
"Putra Mahkota Indra Mahesa!"
Tanpa sadar gumaman itu keluar dari bibir Senopati Arya Prana yang jelas dapat di dengar oleh ke-empat orang bawahannya.
Mereka lalu menghampiri Senopati Arya Prana kemudian bertanya.
"Putra Mahkota Indra Mahesa? Apa maksud mu kakang?" Tanya Arya Permadi kepada kakak kandungnya itu.
"Kalian semua coba perhatikan kain sutra kuning bersulam emas yang melilit di pinggang anak muda itu! Bukankah itu adalah kain sutra pembedung tubuh pangeran Indra Mahesa ketika kita melarikan diri bersama dengan Permaisuri Galuh Cendana di lembah bangkai?" Nada pertanyaan dari Senopati Arya Prana ini membuat keempat orang itu langsung menatap ke arah satu tujuan, yaitu pangeran Indra Mahesa yang sudah tiba di dekat kedua gadis yang sedang bertarung melawan prajurit kadipaten Pitulung ini.
Sama seperti Senopati Arya Prana tadi. Kali ini Panglima Rangga, Tumenggung Paksi, Wiguna dan Arya Permadi juga mengerjapkan kelopak mata mereka. Bahkan beberapa kali mengusap mata mereka dengan punggung tangan untuk memperjelas penglihatan mereka.
"Memang benar kakang. Kain sutra itu jelas tidak sembarang orang dapat memilikinya. Tapi, apakah kakang yakin bahwa dia adalah junjungan kita? Bisa saja sutra itu diterbangkan oleh angin lalu ditemukan oleh pencari kayu bakar," kata Panglima Rangga sedikit merasa kurang yakin walaupun jelas bahwa kain sutra yang melilit di pinggang pangeran Indra itu adalah kain sutra yang khusus milik keluarga kerajaan.
"Saat ini kita bisa saja membantah. Namun setidaknya kita masih memiliki harapan bahwa Putra Mahkota kita masih hidup. Andai di pinggang pemuda itu terdapat keris tumbal kemuning, maka sah lah sudah bahwa dia adalah junjungan kita," kata Senopati Arya Prana sambil terus memperhatikan jalannya pertarungan.
Sayang sekali bahwa pangeran Indra sama sekali tidak mengeluarkan keris tumbal kemuning yang terselip di pinggangnya yang tertutup oleh baju putih tanpa lengan itu. Ini karena, selain takut, dia juga merasa tidak perlu hanya melawan cecunguk seperti para prajurit dari kadipaten Pitulung ini saja sampai harus mengeluarkan keris. Dengan begini, maka punahlah harapan dari Senopati Arya Prana untuk mengetahui jati diri pemuda tampan berpakaian serba putih tersebut.
"Ki. Setelah ini, sebaiknya kau tutup saja warung mu ini. Kau bisa berhenti menjadi tilik sandi. Ini karena, akan sangat berbahaya bagimu jika masih tetap membuka warung di sini. Para binatang bawahan Jaya Pradana itu pasti akan membunuh mu tanpa belas kasih," kata Senopati Arya Prana pula.
"Lalu, kemanakah hamba akan pergi Gusti Senopati?" Tanya lelaki tua itu.
"Mengikuti kami nanti ke lembah jati," jawab Arya Prana.
__ADS_1
"Hamba akan berkemas dulu Gusti!" Kata lelaki tua itu lalu bergegas memasuki warungnya untuk membungkus semua barang-barang berharga miliknya lalu melarikan diri dari kadipaten Pitulung ini menuju ke lembah jati.
Saat ini, keempat pemuda itu baru saja menumbangkan seluruh prajurit kadipaten Pitulung.
Setelah selesai menyelamatkan lelaki tua yang terseret oleh kuda milik prajurit tadi, kini mereka kembali ke kursi masing-masing kemudian duduk dengan tenang laksana seperti tidak pernah terjadi apa-apa.
Beberapa orang menyambut kemenangan keempat pemuda itu dengan kekhawatiran yang teramat sangat.
Hal ini tentu saja membuat Pangeran Indra Mahesa, Bayu Gatra, Andini dan Gayatri merasa heran. Terlebih lagi kini mereka melihat banyak diantara penduduk desa pinggiran kadipaten Pitulung ini berbondong bondong membawa buntalan yang tersandang di bahu mereka dengan langkah tergopoh-gopoh meninggalkan desa ini.
"Mereka sepertinya ketakutan kakang," kata Andini.
"Mental penduduk kampung ini telah di rusak selama tujuh belas tahun. Aku tidak menyalahkan mereka. Mereka telah sekian lama diselimuti oleh ketakutan yang sengaja ditimbulkan oleh sang penguasa. Maka dari itu, tidak ada lagi niat untuk memberontak di hati mereka menghadapi kelaliman penguasa," kata Pangeran Indra Mahesa sambil memperhatikan lelaki tua pemilik warung itu juga mulai bergegas meninggalkan warung nya.
"Aki. Aki tidak perlu pergi. Kami akan tetap di sini dan akan membantu aki dari gangguan begundal-begundal kadipaten Pitulung ini," kata Bayu Gatra berusaha menimbulkan keberanian di hati lelaki tua itu.
"Siapakah kisanak ini sebenarnya?" Tanya Bayu Gatra.
"Kau tidak perlu tau siapa aku. Karna percuma jika kau beritahu pun, kau tetap saja tidak mengenal ku. Sekarang aku ingin bertanya kepadamu pemuda yang berpakaian serba putih," kata Senopati Arya Prana.
"Apa yang ingin Kisanak tanyakan?" Tanya Pangeran Indra pula.
"Siapa namamu, dari mana asal mu, siapa orang tua mu, dan kemana tujuan mu?"
__ADS_1
"Pertanyaan Kisanak banyak benar. Tapi tak mengapa. Aku akan menjawab satu persatu,"
"Namaku adalah Indra Sontoloyo. Aku berasal dari lereng gunung sumbing. Aku tidak memiliki orang tua lagi dan tujuan ku hendak ke kerajaan Galuh atas perintah dari eyang guru kami agar kami dapat membantu kerajaan itu dari serangan yang akan dilancarkan oleh Jaya Pradana," jawab pangeran Indra Mahesa menjelaskan.
"Apakah kau pernah mendengar nama lembah bangkai?" Tanya Senopati Arya Prana lagi.
"Bagaimana dia tau tentang lembah bangkai?" Pikir Pangeran Indra Mahesa dalam hati. Namun dia tidak langsung menjawab.
"Siapa yang memberikan nama Indra kepadamu? Apakah Indra Mahesa?" Tembak sang Senopati Arya Prana langsung tanpa Tedeng aling-aling.
Baru saja Pangeran Indra Mahesa akan menjawab, kini dari arah depan tampak ratusan prajurit dengan persenjataan lengkap dipimpin langsung oleh Adipati Aria Seta dan Senopati Wikalpa bergerak cepat lalu mengepung warung di mana Pangeran Indra Mahesa dan Senopati Arya Prana saling bertanya jawab.
"Mereka sudah datang. Persiapkan diri kalian!" Kata Senopati Arya Prana sambil meraba dan meluruskan letak keris yang terselip di pinggangnya.
"Bagaimana? Kalian siap?" Tanya Bayu Gatra kepada ketiga sahabatnya itu.
"Lebih dari siap kakang!" Jawab Pangeran Indra Mahesa.
"Apa boleh buat. Sepertinya ini ujian pertama buat kita setelah turun gunung," kata Andini pula.
"Kakang Indra. Sebaiknya kau jangan ikut bertarung. Aku akan melindungi mu!" Kata Gayatri yang tidak ingin jika Pangeran Indra nantinya terluka.
"Terimakasih Dinda Gayatri. Tidak apa-apa. Aku akan bersembunyi di belakang punggung mu," jawab Pangeran Indra Mahesa yang tidak mau mengecilkan hati gadis itu.
__ADS_1
...Selesai baca, wajib like!!!...
Bersambung...