Pangeran Tanpa Mahkota

Pangeran Tanpa Mahkota
Darah sang Pahlawan


__ADS_3

"Bodoh kalian semua!" Bentak lelaki tadi.


Dengan cepat dia menendang perut Larso hingga terpental menghantam sebatang pohon. kemudian, lelaki tadi merampas busur panah dari salah satu prajurit untuk membidik seorang prajurit lagi yang berada di belakang Larkin.


Melihat hal ini, Larso segera melupakan rasa sakitnya. Dia segera mengumpulkan sisa-sisa tenaga yang dia miliki lalu menerkam lelaki tadi sehingga lesatan anak panah yang dia lepaskan melenceng cukup jauh dari sasaran.


"Kurang ajar! Hih!!!"


Bugh


Bugh


Plak!


"Aaa..."


Terdengar jeritan Prajurit Larso bersama lesatan tubuh nya kembali menghantam pohon lalu jatuh terduduk dengan semburan dara segar tampak menyembur dari mulutnya.


"Sial. Kau harus aku bunuh!" Kata lelaki itu sambil mendatangi Larso dengan tangan menggenggam erat-erat gagang pedangnya.


"Hahaha. Mengapa? Kalau kau mau membunuh ku, lakukan saja. Ketahuilah! Kalian ini belum cukup mampu untuk menghancurkan kerajaan Galuh. Hanya mengandalkan jumlah saja. Aku puas walaupun harus mati," kata Larso sambil memperbaiki posisinya bersandar di batang pohon itu.


"Kurang ajaaar! Diam mulut mu itu. Atau akan aku bungkam selamanya!"


"Puih!"

__ADS_1


Tampak luncuran ludah bercampur darah melesat lalu hinggap dengan telak di wajah lelaki kepala pasukan Paku Bumi yang mengepung perbatasan antara desa Waringin dan lembah jati ini.


Hal ini tentu saja membuat lelaki itu menjadi gelap mata.


"Sial kau ini. Aku ingin tau. Apakah kau memiliki sepuluh nyawa hah?"


"Aku hanya memiliki satu nyawa. Tapi tidak murahan seperti nyawa anjing mu itu. Kalian, orang-orang paku bumi semuanya penjilat. Menjilat ke para penguasa, lalu, menindas kepada yang lemah. Itu lah kalian ini. Kumpulan para manusia yang tidak tahu malu!" Kata Larso sambil menyeringai memperlihatkan barisan giginya yang telah merah oleh darah.


Keadaan Larso kini memang benar-benar cukup parah.


Karena, sebelum melakukan pertarungan dengan kepala pasukan ini, dia telah terlebih dahulu menguras tenaga melawan puluhan prajurit yang menyerangnya secara bergantian.


Walaupun dia mampu menumbangkan prajurit tadi, namun tidak urung tenaganya habis terkuras juga. Hal ini lah yang dimanfaatkan oleh lelaki kepala pasukan ini. Makanya Lasro berteriak mengatakan bahwa lelaki ini adalah seorang pengecut yang tidak tahu malu.


"Hahaha. Silahkan menyumpah sesuka hatimu. Aku memberikan kebebasan kepada mu untuk mengatakan apa saja menjelang ajal. Karena, setelah mati, kau tidak akan bisa lagi berkata-kata,"


"Begitu kah? Mungkin yang akan terjadi adalah kebalikannya. Kerajaan Galuh tidak akan lama lagi pasti runtuh," kata lelaki itu sambil menjambak rambut Larso.


"Kau bermimpi di siang bolong. Anjing seperti kalian ini akan segera dibumihanguskan. Cepatlah bangun sebelum mimpimu semakin buruk!" Kata Larso.


"Kurang ajar!"


Plak!


"Hahaha. Mengapa? Kau takut? Bunuh saja aku bangsat! Aku tidak pernah takut dengan anjing-anjing dari paku bumi seperti kalian ini. Hahahaha,"

__ADS_1


"Tidak semudah itu. Aku masih berbaik hati kepadamu! Aku akan menyelamatkan nyawa mu andai kau memberi tahu jalan masuk ke lembah jati. Bagaimana? Pikirkan nyawamu yang berada di tangan ku!"


"Puih...!"


Sekali lagi semburan ludah bercampur darah membasahi wajah kepala pasukan pengepung itu.


"Sudah aku katakan. Kau jangan terlalu lama bermimpi. Kami, para prajurit kerajaan Galuh bukan bermoral rendah seperti kalian kumpulan para anjing dari Paku Bumi. Aku masih menjunjung tinggi nilai-nilai kesetiaan. Kau salah besar jika hanya dengan ancaman murahan mu itu, maka aku akan takut lalu terkencing-kencing,"


"Hah! Di kasih hati malah minta mampus! Ucapkan selamat tinggal kepada dunia!" Bentak lelaki itu lalu mengayunkan pedangnya ke arah leher prajurit yang sudah tidak berdaya itu.


Crasss!


Blugh...!


Tampak potongan kepala Larso terpisah dari tubuhnya.


Darah segar kini muncrat bagai air mancur membasahi seragam perang yang dia kenakan.


Darah seorang ksatria yang menjunjung tinggi nilai-nilai kesetiaan terhadap tanah airnya.


"Tinggalkan tempat ini, lalu kembali ke posisi semula!" Kata lelaki itu memerintahkan.


"Sendiko Gusti!" Jawab para prajurit dari Paku Bumi itu kemudian bergerak meninggalkan tempat pertarungan tadi.


Kini di tempat itu, tampak sekitar dua puluh mayat yang diantaranya adalah tiga mayat prajurit dar Kerajaan Galuh, serta sisanya dari Paku Bumi.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2