Pangeran Tanpa Mahkota

Pangeran Tanpa Mahkota
Wikalpa nyaris mampus


__ADS_3

Wikalpa, yang tadinya ingin bertarung melawan Arya Prana akhirnya memutuskan untuk membatalkan niatnya menuntaskan dendam tujuh belas tahun yang lalu. Karena saat ini merasa sangat terhina oleh perkataan bernada ejekan dari Gayatri, seorang gadis yang masih bau kencur yang telah menghinanya. Benar-benar cari mampus.


Setelah melepaskan kegeramannya terhadap kuda tunggangannya, sosok nya pun langsung melesat mengirimkan tendangan ke arah Gayatri yang langsung menghindar ke samping.


Pangeran Indra Mahesa yang saat itu berlindung di balik punggung Gayatri tidak sempat menghindar. Akibatnya, pinggulnya pasti akan menjadi sasaran empuk dari tendangan yang dilepas oleh Wikalpa tadi.


Karena tidak sempat menghindar, dia pun mengerahkan tenaga dalam nya lalu menyentil terompa milik Wikalpa dengan gerakan yang sangat cepat membuat Wikalpa terpaksa menarik kakinya yang terasa kesemutan.


"Sial. Siapa pemuda ini? Kuat sekali tenaga dalamnya," pikir Wikalpa dalam hati. Dia kini berdiri dengan satu kaki terasa kesemutan. Cepat-cepat dia menyalurkan hawa murni ke bagian kaki yang terasa mati rasa akibat sentilan dari pangeran Indra Mahesa tadi.


Sementara itu, Pangeran Indra Mahesa yang dengan kasat mata tampak terhantam oleh tendangan dari Wikalpa tadi berpura-pura terjatuh dan berguling-guling di tanah membuat Gayatri setengah mati terkejut.


"Kakang..!" Kata Gayatri yang langsung melesat menghampiri tubuh Pangeran Indra Mahesa yang tergeletak di tanah.


"Uhuk.., uhuk.., uhuk!" Terdengar suara batuk-batuk dari pemuda berpakaian serba putih itu.


"Kau tidak apa-apa kakang?" Tanya Gayatri khawatir. Menyesal tadi dia menghindar. Andai tidak, pasti Pangeran Indra tidak akan celaka.


"Mau rontok rasanya tenggorokan ku," kata pangeran Indra.


Perkataannya ini membuat Gayatri mengernyitkan dahi. "yang di tendang pinggul mengapa tenggorokan yang rontok?' pikirnya dalam hati.


Sementara itu, pertempuran antara prajurit-prajurit dari kadipaten Pitulung melawan para pengikut Gusti Permaisuri Galuh Cendana dari lembah jati masih berlangsung dengan sengit.


Di bawah pohon besar tampak pertarungan antara Bayu Gatra dan Andini melawan Adipati Aria Seta dan Senopati Suta Wijaya berlangsung semakin sengit.


Entah sudah berapa jurus yang telah mereka keluarkan.


Sementara itu, selesai membantu Pangeran Indra Mahesa untuk berdiri, Gayatri lalu bersiap-siap kembali untuk melakukan serangan.


Kini dia mengeluarkan senjata andalannya yaitu sepasang besi pipih berbentuk bintang segi empat.


Gadis itu memasukkan jari jemari tangannya di dalam lobang yang terdapat pada senjata itu lalu bersiap-siap untuk membalas serangan tadi. Hatinya sangat panas melihat Wikalpa menendang pinggul sang Pangeran.


"Sekarang tahan serangan ku!" Bentak Gayatri. Lalu, seperti burung alap-alap dia melayang meluruk ke arah Wikalpa yang memang telah siap dari tadi.

__ADS_1


Pertarungan antara Gayatri yang terus melindungi pangeran Indra melawan Wikalpa tampak berjalan sangat alot sekali.


Berulang kali dia harus membagi perhatian antara menangkis serangan yang datang dan dalam masa yang sama dia juga harus memikirkan pangeran Indra.


Jatuh bangun pun kini dirasakan oleh Gayatri.


Bagaimanapun tingginya ilmu silatnya, dia masih belum cukup pengalaman melawan Wikalpa yang sudah kenyang makan asam garam dalam dunia persilatan maupun di bidang keprajuritan. Ini yang membuat Wikalpa merasa berada di atas angin.


"Jika terus di diamkan begini, Gayatri bisa celaka," kata Pangeran Indra dalam hati.


Dia lalu berpura-pura berlindung di balik punggung Gayatri sambil sesekali melancarkan serangan jarak jauh ketika gadis itu menghindar.


Sesekali tampak pemuda itu memapas serangan dari Wikalpa tanpa sepengetahuan Gayatri.


Tepat ketika Wikalpa kalap dan menyerang membabi-buta, ketika Gayatri berulang kali mengelak dari serangan itu, pangeran Indra yang terus saja bersembunyi di balik punggung Gayatri langsung mengirimkan serangan menggunakan dua jari tangan kirinya yang langsung menusuk lobang hidung Wikalpa.


Seeeet!


Beeeet!


"Kurang ajaaaaaaar!" Teriak Wikalpa sambil melompat mundur dari arena pertarungan.


Lelaki berusia 50-an itu tampak sangat marah sekali ketika dari saluran pernapasan nya itu kini mengucur darah segar akibat tusukan dua jari tangan dari pangeran Indra tadi.


Kejadian ini tidak luput dari perhatian Panglima Rangga dan Senopati Arya Prana.


Mereka berdua lalu saling berbisik. "Lihatlah kakang! Pemuda itu menyembunyikan kepandaiannya!" Kata Panglima Rangga.


"Hahaha. Tingkahnya sungguh sangat konyol sekali. Aku tau tendangan dari Wikalpa tadi sama sekali tidak terasa baginya. Dia hanya berpura-pura terjatuh lalu bersandiwara seolah-olah dia terluka. Padahal, yang dapat aku lihat, Wikalpa lah yang merasa kesakitan," balas Senopati Arya Prana pula.


Sementara itu, Gayatri juga merasa heran dengan kejadian itu. Bagaimana mungkin hidung Wikalpa bisa berdarah. Padahal dia merasa tidak menyerang, melainkan hanya menghindar. Lalu..?


Dia tidak sempat lagi berpikir panjang karena kini Wikalpa yang sudah terlanjur kalap mulai melancarkan kembali serangan yang semakin ganas.


"Hiaaaaah!" Bentak Wikalpa sambil mendorong kedua telapak tangannya yang kini mengeluarkan hawa panas yang menyengat.

__ADS_1


Melihat ini, Gayatri langsung menyambut ajian yang dilepaskan oleh Wikalpa sehingga letupan keras pun terdengar ketika dua pasang telapak tangan itu kini beradu.


Kedua orang itu tampak mengerahkan kekuatan masing-masing untuk segera mengakhiri pertarungan ini dan keluar sebagai pemenang.


Gayatri, saat ini tampak sedikit kewalahan menghadapi ajian yang dilepaskan oleh Wikalpa yang memiliki tenaga dalam setingkat lebih tinggi darinya.


Pangeran Indra yang menyadari bahwa Gayatri pasti akan kalah, langsung memegang pundak gadis itu.


Perlahan namun pasti, Gayatri merasakan adanya sesuatu yang hangat mengalir dari pundak berpindah ke lengan lalu ke telapak tangannya.


Merasakan kekuatan yang tiba-tiba tidak terbendung itu, Gayatri pun langsung menghentakkan tangannya ke depan. Akibatnya, Wikalpa kini terseret ke belakang lalu tunggang langgang tersapu kekuatan besar itu.


"Aaaaa..." Terdengar suara Wikalpa terbanting menghantam sebatang pohon sebesar paha orang dewasa hingga tumbang.


Saat ini lelaki itu tampak menyemburkan darah segar dari mulutnya.


"Tamat riwayat mu penjajah!" Bentak Gayatri lalu melemparkan senjata rahasianya ke arah leher Wikalpa.


"Tamat riwayat ku. Habis lah aku kali ini," kata Wikalpa yang tidak lagi bisa menghindar. Dia hanya memejamkan kedua matanya tanda bahwa saat ini dia telah pasrah menerima kematian.


Kurang dari sejengkal lagi senjata rahasia itu akan menancap di batang lehernya, tiba-tiba satu bayangan berkelebat menyambar tubuh itu kemudian berdiri di tengah-tengah arena pertarungan antara Gayatri dan Wikalpa tadi.


Kini tampak seseorang mengenakan jubah panjang berwarna merah darah dengan sulaman benang emas dan sebuah destar yang menutupi kepala lelaki tua dengan rambut dan jenggot telah sepenuhnya berwarna putih itu.


Sambil berdiri, enak saja lelaki itu menjatuhkan tubuh Wikalpa dari pondongannya sehingga terdengar suara jatuh bergedebuk di tanah berdebu itu.


Tatapan lelaki tua ini sangat tajam menusuk langsung ke bola mata Gayatri.


"Kau kalah menghadapi bocah kemarin sore, Wikalpa?" Bentak lelaki tua itu dengan tatapan sangat tajam.


"Eyang guru. Bantulah murid!" Pinta Wikalpa kepada lelaki tua itu sambil beringsut untuk memeluk kaki lelaki tua tadi.


"Siapa orang itu kakang?" Tanya Gayatri.


"Entahlah. Aku juga baru kali ini melihatnya," jawab Pangeran Indra.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2