
"ampun Kakek Prabu. Hamba juga menyumbang kesalahan dalam peristiwa ini. Andai hamba tidak menghancurkan kadipaten Pitulung, tentu mereka tidak akan melakukan tindakan pembalasan seperti ini. Hamba rasa, seorang Prajurit yang membawa kabar itu memang sengaja tidak di bunuh agar bisa membawa kabar ke kota raja. Mereka sudah merencanakan semua ini. Mereka tidak makanan kecil. Makanya mereka membiarkan salah satu dari kelima prajurit yang Kakek Prabu utus dibiarkan kembali hidup-hidup ke kota raja," kata Pangeran Indra Mahesa.
"Semuanya sudah terjadi. Kau menghancurkan kadipaten Pitulung itu juga adalah satu sumbangan yang baik untuk kerajaan Galuh. Setidaknya kita tidak hanya pasrah saja menunggu serangan dari mereka. Perlawanan seperti itu juga diperlukan. Mereka belum pernah merasakan kekalahan. Memang harus ada yang bisa mengusik mereka agar mereka tau bahwa kita masih memiliki kuku yang tajam," kata Prabu Rakai Galuh tidak terlalu mau mempersoalkan tindakan dari Pangeran Indra Mahesa ini.
"Itu tidak seberapa. Masih jauh dari kata kemenangan. Hamba akan membalas kelicikan mereka ini, Kakek Prabu," kata Pangeran Indra Mahesa sambil menjura.
"Apa rencana mu cucuku?!" Tanya sang Prabu.
"Berapa keseluruhan prajurit yang kita miliki?" Tanya Pangeran Indra Mahesa.
"Saat ini seluruh prajurit yang kita miliki tidak sampai dua puluh ribu orang. Semuanya terbagi menjadi tiga ketumbuk. Ketumbuk pertama berada di kadipaten Gedangan untuk mendirikan benteng. Ketumbuk ke dua berada di kota raja ini. Sementara ketumbuk ketiga masih di gembleng di kadipaten Gedangan," jawab sang Prabu.
"Kakek Prabu. Hamba ingin para prajurit yang sedang di gembleng ini dibagi menjadi dua ketumbuk lagi. Satu ketumbuk harus bekerja mengumpulkan kayu bakar sebanyak-banyaknya. Bahkan harus banyak. Sedangkan sisanya di tarik ke kota raja," kata Pangeran Indra Mahesa.
Saat ini dia teringat seluruh jebakan di lorong tebing lembah jati. Itu adalah modal utama baginya untuk membalas kelicikan dari Jaya Pradana nanti.
"Mengapa begitu, Cucuku? Apakah kau memiliki strategi? Jika ada, tolong bentangkan di sini!" Kata prabu Rakai Galuh.
"Ampun Kakek Prabu. Hamba tidak akan mengungkapkan strategi yang hamba punya. Yang terpenting adalah, semuanya harus patuh dan taat kepada hamba. Kuncinya adalah, mematuhi setiap perintah dari panglima tertinggi. Di sini, hamba akan menjadi panglima tertinggi angkatan perang kerajaan Galuh. Bagi siapa yang membangkang, maka.., Pancung!" Kata Pangeran Indra Mahesa sambil bangkit berdiri lalu mengacungkan keris tumbal kemuning yang berada di genggaman tangan kirinya.
"Hamba akan mentaati apapun perintah dari Putra Mahkota Indra Mahesa!" Kata Panglima Pratisara yang merasa telah berhutang nyawa kepada Pangeran Indra Mahesa.
"Baiklah cucuku. Pengangkatan mu sebagai Panglima tertinggi pasukan perang kerajaan Galuh akan dilakukan sekarang juga. Kakek pasrahkan kerajaan Galuh ini ditangan mu. Jika runtuh, maka habislah sudah. Jika kita berhasil, maka nama mu akan tercatat dalam tinta emas sebagai Manggala Yuda yang berhasil menyingkirkan ancaman terbesar bagi kerajaan serta rakyat Galuh ini," kata Gusti Prabu Rakai Galuh lalu bertitah.., "siapkan upacara penobatan Putra Mahkota Indra Mahesa sebagai panglima tertinggi di kerajaan Galuh ini!"
"Sendiko dawuh Gusti Prabu!" Kata mereka serentak.
Setelah acara pelantikan itu selesai, Gusti Prabu Rakai Galuh kini membuka sebuah peti yang terbuat dari kayu berukir indah dengan kunci emas.
Setelah peti itu di buka, kini sang Baginda mengeluarkan sebilah pedang dengan manik-manik dari batu mulia tersemat di sarung pedang tersebut.
__ADS_1
Di bagian gagang pula, terdapat lambang kepala seekor rajawali dengan mata terbuat dari batu merah delima.
Pedang tersebut adalah pedang yang biasa digunakan oleh raja-raja terdahulu di kerajaan Galuh. Dengan pedang tersebut, perintah mutlak dapat dikeluarkan untuk mengatur strategi dalam peperangan. Memerintahkan penyerangan, atau memerintahkan mundur bagi sebuah pasukan.
Dengan tangan gemetaran, Pangeran Indra Mahesa menerima pedang tersebut sambil berlutut.
Setelah pedang tersebut berada di kedua telapak tangannya, perlahan ia pun bangkit lalu menghunus pedang tersebut.
Pangeran Indra Mahesa berdiri bagai batu karang dengan pedang terhunus terangkat menunjuk ke langit-langit ruangan aula Paseban itu.
Seluruh rakrian yang ada di tempat itu mendadak mengepalkan tangannya ke atas sambil berteriak.
"Hidup panglima tertinggi pasukan perang kerajaan Galuh!"
"Hidup Gusti Manggala Yuda!"
"Hidup Gusti Pangeran Indra Mahesa!"
"Dengarkan wahai seluruh prajurit kerajaan Galuh. Aku, Manggala Yuda Indra Mahesa mengharapkan kesetiaan, kesediaan, kesabaran serta ketabahan dari kalian semua dalam menghadapi apa jua halangan dan rintangan dalam perjuangan ini. Aku menginginkan kesetiaan kalian dan melakukan semua yang aku perintahkan. Aku menginginkan kesediaan kalian dalam apapun keadaan untuk negri tercinta ini. Aku menginginkan kesabaran kalian dalam menghadapi segala rintangan. Karena kita akan berangkat ke medan peperangan. Kita pergi meninggalkan anak dan istri bukan untuk bertamasya, melainkan untuk bergadai nyawa. Aku menginginkan ketabahan kalian andai kita diuji dengan kerugian akibat peperangan ini. Baik itu harta, anak, ayah, bahkan setiap dari kita yang gugur di medan perang. Ketahuilah bahwa ini adalah perjuangan untuk kebebasan agar kita tidak merasa selalu dikejar-kejar oleh rasa ketakutan. Andai saat ini kita tidak mau berkorban dan merasa berat tulang untuk mengangkat senjata demi sebuah perjuangan, percayalah kalian semua! Percayalah bahwa kelak anak, cucu, bahkan cicit kita akan mengalami hidup terjajah. Di jajah oleh kerajaan lain. Kalian memiliki rumah. Tapi merasa seperti menumpang. Kalian memiliki tanah air. Tanah di pajak, air di beli. Kalian memiliki negri. Tapi orang lain yang menikmati hasil dari kekayaan negri tercinta ini. Aku bersumpah demi Tuhan bahwa aku berani mengatakan, tidak akan ada dari diri kalian yang menginginkan hal itu terjadi. Oleh karena itu, bangkit! Bangkit kalian semua! Negeri ini menunggu tumpahnya dara pahlawan untuk sebuah kata kebebasan. Bangun kalian semua! Tidak perlu terlalu hebat. Karena ketika kita bersama-sama memikul beban ini, dan ketika kita semua merasa bertanggung jawab untuk negri ini, maka semuanya akan bisa kita gapai dengan cara bersama-sama. Aku tidak kuat. Panglima Rangga dan Pratisara tidak kuat. Senopati Arya Prana, Tumenggung Paksi tidak kuat. Gusti Prabu Rakai Galuh, Gusti Prabu Kerta Rajasa tidak kuat. Akan tetapi, kita akan kuat ketika kita berjuang bersama. Merasakan tanggung jawab yang sama!"
"Wahai para prajurit ku! Jadilah kalian sebagai satu tubuh. Hanya dengan begini barulah kita bisa kuat. Karena, ketika kalian berfikir bahwa kalian adalah satu tubuh, barulah kalian akan bisa merasakan arti dari kerjasama yang baik. Ketika bagian yang lain terluka, maka seluruhnya akan merasakan kesakitan. Apa kalian mendengar?!" Teriak Pangeran Indra Mahesa.
"Mendengar, Gusti!"
"Mendengar, Gusti!"
"Mendengar, Gusti!"
"Baik!"
__ADS_1
"Sadewa!"
"Hamba Gusti!"
"Kirim mata-mata segera ke kadipaten Karang Kencana! Perhatikan apa saja kegiatan di sana! Setelah itu, kembali ke kota raja untuk melaporkan semuanya kepadaku!"
"Daulat Gusti!"
"Pratisara!"
"Hamba Gusti!"
"Aku memerlukan peta kerajaan Galuh ini. Segera kirim ke pendopo di kaputren!"
"Sendiko dawuh Gusti!"
"Sekarang, persiapkan kemah milik kalian. Kemas dengan rapi. Setiap orang harus membawa setidaknya dua kemah atau lebih. Jangan tanya mengapa. Lakukan saja!" Perintah dari Pangeran Indra Mahesa ini langsung di sambut oleh kepatuhan dari semuanya.
"Bubarkan diri Kalian semua dan bersiap-siaplah menunggu perintah!"
Setelah itu, semuanya kini membubarkan diri untuk mempersiapkan segala sesuatunya.
Pangeran Indra Mahesa pun segera memberikan sembah kepada Permaisuri Galuh Cendana, lalu memberikan sembah secara bergantian antara Prabu Rakai Galuh dan Prabu Kerta Rajasa, lalu meninggalkan ruangan itu menuju pendopo di kaputren.
Kini tatapan penuh kagum dan bangga tampak terlihat jelas dari mata setiap orang yang berada di aula Paseban itu. Apa lagi Putri Melur. Sejak tadi dia seperti terpesona melihat ketegasan yang terdapat dalam diri pangeran Indra Mahesa.
Hal ini tidak luput dari perhatian Prabu Kerta Rajasa.
Sementara itu, pangeran Indra sama sekali tidak menganggap kehadiran Putri manja dari kerajaan Garingging ini. Dia hanya fokus terhadap tugas yang saat ini dia emban.
__ADS_1
Dengan ditemani oleh Bayu Gatra, Andini dan Gayatri, mereka kini duduk di sebuah pendopo sambil menunggu kedatangan Pratisara yang dia suruh untuk membawakan peta kerajaan Galuh ini.
Bersambung