
Pangeran Indra Mahesa tampak menggelengkan kepalanya lalu menarik nafas kepasrahan. Dia tidak tau harus berkata apa-apa lagi.
Dengan kejengkelan yang membuncah di dalam hatinya, dia lalu menggebah kuda tunggangan nya meninggalkan Sadewa, Putri Melur, Putri Sekar Mayang dan yang lainnya. Bahkan, dia sampai lupa untuk menunggu Gayatri yang berusaha keras untuk mensejajarkan kuda tunggangannya di samping kuda tunggangan pemuda itu.
Sadewa, Putri Melur, dan Putri Sekar Mayang bersama seribu orang prajurit dari kerajaan Garingging pun terus mengekori kemana saja Putra Mahkota dari kerajaan Sri Kemuning ini mengarahkan langkah kaki kuda tunggangan nya.
Semakin jauh perjalanan ini, semakin membuat Putri Melur dan Sekar Mayang merasakan keanehan.
Mereka merasa bahwa ini bukanlah jalan menuju ke kadipaten Gedangan. Melainkan menuju ke hutan watu Sewu tepat dimana mereka untuk pertama kalinya bertemu.
Ketika Pangeran Indra Mahesa menghentikan laju kuda tunggangan nya di sebuah kali berair jernih, setelah seharian penuh melakukan perjalanan, baru lah kedua putri itu menghampiri pangeran Indra Mahesa untuk bertanya.
"Kanda Indra Mahesa. Bukankah ini adalah jalan menuju ke kadipaten Pitulung? Bukankah pasukan pimpinan kanda katanya berada di kadipaten Gedangan?" Tanya Putri Melur memberanikan diri.
__ADS_1
"Wahai Putri Melur. Ini adalah siasat perang yang tidak kau ketahui. Sekarang, apakah kau mau mengikuti diriku, atau kau hanya ingin bertanya ini dan itu?" Tanya Pangeran Indra Mahesa sambil terus menuntun kuda tunggangannya untuk meminum air di kali tersebut.
"Aku ingin mengikuti mu untuk sama-sama berjuang. Tapi, untuk apa kita ke kadipaten Pitulung, Kanda? Bukankah kadipaten itu telah kosong? Tidak mungkin di sana ada penginapan, warung yang menjual makanan dan kebutuhan kita," keluh Putri Melur.
"Putri Melur. Kita ini akan berperang, dan bukan untuk bertamasya. Jika ingin hidup nyaman, sebaiknya kembali lah ke kota raja!" Kata Pangeran Indra Mahesa lalu segera menceburkan dirinya ke dalam kali untuk sekedar mendinginkan otaknya yang terasa panas sejak tadi.
Seperti hendak menangis, Putri Melur lalu segera menjauh dari pinggiran kali tersebut kemudian duduk membelakangi kali di mana pangeran Indra sedang mandi.
"Kalian segeralah beristirahat! Perjalanan kita masih jauh. Butuh dua hari perjalanan lagi agar tiba di tujuan. Jangan ada yang banyak bertanya, atau aku akan menghukum siapa saja yang membuat beban pikiran ku bertambah!" Seru pangeran Indra Mahesa sambil duduk bersila untuk melakukan semadi.
Gayatri sendiri tau bahwa Pangeran Indra Mahesa sedang mengosongkan pikiran nya karena terlalu terbebani oleh kehadiran dua Putri yang kemungkinan akan menjadi beban baginya.
Dia kemudian segera mengumpulkan ranting kering lalu membuat api unggun dan segera membaringkan diri tidak jauh dari Pangeran Indra Mahesa yang sedang duduk dengan mata terpejam.
__ADS_1
"Gayatri. Aku menginginkan tempat itu. Kau harus memberikan kepada ku!" Pinta Putri Melur sambil kakinya mencolek paha gadis yang sedang berbaring itu.
"Putri Melur. Ini adalah tempat ku. Mengapa kau ingin merebutnya? Kau bisa membuat tempat tidur mu sendiri," kata Gayatri menolak permintaan dari Putri Melur.
"Hahaha. Bukan hanya tempat itu. Aku juga akan merebut Pangeran Indra darimu. Sekarang, kau tinggal pilih. Memberikan tempat itu kepada ku, atau aku akan memerintahkan seribu orang prajurit ku untuk mencincang tubuh mu hingga tanpa bentuk?" Ancam Putri Melur.
Gayatri sama sekali tidak takut dengan ancaman itu. Sebagai seorang pendekar, pantang baginya untuk takut dengan ancaman murahan seperti itu. Namun, dia mencoba untuk mengalah karena keadaannya memang tidak memungkinkan. Saat ini selain tidak ingin membuat keributan yang akan menggangu semadi Pangeran Indra, dia juga tidak ingin menghancurkan persatuan yang dengan susah payah dijalin oleh Pangeran Indra. Bagaimanapun, ini adalah situasi perang. Membuat keributan dengan kelompok sendiri bukanlah hal yang bagus.
Dengan menekan seluruh luapan kemarahannya, Gayatri lalu bangun dari rebahannya lalu mengikhlaskan tempat tidur yang dia buat itu untuk putri Melur.
Dengan senyum puas, Putri Melur segera mengajak Sekar Mayang untuk merebahkan tubuh mereka di tempat tidur yang direbut secara paksa dari Gayatri.
Dia sempat melirik ke arah Gayatri dengan senyuman penuh kemenangan.
__ADS_1
"Senyuman mengejek seperti ini pernah aku terima dari mu, Gayatri. Kau mungkin lupa di taman ketika itu. Tapi aku. Sampai matipun aku tidak akan melupakan senyuman yang sangat menyakitkan itu darimu," kata Putri Melur dalam hati.
Bersambung...