
"baiklah. Jika sudah begitu, maka aku akan mengizinkan kalian semua untuk menyertai pasukan ini. Apakah kalian ingin seperti itu atau ingin mengenakan seragam prajurit kerajaan Galuh?" Tanya Pangeran Indra Mahesa.
Mendengar pertanyaan ini, membuat mereka saling pandang dan berunding sejenak. Setelah itu barulah mereka kini memutuskan untuk mengenakan seragam prajurit kerajaan Galuh. Demi mengelabui golongan hitam. Karena, bisa saja pasukan ini kalah. Dan sebagai pembalasan, kemungkinan terbesar nantinya adalah, Jaya Pradana akan menyerang padepokan mereka seperti yang terjadi di Setra kencana.
Setelah selesai berganti pakaian, mereka lalu menunggang kuda masing-masing untuk kembali melanjutkan perjalanan yang dijangkakan akan tiba dalam empat hari atau lebih. Ini karena, Mereka tidak bisa berjalan cepat dengan banyaknya beban yang mereka bawa menggunakan kereta lembu.
"Pangeran. Apa tidak sebaiknya kita beristirahat saja di sini? Saat ini kuda dan para prajurit butuh istirahat untuk kembali mengisi tenaga mereka," kata Senopati Arya Prana.
"Baiklah. Kita hanya beristirahat sebentar saja. Kemudian segera melanjutkan perjalanan. Ketika perjalanan telah memakan waktu selama dua hari, kita akan mengubahnya," kata Pangeran Indra Mahesa.
"Maksud Gusti?" Tanya Senopati Arya Prana lagi.
"Kita akan melakukan perjalanan di malam hari dan beristirahat di siang hari dengan cara bersembunyi di hutan-hutan terdekat. Saat ini Sadewa dan orang-orangnya sedang melakukan pengintaian. Aku tidak ingin pihak lawan mengetahui bahwa kita telah bergerak dan mengetahui pasti berapa jumlah kita. Biarkan semuanya menjadi teka-teki bagi mereka. Kita akan menipu mereka seolah-olah jumlah prajurit kita sangat besar!" Kata Pangeran Indra Mahesa sambil tersenyum.
"Hamba baru mengerti mengapa Gusti memerintahkan kepada para prajurit untuk membawa kemah sebanyak mungkin dan memerintahkan kepada prajurit di kadipaten Gedangan untuk mengumpulkan kayu bakar sebanyak-banyaknya," kata Panglima Rangga yang sudah dapat menangkap maksud dari strategi yang digunakan oleh junjungan nya itu.
"Mari kita Istirahat di pinggir hutan sana. Kalian bisa berteduh di sana sampai petang. Setelah itu, malamnya kita akan berangkat kembali menuju kadipaten Gedangan!"
"Sendiko dawuh Gusti!" Kata mereka lalu segera mengumumkan bahwa mereka akan berhenti dan beristirahat di pinggir hutan yang hampir mereka lalui itu.
*********
__ADS_1
Rombongan yang dipimpin oleh Sadewa yang berjumlah lima orang itu memacu kuda mereka melewati perbatasan kadipaten Gedangan menuju ke jalan berbukit yang sudah memasuki kawasan kadipaten Karang Kencana.
Tiba di atas bukit itu, mereka kini melihat seorang penunggang kuda tampak menggebah kuda tunggangan nya seperti kesetanan.
Orang itu terlihat seperti memakai pakaian yang sangat mereka kenal. Yaitu pakaian seragam prajurit kerajaan Galuh.
"Kakang Sadewa. Coba kau lihat di sana itu. Bukankah itu adalah prajurit kerajaan Galuh? Apa yang dia lakukan di sana itu?" Tanya salah seorang dari kelima prajurit yang dipimpin oleh Sadewa itu. Mereka ini adalah tilik sandi yang sengaja diutus oleh Pangeran Indra Mahesa untuk meninjau sampai di mana pasukan Paku Bumi telah berada, kemudian melaporkan semuanya kepada Pangeran Indra Mahesa.
"Entahlah Dinda. Apakah kita perlu menghampiri orang itu?" Tanya Sadewa.
"Mari Kakang! Siapa tau orang ini adalah mata-mata. Jika kita tidak mengenal orang itu, maka sebaiknya kita bunuh saja!"
"Mari!" Ajak Sadewa lalu segera menggebah punggung kudanya menuruni jalan berbukit itu.
Grusak!
Bugh!
"Heh! Apa-apaan kalian ini?" Tanya prajurit yang sudah di bekuk itu.
Ketika Sadewa menelentangkan tubuh prajurit tadi, kini dia melihat seraut wajah yang sangat dia kenal.
__ADS_1
"Larkin..? Mengapa kau ada di sini? Mengapa kau bisa terpisah dengan panglima Pratisara?"
"Huh. Pertanyaan mu banyak benar. Tunggu aku menarik nafas dulu!" Kata Larkin sambil menyingkirkan ujung pedang yang menempel di lehernya.
"Katakan Larkin. Ada apa sebenarnya yang terjadi?" Tanya Sadewa.
"Ceritanya panjang. Pasukan kami di jebak oleh prajurit Paku Bumi. Aku terpaksa berpura-pura mati demi selamat. Saat mereka telah meninggalkan tempat dimana kami di kepung, aku mencoba menguntit mereka dari belakang. Kau tau apa yang mereka lakukan?"
"Apa? Coba kau jelaskan!" Tanya Sadewa.
"Mereka sengaja membagi-bagi pasukan dibawah beberapa panglima. Aku menduga, bahwa mereka akan menggunakan cara yang sama seperti yang telah mereka lakukan di Setra kencana. Berpura-pura kalah, lalu menyergap pasukan kita setelah mengira mereka kalah dan mengejar mereka," kata Larkin mengabarkan.
"Celaka kalau begini. Gusti Pangeran Indra Mahesa harus segera diberitahu!" Kata Sadewa.
"Apakah Gusti Pangeran ada di kerajaan Galuh?" Tanya Larkin.
"Sudah berada dalam perjalanan ke kadipaten Gedangan. Dia sendiri yang memimpin pasukan sebagai Panglima tertinggi," jawab Sadewa.
"Celaka kalau begitu. Sadewa! Mari kita segera berangkat! Jika sampai terlambat, maka pasukan kita akan binasa. Saat ini yang aku khawatirkan adalah pasukan yang dipimpin oleh Adipati Rakai langit di kadipaten Gedangan. Kita berbagi tugas. Empat orang bawahan mu tinggal di sini untuk memantau keadaan. Sementara kita, harus segera menemui Adipati Rakai langit untuk tidak langsung terpancing dengan serangan dari pihak musuh. Setelah itu, baru kita melaporkan semuanya kepada Pangeran Indra Mahesa. Bagaimana?" Tanya Larkin.
"Ayo lah. Semakin cepat semakin baik!" Kata Sadewa lalu berpesan kepada empat orang prajurit bawahannya untuk terus memantau pergerakan musuh dari atas bukit.
__ADS_1
Bersambung...