Pangeran Tanpa Mahkota

Pangeran Tanpa Mahkota
Prajurit dari kerajaan Galuh tiba di bagian timur


__ADS_3

Tujuh hari setelah kerja-kerja perintisan jalan.


***


"Lapoooor!"


Tampak seorang lelaki berpakaian serba hitam berlari menuju rumah besar kediaman Permaisuri Galuh Cendana dimana di sana tampak Pangeran Indra Mahesa sedang duduk seperti memikirkan sesuatu.


Mendengar teriakan sari lelaki yang berpakaian serba hitam itu, dia lalu berdiri dan menunggu di depan pintu.


"Lapor Gusti Pangeran," kata lelaki itu terengah-engah.


"Paman. Ada apa? Tenangkan dulu dirimu, lalu bicaralah secara perlahan!" Pinta Pangeran Indra Mahesa.


"Pangeran. Hamba ingin melaporkan bahwa di bagian timur tempat kami melakukan kerja-kerja pembuatan jalan, kami melihat ribuan prajurit dari kerajaan Galuh sedang mengarah ke lembah jati ini. Diperkirakan, jarak mereka sudah sangat dekat. Jika mereka terus melakukan perjalanan tanpa henti, maka mereka akan tiba di lorong jalan di bagian tebing dalam hitungan setengah hari lagi," jawab sang pembawa kabar itu.


"Apa?" Sentak sang Pangeran terkejut.


"Di mana Senopati Arya Prana?" Tanya nya sambil bangkit dari duduknya.

__ADS_1


"Hamba tidak tau Gusti!" Jawab lelaki itu.


"Bagaimana ini? Tidak mungkin aku langsung ke sana. Mereka tidak mengenaliku. Paman! Kau cari di mana keberadaan Senopati Arya Prana. Kalau ketemu, suruh dia datang untuk menghadap!"


"Sendiko dawuh Gusti Pangeran!" Jawab lelaki itu sambil menjura hormat. Perlahan dia melangkah mundur lalu berbalik tubuh menuju ke arah pinggir pintu masuk menuju perkampungan itu.


***


Sementara itu, Senopati Arya Prana tampak sedang memberi arahan kepada pemuda yang dia latih untuk menjadi prajurit.


Ketika dia sedang membenarkan letak posisi busur panah pada salah seorang prajurit yang ingin membidik sasaran dengan bentuk tubuh manusia yang dibuat dari rerumputan, kini seorang lelaki yang memberikan laporan kepada pangeran Indra Mahesa tadi datang menghampiri dirinya.


"Gusti Senopati. Pangeran meminta Gusti untuk menghadap!" Kata lelaki itu.


"Ada hal yang sangat penting, Gusti! Pokoknya, Gusti harus cepat!" Kata lelaki itu.


"Baiklah! Ayo kau temani aku!" Pinta sang Senopati.


Mereka berdua lalu bergegas dengan langkah cepat menuju ke perkampungan tersembunyi itu.

__ADS_1


Tiba di rumah besar dimana sang Pangeran sedang duduk, kedua lelaki yang sama-sama mengenakan pakaian serba hitam itu langsung berlutut sambil menjura.


"Gusti. Hamba telah di sini. Ada apakah gerangan Gusti meminta hamba untuk menghadap?" Tanya Senopati Arya Prana.


"Paman Senopati! Hentikan dahulu latihan keprajuritan! Saat ini, tempatkan semua orang-orang kita di atas tebing. Untuk pasukan pemanah, tempatkan bagian timur sedangkan untuk yang lainnya, tempatkan mereka di bagian barat!" Kata pangeran Indra Mahesa tanpa basa-basi lagi.


Senopati Arya Prana tampak mengernyitkan dahinya ketika mendengar perintah ini. Dia sama sekali belum tau apa sebenarnya yang terjadi.


Rupanya, tatapan penuh pertanyaan dari Senopati tua yang setia ini membuat pangeran Indra segera mengerti. Maka, dia segera memberitahukan bahwa saat ini, prajurit kerajaan Galuh sudah tiba di bagian timur lembah jati.


"Hah? Ya Tuhan. Mengapa mereka kemari?" Gumam Senopati Arya Prana dengan rasa keterkejutan yang besar.


"Ini lah masalahnya Paman. Aku khawatir bahwa mereka saat ini sedang di kecoh oleh Paman Jaya Pradana. Aku yakin bahwa saat ini kekuatan pertahanan di kerajaan Galuh sedang melemah karena ditinggalkan oleh sebagian prajurit,"


"Paman segera berangkat ke bagian timur hutan dan cegat mereka di sana. Katakan kepada mereka bahwa kita di sini sedang tidak dalam masalah. Aku menduga salah satu dari lima prajurit itu ada yang selamat lalu melaporkan semuanya kepada kakek Prabu," kata pangeran Indra Mahesa menebak.


"Kalau begitu, hamba mohon pamit, Pangeran. Mereka harus di hadang lalu harus segera disuruh kembali ke kerajaan Galuh. Bagaimanapun, kota raja lebih membutuhkan mereka daripada kita yang di sini,"


"Hmmm. Segeralah berangkat Paman! Jangan lupa katakan kepada Paman Wiguna dan Arya Permadi untuk mengatur posisi para pejuang kita di atas lembah. Aku curiga bahwa para prajurit yang mengepung kita juga sudah mengetahui hal ini. Begitu mereka melewati jalan di lorong tebing, maka, di sana lah kuburan mereka. Kedatangan para prajurit dari kerajaan Galuh ini sebenarnya ada untungnya buat kita. Tapi lebih banyak rugi daripada untungnya!" Kata sang Pangeran.

__ADS_1


"Sendiko dawuh Gusti Pangeran!" Kata Senopati Arya Prana lalu segera bergegas menemui Panglima Rangga dan Tumenggung Paksi untuk menemani dirinya menghadang para prajurit yang datang dari kerajaan Galuh. Sementara Wiguna dan Arya Permadi adiknya itu, akan dia tinggalkan bagi mengomandoi para pejuang baik yang sudah tua, muda, maupun yang masih berlatih.


Setelah posisi masing-masing telah ditempati, Tanpa membuang waktu lagi, Senopati Arya Prana, Panglima Rangga dan Tumenggung Paksi pun menggebah kuda mereka melalui jalan yang baru mereka buat dan belum selesai itu dengan rencana, mereka akan meninggalkan kuda tunggangan mereka di dekat rawa lalu menggunakan ilmu lari cepat untuk menyongsong kedatangan para prajurit dari kerajaan Galuh itu.


__ADS_2