Pangeran Tanpa Mahkota

Pangeran Tanpa Mahkota
Kematangan siasat ketika ini di uji


__ADS_3

Mendengar jawaban dari Datuk Hitam ini, tampak raut kekecewaan tergambar pada wajah Raja Jaya Pradana. Sedangkan Pratisara kini tampak hanya pasrah.


"Harapan ku semakin pupus. Mengapa aku tidak mati saja ditangan Indra Mahesa itu?" Kata Pratisara dalam hatinya.


"Puluhan tahun aku menantikan kemunculan kembali si Santalaya ke dunia persilatan. Tapi aku sedikit kecewa karena ternyata bukan bangsat tua itu yang muncul sekalipun ajian tapak suci telah kembali ke rimba persilatan,"


"Eyang guru, kemungkinan terbesar adalah, Indra Mahesa ini adalah murid dari Si Santalaya itu," kata Gagak Ireng pula menyela.


"Pasti. Jika tidak, mana ada orang lain yang memiliki ajian Lebur Wesi semenjak guru dari si Santalaya itu meninggal. Hmmm. Tidak apa-apa. Aku akan membunuh pemuda itu dan akan mengirimkan mayatnya kepada Santalaya. Hahaha,"


"Raka Pati. Apakah kau ada menyebarkan mata-mata di kadipaten Gedangan?" Tanya Raja Jaya Pradana.


"Hamba, Gusti. Hamba telah menyebarkan banyak mata-mata. Mungkin sebentar lagi mereka akan tiba membawa kabar," jawab Raka Pati.


"Hmmm. Aku sudah tidak sabar untuk menghancurkan kerajaan Galuh ini dan merebut keris tumbal kemuning sebagai lambang sah nya aku menjadi seorang Raja," kata Jaya Pradana dengan pancaran sorot mata yang tajam.

__ADS_1


***


Sementara itu, di atas bukit dari hutan bambu menuju ke arah benteng pertahanan di kadipaten Gedangan, tampak cahaya ribuan obor sedang berarak memanjang menuruni bukit dengan suara nyanyian pembangkit semangat dari mereka yang menandakan bahwa rombongan yang membawa obor ini adalah para prajurit kerajaan Galuh seperti baru saja tiba dari kota raja.


Menurut dari jumlah maraknya obor, paling tidak rombongan ini berjumlah sekitar delapan ribu prajurit. Itu jika dihitung dari jumlah obor.


Saat ini dari tempat ketinggian di puncak bukit bagian luar benteng, dua orang tilik sandi yang dikirim oleh Raka Pati langsung menuruni bukit begitu melihat prajurit tambahan yang tiba setelah pasukan pertama tiba kemarin malam terlebih dahulu.


Dua orang prajurit penunggang kuda ini langsung saja menggebah punggung kuda masing-masing menuruni bukit tersebut menuju ke perkemahan yang saat ini menjadi pusat bertemunya antara prajurit yang dipimpin oleh Raka Pati dan Gagak Ireng dengan rombongan besar prajurit yang dipimpin langsung oleh raja Jaya Pradana.


"Gusti Prabu. Saat ini satu pasukan berjumlah sekitar delapan ribu orang telah tiba di kaki bukit menuju ke kadipaten Gedangan. Jika dihitung dengan jumlah yang kemarin, maka saat ini mereka berjumlah sekitar enam belas ribu prajurit," kata Raka Pati melaporkan apa yang disampaikan oleh prajurit pengintai tadi.


"Hmmm... Sepertinya Rakai Galuh ingin mempertahankan kadipaten Gedangan itu. Dia kira aku ini bodoh. Melepaskan kadipaten Karang Kencana begitu saja lalu menumpuk kekuatan di kadipaten Gedangan. Kita lihat saja apa yang akan mereka lakukan. Apakah mereka hanya sebatas bertahan atau ingin melakukan peperangan secara terbuka. Jika mereka nekat, akan aku bantai seluruh prajurit dari kerajaan Galuh ini. Namun yang aku heran, mengapa secepat ini mereka membentuk kekuatan? Terakhir kali aku mengetahui kekuatan Rakai Galuh ini hanya berkisar sekitar sepuluh ribu prajurit saja. Tidak masuk akal," kata Jaya Pradana merasa heran.


"Ampun Gusti Prabu. Ketika hamba akan berangkat kemari, saat itu Indra Mahesa sudah mengirim beberapa utusan termasuk meminta bantuan kepada Gusti Prabu Kerta Rajasa untuk meminta raja Garingging itu mengirim pasukannya. Kemudian dia juga mengirim utusan ke padepokan jati Anom untuk meminta bantuan dari para murid di padepokan itu kemudian meminta mereka untuk mengabarkan kepada dunia persilatan bahwa saat ini mereka menginginkan sumbangan tenaga dari mereka. Selain itu, ketika di perjalanan menuju ke kadipaten Gedangan, ada puluhan bahkan ratusan orang-orang dari rimba persilatan menggabungkan diri dengan suka rela," kali ini Pratisara pula yang menceritakan semua yang dia ketahui.

__ADS_1


"Pratisara! Sudah berapa lama sejak dia mengirim utusan ke kerajaan Garingging?" Tanya Raja Jaya Pradana.


"Terhitung sudah lima hari, Gusti Prabu!" Jawab Pratisara.


"Jika demikian, maka jelas saat ini para prajurit dari kerajaan Garingging ini sedang berada dalam perjalanan. Aku harus segera mencari akal untuk membokong pasukan kerajaan Galuh dan pasukan bantuan dari kerajaan Garingging ini. Namun, besok malam kita harus segera melihat dan menghitung seberapa kuat dan seberapa besar pasukan yang mereka miliki,"


"Sendiko dawuh Gusti Prabu!" Kata mereka sangat bersemangat.


"Jelas tidak ada cara lain selain menarik pasukan kita ke lembah jati. Di sana kita bisa langsung menuju ke kota raja kerajaan Galuh lalu meluluh lantakkan kota raja itu. Jika kota raja telah dikuasai, maka seratus ribu pasukan pun tidak berguna. Biarkan mereka menumpuk pasukan mereka di kadipaten Gedangan ini. Karena, lembah jati masih memiliki jalan di lorong tebing yang bisa membawa kita langsung menuju ke kota raja. Hahaha... Hahaha.., hahaha..,"


Mereka semua lalu sama-sama tertawa dan sambil membayangkan bahwa kota raja saat ini dalam keadaan kosong tanpa prajurit. Ini karena, mereka saat ini sudah menumpuk kekuatan mereka di kadipaten Gedangan untuk mempertahankan kadipaten ini yang merupakan pintu masuk menuju ke kota raja kerajaan Galuh. Dengan begitu, ketika mereka menikung dari belakang melalui lembah jati, maka mereka akan dengan mudah menaklukkan kota raja, menawan Gusti Prabu Rakai Galuh.


Ibarat ular, jika kepalanya sudah dibekuk, maka ekornya akan menurut. Andai kita raja berhasil di taklukkan dan Gusti Prabu Rakai Galuh berhasil di tawan, maka secara langsung para prajurit yang berada di kadipaten Gedangan akan menjatuhkan senjata mereka lalu mengaku kalah.


Di sini, taktik lawan taktik yang sebenarnya sangat menentukan bagi peperangan dengan kekuatan yang tidak sebanding antara para prajurit dari kerajaan Galuh melawan pasukan kuat dan lengkap seperti prajurit dari Paku Bumi.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2