Pangeran Tanpa Mahkota

Pangeran Tanpa Mahkota
Warkah sang Baginda


__ADS_3

Seorang wanita setengah baya namun terlihat sangat cantik dengan pakaian kebesarannya tampak duduk di kursi singgasana yang terbuat dari kayu Cendana berukir kuntum-kuntum bunga yang diatasnya bersemayam seekor naga berwarna kuning keemasan.


Ketika seorang emban datang beringsut menghampirinya dengan membisikkan sesuatu, wanita itu pun lalu menjentikkan jari tangannya diikuti anggukan penuh hormat dari si emban tadi.


Tak lama setelah wanita tua yang menjadi emban tadi berlaku, dari arah pintu kini tampak dua puluh orang lelaki berpakaian serba hitam menggiring lima orang lelaki berpakaian keprajuritan kerajaan Galuh.


Begitu tiba di dalam ruangan itu, tanpa diperintah, para prajurit itu langsung menjatuhkan diri berlutut lalu berjalan setengah merangkak.


Begitu ke-lima prajurit yang dikawal oleh dua puluh orang berpakaian serba hitam itu tiba, mereka semua langsung mengatupkan kedua tangannya di depan kening.


"Salam sembah kami untuk Gusti Permaisuri Galuh Cendana," kata mereka serentak tanpa terkecuali.


"Bangkitlah kalian semua. Sembah mu ku terima," kata sang Permaisuri bertitah.


"Ampun beribu ampun Gusti Permaisuri. Hamba yang hina ini bernama Larso dan keempat prajurit sahabat seperjalanan hamba ini adalah bawahan hamba. Hamba bersama-sama datang ke hutan lembah jati ini atas perintah dari sang Baginda Gusti Prabu Rakai Galuh," kata mereka setelah duduk bersila di lantai berlapis permadani merah itu.


"Hmmm... Apakah kau ada membawa tanda dari Ayahanda Gusti Prabu?" Tanya wanita yang disebut dengan sebutan Gusti Permaisuri Galuh Cendana itu.


"Ampun Gusti Permaisuri. Hamba memang membawa tanda berupa sebentuk cincin," kata prajurit bernama Larso itu sambil menyerahkan sebentuk cincin bermana batu hijau kepada salah seorang dayang yang langsung menerimanya dengan sebuah nampan perak beralaskan kain merah.

__ADS_1


Setelah prajurit bernama Larso itu meletakkan cincin tersebut di atas nampan tadi, sang dayang pun langsung berbalik dan sambil berlutut dengan satu kaki dia mengangkat nampan itu. Dia baru berdiri kembali setelah sang Permaisuri mengambil cincin tersebut.


"Ini memang cincin kepunyaan Ayahanda Gusti Prabu. Katakan ada Warkah apakah yang dia titipkan kepada mu!" Perintah sang Permaisuri.


"Ampun Gusti Permaisuri. Baginda Gusti Prabu menitipkan salam untuk Gusti Permaisuri. Baginda juga mengatakan bahwa saat ini kerajaan Setra kencana telah runtuh dan sepenuhnya berada dalam jajahan Jaya Pradana. Baginda berpesan bahwa kerajaan Galuh saat ini benar-benar dalam bahaya. Sehingga mengutus hamba untuk menyampaikan Titah," kata sang prajurit sambil mengeluarkan gulungan surat yang terbuat dari kulit rusa.


Begitu dia berdiri untuk membacakan isi dari surat tersebut, sang Permaisuri langsung turun dari singgasananya kemudian menekuk kedua lututnya dengan kepala tertunduk seolah-olah siap menerima perintah.


Sambil menarik nafas berat, sang prajurit pun membacakan titah dari sang Baginda.


"Warkah ini aku tulis dan ku titipkan kepada seorang prajurit terpercaya untuk dibacakan di depan Ananda Galuh Cendana di lembah jati.


Ayahanda di sini juga sedang membentuk kekuatan demi membendung gempuran dari Jaya Pradana yang haus darah itu. Namun itu belumlah cukup. Oleh karena itu, Ananda berkewajiban untuk melindungi jalur lembah jadi menuju ke kerajaan Galuh. Buatlah persiapan dari sekarang karena jika mereka gagal memasuki kerajaan Galuh dari Karang Kencana, maka mereka pasti akan mengambil jalan memutar melewati lorong tebing di lembah jati.


Ananda tersayang, saat ini hanya ada kerajaan Galuh yang tersisa. Sementara itu kerajaan Garingging yang kecil itu tidak bisa berbuat banyak untuk membantu kita. Sementara golongan putih rimba persilatan sama sekali belum terlihat adanya pergerakan mereka untuk membantu. Oleh karena itu, kita tidak bisa berharap banyak kepada mereka.


Manfaatkan segala yang bisa dimanfaatkan. Ananda hanya perlu berusaha. Masalah kalah atau menang, itu adalah adat dalam sebuah pertempuran. Jika menang, kita berhasil mempertahankan tanah air kita. Jika kalah, biarkan kita terkubur bersama puing-puing kerajaan dan menjadi pahlawan bagi anak cucu kita kelak.


Aku bangga memiliki seorang menantu yang berjiwa ksatria yang rela mati demi kehormatan. Aku juga bangga mempunyai seorang Putri yang memiliki ketabahan hati dan ketebalan jiwa.

__ADS_1


Berunding lah dengan Hulubalang yang berada di sekitar mu. Semoga Tuhan berada di pihak yang benar.


Demikianlah Warkah ini Ayahanda tuliskan agar segera Ananda maklumi."


"Gusti Prabu Rakai Galuh,"


Selesai membacakan isi dari surat tersebut, sang prajurit pun kembali menggulung surat tersebut lalu menyerahkannya kepada Gusti Permaisuri Galuh Cendana yang langsung di sambut oleh Permaisuri.


"Lakadipa! Panggil Senopati Arya Prana, Panglima Rangga, Tumenggung Paksi, Wiguna dan Arya Permadi untuk menghadap!" Perintah sang Permaisuri.


"Sendiko dawuh Gusti Permaisuri," kata lelaki bernama Lakadipa itu sambil menjura hormat lalu berjalan mundur menuju pintu.


"Arimbi, kau bawa ke-lima prajurit dari kota raja ini menempati rumah di samping rumah milik Lakadipa untuk beristirahat!" Perintah dari sang Permaisuri.


"Hamba Gusti Permaisuri!" Kata seorang dayang bernama Arimbi itu sambil menjura hormat.


"Silahkan Andika!" Kata Arimbi mempersilahkan Larso dan keempat bawahnya untuk mengikuti dirinya menuju ke tempat mereka untuk beristirahat melepaskan penat setelah beberapa hari menempuh perjalanan jauh menuju hutan lembah jati ini.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2