Pangeran Tanpa Mahkota

Pangeran Tanpa Mahkota
Tiba di kota raja


__ADS_3

Iring-iringan para prajurit telah bersiap menunggu kedatangan Putri kesayangan dari Gusti Prabu Rakai Galuh itu di depan pintu gerbang menuju ke kota raja kerajaan Galuh.


Sebuah tandu tampak telah disediakan bagi menjemput sang Permaisuri yang tahta nya digulingkan oleh adik iparnya itu.


Tepat ketika rombongan sang Permaisuri tiba di pintu gerbang, para prajurit yang menyambut kedatangan mereka pun langsung berlutut hormat dengan sebagian dari mereka memainkan alat musik.


Beberapa orang dayang langsung berjalan menuju ke salah satu kereta kuda lalu menuntun sang Permaisuri untuk turun kemudian dipersilahkan memasuki sebuah tandu yang tampak sangat mewah.


"Gusti Permaisuri.., silahkan!" Kata dayang itu dengan sangat hormat.


Sang permaisuri tidak menjawab. Beliau hanya mengangguk saja lalu masuk ke dalam tandu yang langsung dipikul oleh empat orang prajurit berbadan tegap.


Dengan membiarkan kuda tunggangan mereka di urus oleh prajurit kerajaan Galuh, kini tiga ratus orang prajurit ditambah dengan Senopati Arya Prana, Panglima Rangga dan Tumenggung Paksi melangkah berjalan diikuti oleh Bayu Gatra, Andini dan Gayatri. Hanya Pangeran Indra Mahesa saja yang saat ini menunggang kuda dengan pelana yang terbuat dari emas serta hiasan-hiasan indah dengan gagahnya duduk di atas punggung kuda tersebut sambil di tuntun oleh dua orang prajurit.


Seluruh rakyat baik itu dari penduduk asli kerajaan Galuh, maupun pengungsi dari Sri Kemuning dan Setra kencana tumpah ruah di jalan bagi menyambut kedatangan sang penerus tonggak perjuangan bagi ke-tiga kerajaan itu.


Bagi rakyat Sri Kemuning, mereka sangat berharap semoga pemuda tampan berpakaian mewah dengan badan tegap, kekar dan tampan itu mampu membebaskan mereka dan para saudara mereka yang masih terjajah.

__ADS_1


Bagi rakyat Setra kencana pula,.mereka sudah tidak memiliki raja lagi. Dan seluruh keturunan Raja Setra kencana telah habis terbunuh oleh kekejaman Jaya Pradana. Bagi mereka, semoga saja pemuda berambut panjang melewati bahu tanpa Mahkota itu mampu merebut kembali kerajaan Setra kencana. Ketika itu terjadi, mereka akan dengan sangat senang hati mengiktiraf pemuda itu sebagai penguasa. Itu jauh lebih baik daripada harus terjajah oleh Jaya Pradana.


Suara seluruh penduduk kota raja yang tumpah ruah itu kini mulai mengelu-elukan kedatangan rombongan itu sambil berteriak, "hidup pengeran.., hidup pangeran!"


Pangeran Indra Mahesa pun menyambut laungan suara para rakyat kerajaan Galuh ini dengan tersenyum sambil mengangkat sebelah tangannya melambai ke arah rakyat kota raja ini.


Lebih dari sepeminuman teh, arak-arakan prajurit yang menjemput Gusti Permaisuri Galuh Cendana bersama dengan rombongan itu pun akhirnya tiba juga di depan istana kerajaan Galuh.


Di balai sema agung tampak sang Prabu Rakai Galuh tak henti-hentinya tersenyum dan tampak riak wajah tak sabaran guna segera bertemu dengan putrinya yang sudah belasan tahun tidak bertemu itu.


"Ibunda.., silahkan!" Kata Pangeran Indra Mahesa sambil mengulurkan tangannya sebagai pegangan bagi Permaisuri Galuh Cendana.


"Mohon Ibunda masuk terlebih dahulu. Kakek Prabu tentu sangat merindukan Ibunda," kata Pangeran Indra Mahesa.


"Lalu kau?"


"Ananda akan segera menyusul," kata Pangeran Indra Mahesa sengaja akan masuk paling terakhir guna memberi kesempatan kepada Permaisuri Galuh Cendana untuk melepaskan kerinduan hatinya kepada Gusti Prabu Rakai Galuh.

__ADS_1


Puluhan dayang kini membantu Permaisuri Galuh Cendana untuk berjalan di tengah aula yang sangat luas itu sambil diiringi tatapan dari seluruh punggawa kerajaan Galuh ini beserta Gusti Prabu Kerta Rajasa dan putrinya Melur.


"Galuh Cendana datang untuk menghaturkan sembah kepada Ayahanda Prabu!" Kata Permaisuri Galuh Cendana sambil berlutut lalu bersimpuh di bawah singgasana sang Prabu Rakai Galuh.


"Putri ku!" Kata Gusti Prabu Rakai Galuh langsung turun dari kursinya kemudian memimpin Putrinya itu untuk segera bangkit.


"Bagaimana dengan keadaan mu? Kau tentu sangat menderita sekali, Putriku?!" Kata Gusti Prabu Rakai Galuh dengan air mata yang mulai tak kuasa untuk dibendung lagi.


"Ananda baik-baik saja, Ayahandanya Prabu. Ananda bersyukur karena masih ada para punggawa kerajaan Sri Kemuning yang sangat setia dan rela bertaruh nyawa demi keselamatan ananda. Oleh karena itu jua lah yang membuat ananda mampu bertahan sehingga kini Tuhan yang maha kuasa mempertemukan kita kembali," jawab sang permaisuri Galuh Cendana yang juga ikut menangis.


Keharuan suasana itu mau tak mau membuat semua yang ada di dalam ruangan Balai sema agung itu ikut meneteskan air mata.


Mereka dapat membayangkan bagaimana beratnya penderitaan seorang perempuan yang tidak terbiasa hidup susah harus menerima kenyataan bahwa tahtanya telah dirampas.


Bukan hanya kekuasaan. Bahkan nyawa suaminya juga turut di rampas oleh pemberontak yang meruntuhkan kejayaan sebuah kerajaan yang tadinya sangat aman, damai, dan makmur.


Seolah tidak berhenti sampai di situ saja, Wanita ini bahkan harus kehilangan putranya juga yang terjatuh ke jurang akibat ulah dari para prajurit yang diperintahkan untuk mengejar.

__ADS_1


Musibah demi musibah ini lah yang membuat mereka harus angkat topi atas tingkat ketabahan yang dimiliki oleh Permaisuri Galuh Cendana ini.


__ADS_2