
Mendengar apa yang dikatakan oleh Raja Jaya Pradana, Pangeran Indra Mahesa hanya bisa tersenyum kecut sambil menggelengkan kepalanya.
Dia tidak habis mengerti mengapa ada manusia yang begitu memiliki hati yang sangat keras seperti Pamannya ini.
"Kau tidak berhak, Paman. Kau tidak layak untuk singgasana itu. Darahmu terlalu kotor untuk mati di singgasana yang kau rebut dengan paksa. Kau adalah gembong pemberontak. Di sinilah jika kau ingin mati!" Tegas pangeran Indra Mahesa lalu melanjutkan. "Jika tawaran baik dariku tidak bisa kau hargai, maka mari! Mari kita selesaikan persengketaan antara kita! Siapa yang sebenarnya berhak atas tahta kerajaan di Sri Kemuning ini!"
"Hahaha... Perkataan mu terlalu bijak, Keponakan ku. Kau menganggap bahwa kau telah memenangkan peperangan hanya karena seluruh prajurit ku telah kau binasakan?!. Kini, orang yang berhak atas tahta kerajaan Sri Kemuning ini hanya tingal kita berdua saja. Siapapun yang keluar dari arena pertarungan antara aku dan kau, maka dialah yang akan menjadi raja di kerajaan Sri Kemuning. Aku juga telah lama mencari keberadaan mu. Sekarang, mari kita tuntaskan permasalahan diantara kita!"
"Silahkan, Paman! Yang muda menghormati yang tua. Maka, silahkan kau menyerang ku. Aku akan memberikanmu kesempatan menghabiskan sepuluh jurus untuk menyerang ku, dan aku tidak akan membalas!" Kata Pangeran Indra Mahesa sambil merentangkan kedua tangannya sebagai tanda bahwa dia telah mengirim tantangan.
"Sombong kau ini. Bersiaplah!"
Raja Jaya Pradana kini mulai membuka seluruh pakaian besi yang dia kenakan dan kini hanya tinggal pakaian sutra berwarna kuning keemasan.
Setelah baju perang nya di buka, kini tampaklah di pinggang lelaki itu terselip sebilah keris berwarna hitam pekat. Keris itu lah dulu yang merenggut nyawa Jaya Wardana.
Melihat lawannya telah bersiap, pangeran Indra juga membuka pakaian perang nya lalu menanggalkan pedang tanda bahwa dia adalah Manggala Yuda, dan kini mulai mempersiapkan diri untuk menyambut serangan yang datang.
"Lihat serangan!" Bentak Raja Jaya Pradana lalu segera melesat mengirimkan sebuah pukulan jarak dekat ke arah wajah pemuda itu.
Wuzzz...
Terdengar suara sambaran angin mengandung hawa panas ketika pukulan itu mengarah ke arah wajah pangeran Indra Mahesa yang dengan sigap langsung memiringkan kepalanya hingga serangan itu luput menemukan sasarannya.
Begitu serangan pertama luput, Raja Jaya Pradana langsung membuka tinjunya dan kini tangannya berubah berbentuk cakar dan siap untuk mencengkram bagian belakang kepala Pangeran Indra.
Mengetahui serangan yang luput tadi di tarik kembali oleh Raja Jaya Pradana sambil berusaha menarik kepala bagian belakang miliknya, pangeran Indra Mahesa segera menundukkan kepalanya dan sekali lagi serangan itu luput menemukan sasarannya. Satu jurus telah berlalu tanpa terasa.
Memasuki jurus ke dua, Raja Jaya Pradana kini memperhebat serangannya. Ini terasa dari sambaran angin yang mengandung hawa panas dari setiap serangan yang menimbulkan deru angin itu menerpa kulitnya.
Tau bahwa lawannya benar-benar ingin mencelakai dirinya sedangkan dia telah berjanji akan memberikan lawannya kesempatan untuk menyerangnya sebanyak sepuluh jurus, maka pangeran Indra segera mengempos hawa murni yang berpusat di pusar nya, lalu kemudian naik ke kepala setelah itu menyebar ke seluruh tubuh.
__ADS_1
Begitu hawa murni miliknya dikerahkan, perlahan namun pasti, hawa panas yang tadi menyengat dari setiap serangan yang dilancarkan oleh Jaya Pradana tidak terlalu berpengaruh lagi baginya.
Lima jurus telah berlalu dengan begitu cepat. Namun, tidak satupun dari serangan yang dilancarkan oleh Jaya Pradana mengenai tubuh pangeran Indra Mahesa.
"Setan alas. Aku seperti pernah mendengar tentang jurus-jurus pertahanan seperti ini. Tapi di mana?" Pikir Jaya Pradana dalam hati sambil terus melakukan serangan.
Entah karena dia lupa, atau karena saat ini bahwa otaknya sedang dirasuki oleh kemarahan, maka dia gagal mengingat jurus langkah sakti yang saat ini digunakan oleh Pangeran Indra Mahesa bagi menghadapi serangan dari Jaya Pradana.
Sepuluh jurus kini telah berlalu dan pangeran Indra Mahesa langsung melompat keluar dari arena pertarungan.
"Kesempatan mu sudah habis Paman. Sepuluh jurus yang aku berikan ternyata tidak kau pergunakan dengan baik. Sekarang aku akan memberikan perlawanan. Bersiaplah!" Kata Pangeran Indra Mahesa memperingatkan.
"Setan alaaaas! Ku bunuh kau!" Bentak Raja Jaya Pradana lalu kembali melakukan serangan.
Kini pertarungan tampak semakin sengit.
Berulang kali pukulan demi pukulan bertemu di udara.
Pangerang Indra kini tampak menggenjot tubuhnya berputar ke udara, lalu menukik menyambar bagian kepala Jaya Pradana.
Serangan dahsyat yang berhasil dihindari oleh Raja Jaya Pradana ini tak urung membuat mahkota miliknya terjatuh ke tanah.
Kini, dengan mata terbelalak, Raja Jaya Pradana melihat bahwa mahkota yang dikenakan di atas kepalanya telah berubah menjadi hitam laksana arang.
"Aku akui, kau memang tangguh. Tapi kau jangan berbangga dulu. Aku masih jauh dari kata kalah!" Kata Raja Jaya Pradana lalu segera duduk bersila di atas tanah.
Dari mulutnya yang berkomat-kamit melantunkan mantra yang entah apa artinya, kini dari posisi duduknya, dia mulai melakukan gerakan seperti merangkak lalu mencakar-cakar tanah seperti seekor harimau yang sedang mengamuk.
Dari jari jemarinya kini keluar kuku-kuku berwarna hitam panjang dan runcing. Terasa jelas dari bau busuk yang dikeluarkan oleh sepuluh kuku hitam itu bahwa kuku itu pastilah mengandung racun yang amat keji.
Melihat lawannya yang telah mengeluarkan ajian kesaktian, pangeran Indra pun tidak mau ketinggalan. Dia segera memasang kuda-kuda dengan setengah berjongkok, setelah itu, dia kemudian mengepalkan kedua tinjunya dan diletakkan separas pinggang.
__ADS_1
Perlahan-lahan pangeran Indra mengangkat kedua tangannya lalu membuat gerakan turun naik sehingga menimbulkan deru angin yang dahsyat.
Begitu Raja Jaya Pradana melompat mengirimkan serangan, Pangeran Indra pun langsung menyambut pukulan itu dengan tangan terkembang sambil berteriak.
"Pukulan tapak maut..."
Duaaar!
Suara ledakan menggelegar mengguncang tanah di sekitar tempat terjadinya pertarungan itu. Dan, suara ledakan ini lah yang di dengar oleh Senopati Arya Prana, Panglima Rangga, Tumenggung Paksi, Wiguna, Arya Permadi, Bayu Gatra, Andini dan Gayatri ketika mereka berada di hutan lembah jati tadi.
Suara ledakan yang menarik perhatian mereka lalu kesemua mereka bergegas menggebah kuda tunggangan mereka masing-masing menuju suara ledakan berasal.
Dua kali tangan mereka berbenturan, maka dua kali pula suara ledakan tadi mengguncang tempat terjadinya pertarungan itu.
Akibat dari kekuatan kedua pukulan yang mengandung pengerahan tenaga dalam tingkat tinggi itu, banyak pohon-pohon yang tumbang.
Sementara itu, dua sosok tubuh saling terlempar di udara lalu terjatuh di atas tanah dengan suara bergedebuk.
"Hoeeek..,"
Pangeran Indra Mahesa tampak menyemburkan darah segar dari mulutnya.
Sedangkan Raja Jaya Pradana, kini terlihat terlentang di tanah berpasir dengan nafas turun naik.
Suara batuk pun dari kedua orang itu kembali terdengar.
Dari arah yang berlawanan di kejauhan, tampak satu sosok berpakaian serba hitam melesat dengan cepat ke arah arena pertarungan itu.
Sementara di sisi lain juga tampak dua bayangan melesat ke arah yang sama.
Tak lama berselang, kini dari arah lembah jati pula, tampak rombongan orang-orang menunggang kuda sudah sangat dekat dengan tempat terjadinya pertarungan antara Pangeran Indra Mahesa melawan Raja Jaya Pradana.
__ADS_1
Setiap like bagiku adalah ungkapan terimakasih. jadi, jangan pelit untuk berbagi.
Bersambung...