Pangeran Tanpa Mahkota

Pangeran Tanpa Mahkota
Mimpi sang Raja


__ADS_3

Berita tentang menghilangnya warga desa secara tiba-tiba itu membuat panik seisi istana. Bagaimana tidak, dari sepuluh desa di kadipaten Pitulung ini, hanya tersedia dua desa saja yang masih ramai penduduknya. Berarti, ada delapan desa yang telah kosong ditinggal oleh warganya.


Hal ini menyebabkan Raja Jaya Pradana murka dan memerintahkan kepada para Panglima kerajaan untuk menjejaki kemana kaburnya para penduduk desa itu.


"Adipati Aria Seta. Kau harus segera menyelidiki kemana perginya rakyat mu. Jika seluruh desa di kadipaten yang kau pimpin pergi semua, maka dari mana kau bisa menyediakan upeti untuk ku?" Tanya Raja Jaya Pradana dengan marah.


"Ampun Gusti Prabu. Kali ini hamba benar-benar tidak tau kemana perginya semua rakyat kadipaten Pitulung," jawab Adipati Aria Seta.


"Tidak tau? Lalu apa kerja mu di Kadipaten Pitulung? Hanya makan, tidur, makan, dan tidur? Lihat lah dirimu sekarang ini. Sudah seperti badak bunting. Jika kau tidak mampu, maka katakan. Aku akan segera menggantikan posisimu dengan yang lain."


"Kau harus tau Aria Seta! Mereka yang lari dari desa itu kebanyakan adalah mantan prajurit mendiang kanda Jaya Wardana. Jika mereka berkomplot untuk melakukan pemberontakan, maka kepala mu yang akan lebih dulu aku pancung di alun-alun kota raja," ancam Raja Jaya Pradana membuat Adipati Aria Seta mendadak pucat.


"Raka Pati! Selidiki lembah jati! Aku curiga bahwa para perampok itu adalah dalang dari semua ini," perintah Raja Jaya Pradana.


"Perintah, akan hamba laksanakan Tuanku," kata Raka Pati sambil mengatupkan kedua telapak tangannya di depan kening.


"Kau jangan sampai lengah lagi Aria Seta! Kini kadipaten mu hanya tinggal dua desa saja. Perketat penjagaan di pintu keluar masuk desa. Begitu kau melihat ada yang mencurigakan, bunuh saja!"


"Sendiko dawuh Gusti Prabu," kata Adipati Aria Seta.


"Hmmm. Kau segera kembali ke kadipaten mu. Aku muak melihat tampang mu berlama-lama di ruang Paseban ini!" Kata Raja Pradana sambil mengibaskan tangannya.


"Hamba Gusti!" Kata Aria Seta lagi lalu beringsut mundur sebelum berbalik meninggalkan aula Paseban itu.


***


Seorang anak lelaki mengenakan pakaian layaknya seorang pangeran tampak berjalan dengan menggenggam sebilah keris ditangannya.


Dia berjalan sangat berwibawa dengan senyuman tidak lekang dari bibir mungilnya.

__ADS_1


Rambut panjang sebahu tampak meriap-riap dengan mahkota bertabur intan dan permata menghiasi dengan megah di atas kepala anak itu.


Saat ini, Gusti Prabu Rakai Galuh tampak sedang duduk di atas singgasana nya dan tampak merenung memperhatikan anak ini yang melangkah semakin mendekat kearahnya.


"Anak manis. Siapa namamu?" Sapa sang Raja ketika pemuda itu tiba di hadapannya.


"Namaku adalah Indra Mahesa Jaya Wardana," jawab anak itu sambil terus tersenyum.


"Apakah kau adalah anak dari Gusti Prabu Jaya Wardana dan Permaisuri Galuh Cendana?" Tanya Gusti Prabu Rakai Galuh.


"Benar sekali. Aku lah Putra Mahkota kerajaan Sri Kemuning," jawab anak itu.


"Jika kau adalah putra dari Jaya Wardana dan Galuh Cendana, apakah kau tau siapa aku ini?" Tanya Sang Prabu.


"Ya. Aku tau. Aku tau bahwa Gusti Prabu Rakai Galuh adalah kakek ku. Raja di kerajaan Galuh ini," jawab sang bocah lalu selangkah demi selangkah menaiki tangga menuju singgasana kebesaran sang Prabu.


"Kakek. Apakah kau puas dengan mahkota mu itu?" Tanya anak itu kemudian.


"Mahkota mu itu terlalu kecil kek. Aku tidak berminat dengan mahkota kecil seperti itu. Aku ingin mahkota yang besar dimana diatasnya ada lima kerajaan. Aku ingin kerajaan Sri Kemuning, paku bumi, Setra kencana, kerajaan Galuh lalu kerajaan Garingging. Kelima kerajaan itu harus takluk di bawah telapak kaki ku!" Kata anak itu bersungguh-sungguh.


"Apa kau memiliki ambisi seperti itu cucu ku? Bagaimana mungkin itu bisa tercapai? Saat ini kerajaan Galuh diambang kehancuran setelah Setra kencana yang sedang mati-matian bertahan dari gempuran Jaya Pradana. Lalu, bagaimana kau akan menyatukan lima kerajaan menjadi satu?" Tanya Gusti Prabu Rakai Galuh.


"Waktunya akan tiba kek. Kakek Prabu hanya bisa menunggu ku. Tunggu aku kembali. Waktunya akan tiba. Waktunya akan tiba kek. Tidak lama lagi. Waktunya akan tiba."


Perlahan namun pasti sosok anak itu menghilang dari hadapan sang Raja. Hilang seperti asap tertiup angin.


Seketika itu juga Gusti Prabu Rakai Galuh tersentak dan terbangun dari tidurnya.


"Hanya mimpi. Namun, apa arti dari mimpi ku ini? Anak itu, betapa tampannya dia. Apakah cucuku Indra Mahesa masih hidup?" Pikir Gusti Prabu Rakai Galuh membatin dalam hatinya.

__ADS_1


"Kau terbangun Kanda Prabu?" Tanya seorang wanita yang juga ikut terbangun di sampingnya.


"Kanda bermimpi Dinda," jawab sang Prabu.


"Mimpi? Tidurlah kembali. Mimpi itu hanya bunga tidur."


"Tidak Dinda. Mimpi ini seperti nyata. Sangat nyata sekali seakan-akan kanda merasa berada di alam mimpi itu. Semuanya seperti sangat nyata," bantah Gusti Prabu Rakai Galuh.


"Siapa yang ada di dalam mimpi mu itu Kanda?"


"Cucu kita. Cucu kita, Putra Mahkota Sri Kemuning. Dia datang kepada ku dengan pakaian kebesarannya dan sangat berwibawa sekali. Di dalam genggaman tangan nya terdapat keris tumbal kemuning. Lambang penguasa kerajaan Sri Kemuning. Dia datang kepada ku mengatakan bahwa dia ingin mahkota yang lebih besar daripada yang aku pakai."


"Apakah cucu kita itu masih hidup?" Tanya sang permaisuri.


"Kanda yakin bahwa Indra Mahesa masih hidup. Dia menyuruh kita untuk menunggu. Karena, dia ingin menjadikan lima kerajaan menjadi satu negara saja. Dia pasti akan datang, cepat atau lambat," kata Raja di kerajaan Galuh ini.


"Besok kanda bisa menanyakan kepada ahli tafsir mimpi. Sekarang mari kita tidur kembali," ajak sang permaisuri.


"Mari Dinda. Tidurlah terlebih dahulu. Kanda masih ada yang harus dipikirkan," kata Gusti Prabu Rakai Galuh.


"Baiklah. Kanda juga jangan terlalu memikirkan mimpi tadi. Mungkin Kanda terlalu berharap bahwa cucu mita masih hidup."


Bagaimana tidak dipikirkan? Semakin Gusti Prabu Rakai Galuh hendak memejamkan mata, sosok anak kecil dengan senyuman manisnya terus bermain di pelupuk mata Rakai Galuh.


Masih terngiang-ngiang bagaimana anak itu memintanya untuk menunggu kedatangan nya.


"Anak itu mirip sekali dengan Jaya Wardana. Tidak mungkin mimpi tadi hanya sekedar bunga tidur. Ini pasti sebuah pertanda bahwa kelak mungkin yang akan menyelamatkan kerajaan Galuh ini adalah cucuku itu. Semoga saja Ya Tuhan!" Doa Gusti Prabu Rakai Galuh.


Dia terus mengingat-ingat mimpi tadi sampai lah ayam jantan kini berkokok menandakan malam telah berlalu dan kini pagi mulai menggantikan sang malam.

__ADS_1


Harapan dari Gusti Prabu adalah, semoga saja mimpi itu benar adanya. Adanya sebuah pertanda bahwa akan ada juru selamat yang akan menyelamatkan kerajaan Galuh ini dari kehancuran akibat ulah dari Jaya Pradana.


Bersambung...


__ADS_2