami kekalahan!" Kata perwira menengah tadi berteriak.
"Hahaha. Kau tau apa? Sekarang, perintahkan kepada prajurit mu untuk melepaskan panah api ke dalam benteng itu!" Kata Raka Pati memberi perintah.
Kini, tampak para prajurit itu bersiap-siap untuk serangan ke-dua. Beberapa dari mereka mulai mencabut anak panah khusus dari tempatnya dan memasangnya di tali busur.
Setelah semuanya siap, kini tampak puluhan prajurit berlari membawa obor di depan mereka sambil menyalakan api di ujung anak panah tersebut.
"Semuanya siap?"
"Tembaaaaak!"
Wuzzz!
Wuz!
Ribuan anak panah kini kembali melesat di udara. Bedanya, ribuan anak panah itu kini membawa kobaran api. Mendadak dari langit seperti terjadi hujan api.
Tidak sampai sepeminuman teh, asap tebal mulai mengepul dari arah dalam benteng yang menandakan bahwa rumah-rumah penduduk serta apa saja yang bisa terbakar mulai terbakar akibat serangan panah-panah api yang dilepaskan oleh para prajurit dari Paku Bumi.
Kini gantian teriakan, pekikan serta jeritan mulai terdengar dari balik tembok.
Asap tebal kini mulai tampak membumbung tinggi di udara membuat tengah hari yang sangat terik itu berubah mendung karena sang mentari telah tertutup oleh asap yang terus membumbung tinggi.
Di dalam benteng, tampak Adipati Rakai langit sedang berdebat dengan seorang lelaki yang tampak memiliki pangkat yang tidak rendah di kalangan prajurit.
Ada yang menginginkan perang secara terbuka, sementara itu, ada pula yang mengatakan agar mereka tetap bertahan.
__ADS_1
"Gusti Adipati. Kita tidak dapat hanya bertahan saja. Ayo keluar! Pasukan kita yabg berada di sini masih menang jumlah jika dibandingkan dengan mereka. mari kita keluar dan gempur mereka secara serentak!" Kata lelaki itu mengusulkan.
"Pratisara! Aku diperintahkan oleh Gusti Manggala Yuda untuk bertahan. Jadi, tidak ada alasan untuk ku keluar melakukan peperangan terbuka," jawab Adipati Rakai langit.
"Gusti Adipati.., jika kita terus bertahan seperti ini, maka sebentar lagi desa yang berada di balik benteng ini akan musnah dan menjadi lautan api. Walau bagaimanapun, bertahan bukanlah tindakan yang bijak," kata Pratisara terus saja mendesak agar Adipati mengizinkannya untuk membawa prajurit kerajaan Galuh untuk keluar dari benteng dan melakukan peperangan secara terbuka.
Baru saja dia selesai bicara, kini tampak hujan api kembali seperti tercurah dari langit dan kembali menghantam apa saja yang dijatuhi nya.
Kembali pekikan dan teriakan menggema dari beberapa rumah yang mulai dilahap oleh api.
"Gusti! Keluarkan perintah! Aku akan memimpin pasukan untuk menyerbu mereka. Jika tidak, aku sediri yang akan menangnya jika Gusti Pangeran murka terhadap kepuasan ku ini. Gusti silahkan dengan kepengecutan Gusti ini. Aku tidak bisa hanya berdiam diri saja,"
"Pratisara! Apakah kau ingin membangkang perintah dari Panglima tertinggi?" Bentak Adipati Rakai langit.
"Hah! Aku tidak mau mati tanpa perlawanan. Darah ku adalah darah ksatria. Mati di medan laga lebih baik daripada mati di dalam benteng celaka ini!"
"Wahai kalian para prajurit kerajaan Galuh. Apakah kalian ingin mempertahankan kadipaten ini dengan ikut dengan ku menggempur musuh atau kalian akan mati dalam keadaan bertahan? Jika aku, maka aku memilih yang pertama. Mari bentuk barisan kalian dan ikutlah denganku untuk berperang!" Teriak Panglima Pratisara dengan lantang.
Beberapa prajurit kini mulai saling pandang dan tampak seperti serba salah.
Kini, serangan itu kembali datang. Hujan anak panah berapi sekali lagi menghujani mereka membuat para prajurit kini mulai membuat barisan dan siap untuk berperang.
Para prajurit ini sudah tidak lagi mendengar perintah dan larangan dari Adipati Rakai langit karena terus saja diteriaki dengan kata-kata penyemangat dari panglima Pratisara.
"Serang!"
"Serang!"
"Serang!"
Suara para prajurit itu bergema ketika Panglima Pratisara mulai melompat ke atas punggung kudanya.
__ADS_1