
Pertarungan kedua lelaki setengah baya ini kini telah sampai pada puncaknya.
Setiap dari mereka telah mengeluarkan ajian masing-masing yang mereka miliki.
Tak terhitung sudah berapa puluh jurus dan ratusan pukulan yang telah dilepaskan oleh masing-masing diantara mereka.
Sementara itu, tidak jauh dari perkelahian antara Raka Pati melawan Senopati Arya Prana, tampak Panglima Rangga dengan dibantu oleh Wiguna sedang menghadapi pertarungan sengit melawan Gagak Ireng.
Lelaki berkulit hitam dan berpakaian hitam itu juga sudah sangat kewalahan menghadapi serangan dari kedua orang itu.
"Pengecut kalian semua. Beraninya main keroyokan!" Bentak Gagak Ireng yang sudah jatuh bangun menerima serangan dari kedua mantan punggawa di kerajaan Sri Kemuning itu.
"Hahaha. Pengecut kata mu? Apakah 17 tahun yang lalu ketika kau dan pasukan Paku Bumi yang menyerang kami dalam keadaan tidak siap adalah tindakan yang ksatria?" Cibir Panglima Rangga dengan penuh ejekan.
"Kau menyerang kami di saat kami sedang bersuka cita menyambut kelahiran Putra Mahkota. Kau memanfaatkan keadaan itu dan menyerang kami di saat kami lengah. Jika kalian memang jantan dan bertempur secara ksatria, belum tentu kalian anjing-anjing dari paku bumi dapat mengalahkan kami hanya dalam satu malam," kata Wiguna pula menimpali.
"Apakah kalian akan terus mengobrol sampai pagi? Kita harus segera membantu yang lainnya untuk memenangkan peperangan ini. Tidak usah memikirkan peradatan! Dengan anjing pengkhianat seperti ini, tidak perlu segala macam peradatan!" Kata Arya Permadi yang langsung menembakkan anak panah nya yang tepat mengenai dada Gagak Ireng di bagian kiri.
"Mari berebut pahala dengan membunuh bangsat ini!" Teriak Panglima Rangga.
Mereka bertiga lalu mengepung Gagak Ireng dari tiga penjuru.
Hanya sebentar Gagak Ireng dapat bertahan, lalu segera ambruk ketika sebilah keris tepat menghujam di bagian jantung nya.
__ADS_1
"Kau..,"
Brugh!
Hanya itu saja kata-kata yang keluar dari mulut Gagak Ireng sebelum tubuhnya ambruk ke tanah akibat tikaman keris beracun yang tepat menghujam di bagian jantung nya.
Kini, demi melihat bahwa sahabatnya telah tewas, Raka Pati pun langsung mengirimkan pukulan jarak jauh dibarengi dengan pengerahan tenaga dalam tingkat tinggi.
Dia berharap bahwa Senopati Arya Prana akan menghindar. Dengan demikian, dia bisa memanfaatkan kesempatan itu untuk kabur.
Sesuai dengan rencana nya, Senopati Arya Prana memang menghindar dari pukulan jarak jauh itu.
Kesempatan ini segera dimanfaatkan oleh Raka Pati untuk kabur. Namun, sial baginya. Karena, di depan dia sudah di hadang oleh Bayu Gatra.
"Sial! Sialaaaan!" Teriak Raka Pati sambil terus menghindari serangan dari lawannya yang jauh lebih muda dari usianya.
Sebentar saja, tubuh Raka Pati sudah di kurung oleh kilatan senjata yang berada di tangan Bayu Gatra, sampai pada titik tertentu, Bayu Gatra berhasil menyarangkan tendangannya yang tepat menghantam dada Raka Pati.
"Hiaaat!"
Bugh!
"Hoek..! Uhuk.., uhuk!"
__ADS_1
Darah segar kini menyembur dari mulut Raka Pati akibat tendangan yang mengandung pengerahan tenaga dalam itu.
Kini Raka Pati benar-benar tidak memiliki kesempatan lagi untuk meloloskan diri.
Dia hanya mampu tergeletak di tanah dengan tatapan nanar. Jangankan untuk memaki. Untuk mengatakan aduh saja pun dia sudah tidak mampu.
"Paman Senopati. Apakah tidak ada yang ingin mengakhiri nyawa binatang ini?" Tanya Bayu Gatra.
"Mari kita rebut pahalanya dengan membunuh pengkhianat ini!" Teriak Wiguna.
Mereka beramai-ramai kini mencincang tubuh Raka Pati yang sudah tidak bisa melakukan perlawanan lagi.
Menyaksikan Raka Pati dan Gagak Ireng telah terbunuh, banyak diantara prajurit kini yang mulai melarikan diri. Ini termasuk Jaya Pradana yang telah terlebih dahulu melesat kabur meninggalkan arena pembantaian itu.
"Jangan biarkan mereka kabur! Ayo kejar!"
Tampak sepuluh ribu prajurit kini membentuk barisan lalu segera menggiring pasukan dari Paku Bumi yang terus bergerak mundur.
"Gusti. Jaya Pradana telah kabur. Apakah Gusti akan mengejar?" Tanya Senopati Arya Prana bertanya kepada Pangeran Indra.
"Hancurkan dulu kekuatannya. Dia tidak akan lari jauh. Saat ini, dia adalah seorang buronan dan cepat atau lambat pasti akan aku temukan. Hancurkan terlebih dahulu seluruh pasukannya ini. Jangan biarkan satupun dari mereka lolos. Bantai sebagaimana mereka dulu membantai para prajurit yang setia terhadap mendiang Ayah ku!" Kata Pangeran Indra Mahesa. Lalu dia segera menggunakan ilmu lari cepat nya untuk mengejar kemana tadi Jaya Pradana melarikan diri.
Bersambung...
__ADS_1