Pangeran Tanpa Mahkota

Pangeran Tanpa Mahkota
Pengkhianatan Pratisara


__ADS_3

Kira-kira setengah purnama yang lalu.


Serombongan prajurit kerajaan Galuh seramai dua ribu lima ratus orang dengan dipimpin oleh seorang panglima tampak berjalan perlahan meninggalkan kawasan lembah jati untuk segera kembali ke kota raja kerajaan Galuh.


Sesampainya di padang rumput yang luar, pasukan itu berhenti sejenak untuk beristirahat.


Ketika beberapa tenda telah di dirikan dan di saat mereka sedang asyik melepaskan penat, dari kejauhan terlihat rombongan penunggang kuda dengan mengenakan seragam prajurit dari kadipaten Gedangan semakin mendekati di perkemahan para prajurit Galuh ini.


Salah satu dari penunggang kuda itu tampak bertanya tentang panglima pasukan yang langsung ditunjukkan oleh prajurit yang tampak memiliki jabatan tinggi.


Ketika prajurit dari kadipaten Gedangan itu memasuki tenda, kini tampak raut wajah dari panglima itu berubah.


"Gagak Ireng. Kau kah itu?" Tanya Panglima itu dengan suara tertahan.


"Hahaha. Sudah lama kita tidak bertemu, sahabat ku Pratisara!"


"Ya. Sudah lama sekali. Ada angin apa kau mendatangi ku? Dan juga, dari mana kau tau kalau aku sedang di sini?" Tanya Panglima Pratisara sambil mempersilahkan tamunya itu untuk duduk.


"Bukan hal yang sulit. Kau kan tau bahwa prajurit Paku Bumi berada di mana-mana."


"Begini, Pratisara. Guru kita, Datuk Hitam saat ini telah menggabungkan diri ke kerajaan Paku Bumi. Guru berpesan agar aku menemui mu untuk menyampaikan ini?!" Kata Gagak Ireng sambil menyerahkan lipatan daun lontar kepada Panglima Pratisara.


"Hmm. Apa yang diinginkan oleh Guru kita ini?" Tanya Pratisara sambil membuka lipatan daun lontar itu kemudian menemukan tulisan di sana.

__ADS_1


"Tertuju kepada Pratisara. Murid ku yang paling berbakti.


Aku telah mendengar bahwa kau telah menjadi seorang prajurit yang berpangkat tinggi di kerajaan Galuh. Aku turut senang dengan kabar itu.


Pratisara.., ketahuilah bahwa aku dulu pernah menceritakan kepada kalian bahwa aku memiliki seorang musuh bebuyutan yang telah mengundurkan diri dari dunia persilatan. Namun, aku ingin memaksa dia untuk kembali keluar dari persembunyiannya dan berhadap-hadapan dengan ku bagi menuntaskan dendam lama.


Saat ini, hanya ada satu cara untuk memancingnya keluar dari sarangnya. Yaitu, dengan cara membuat kekacauan.


Ketahuilah wahai Pratisara! Bahwa saat ini, Aku telah menggabungkan diri di kerajaan Sri Kemuning. Jaya Pradana murid seumur jagung ku ini bisa membuat musuh lama ku ini untuk keluar dari sarangnya. Aku akan memanfaatkan Jaya Pradana ini untuk menyerang seluruh kerajaan yang berada di sekitarnya.


Ketika orang-orang yang sok suci dari golongan putih mengetahui hal ini, pasti mereka akan berbondong-bondong meninggalkan sarang mereka untuk membela kerajaan yang terjajah dengan alasan untuk menegakkan kebenaran serta keadilan.


Pratisara, aku memerintahkan agar kau mau membelot. Bantu Jaya Pradana ini dari dalam. Hal pertama yang harus kau lakukan adalah membumihanguskan seluruh prajurit yang kau pimpin ini. Kemudian, kembalilah ke sisi Prabu Rakai Galuh. Tunggu pasukan Jaya Pradana tiba untuk menyerang kerajaan Galuh. Aku menduga, para kaum rimba persilatan yang mengaku golongan putih akan segera meninggalkan sarang mereka.


Sekian dari guru mu ini, Datuk Hitam!"


*********


Terdengar tarikan nafas berat dari Pratisara yang selesai membaca isi surat dari gurunya itu.


"Guru ini. Kehancuran apa lagi yang dia inginkan?" Gumam Pratisara sambil melipat lembaran demi lembaran daun lontar itu.


"Guru dan aku sebenarnya tidak terlalu memikirkan peperangan yang melibatkan Jaya Pradana dan Rakai Galuh. Baginya adalah, dia ingin menarik perhatian kalangan persilatan golongan putih. Saat ini, lebih dari seribu pendekar dari golongan hitam yang telah membentuk sebuah partai untuk membantu pasukan Jaya Pradana. Mereka saat ini sudah berhasil menghancurkan kerajaan Setra kencana yang berhasil menarik perhatian dari rimba persilatan. Sebenarnya, ini lah yang diinginkan oleh guru kita," kata Gagak Ireng.

__ADS_1


"Gagak Ireng. Setahu ku, guru kita mempunyai banyak musuh. Musuh yang mana menjadi incarannya kali ini?" Tanya Pratisara.


"Aku juga kurang pasti tentang hal itu. Namun, kuat dugaan ku bahwa incarannya kali ini mungkin Dewa pedang, Jari Malaikat atau bahkan Santalaya," kata Gagak Ireng.


"Hmmm. Baiklah. Aku akan segera membuat alasan agar aku bisa membelokkan para prajurit ini agar tidak kembali ke kota raja. Melainkan ke kadipaten Gedangan. Mari kita keluar!" Ajak Pratisara.


Sebelum Pratisara keluar, sesosok tubuh yang mendekam menguping pembicaraan mereka tampak berkelit lalu segera menghilang dari pandangan mata.


"Celaka kalau begini. Aku tidak mungkin bisa membongkar pengkhianatan yang dilakukan oleh panglima Pratisara. Pasti tidak akan ada yang mempercayai ku. Bagaimana ini?" Tampak lelaki yang menyelinap itu berpikir keras.


Dia tau bahwa prajurit kerajaan Galuh yang berjumlah sekitar dua ribu lima ratus orang ini berada dalam bahaya. Namun begitu, jika dia mengatakan sesungguhnya kepada para prajurit, siapa yang akan mempercayainya? Dia hanya prajurit biasa yang memiliki pangkat sedikit lebih tinggi. Sedangkan Pratisara, dia adalah seorang prajurit dengan pangkat Panglima.


"Aku tidak bisa berlama-lama di sini. Aku harus segera melarikan diri. Aku harus memperhatikan jalannya pengkhianatan yang dilakukan oleh Pratisara ini," kata lelaki itu sambil berjalan menuju ke arah kudanya kemudian berpura-pura menuntun kuda itu ke arah sungai lalu menyelinap di balik semak belukar untuk menghilangkan diri.


Sementara itu, Panglima Pratisara tampak sedang celingukan mencari keberadaan prajurit yang bernama Larkin. Ini dia lakukan setelah mengatakan kepada para prajurit bahwa saat ini kadipaten Gedangan sedang di serang dan mereka sangat membutuhkan bantuan.


Tanpa menunggu Larkin yang hilang seperti di telan bumi, Pratisara pun langsung memimpin pasukan itu menuju ke kadipaten Gedangan. Namun, sebelum mereka benar-benar tiba di kadipaten Gedangan itu, mereka telah terlebih dahulu di serang di jalan pinggir hutan yang mengakibatkan semua prajurit tewas tertancap anak panah dan serangan dari musuh.


Hanya sekitar seratus orang yang selamat termasuk Pratisara yang sengaja memasrahkan dirinya harus terluka dalam akibat bentrokan tenaga dalam dengan Gagak Ireng tanpa membalas.


Akhirnya, sandiwara dari Pratisara ini mampu mengelabui pangeran Indra dan banyak lagi para punggawa kerajaan Galuh.


Setelah Larkin muncul, dia lalu melimpahkan semua kesalahan yang dia perbuat kepada Larkin sehingga semua orang mencurigai Larkin membuat prajurit yang jujur ini tidak memiliki kesempatan sedikit pun untuk membongkar kedok Pratisara.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2