
Sebilah keris dengan pamor yang sangat menyilaukan mata tampak tercabut dari tubuh Datuk Marah Lelang yang telah menjadi mayat itu lalu melesat menuju ke arah pemiliknya.
Saat ini, pangeran Indra Mahesa tampak dengan sigap menangkap lesatan keris tumbal kemuning itu kemudian memasukkan ke dalam warangkanya.
Begitu keris tersebut telah bertemu dengan sarung nya, kini cahaya kuning yang sangat menyilaukan mata tadi serta-merta hilang.
Sambil menarik nafas dalam-dalam, pangeran Indra pun merasa sangat lega karena telah menuntaskan pertarungan yang alot ini dengan kemenangan. Namun, begitu dia berpaling ke arah orang-orang yang juga turut bertempur melawan para prajurit dari Kadipaten Pitulung, dia mendadak tertegun. Hal ini karena dia mendapati semua orang kini berlutut di tanah dengan kedua tangan terkatup di depan kening.
"Heh.., apa-apaan ini?" Tanya pemuda itu sambil melangkah menghampiri para sahabatnya yaitu Bayu Gatra, Andini dan Gayatri.
"Terimalah sembah hormat kami untuk junjungan kami Putra Mahkota Indra Mahesa," kata lelaki yang berpenampilan seperti saudagar itu.
Pangeran Indra sadar bahwa kini kedok nya telah terbongkar tanpa harus bersusah payah menceritakan siapa dirinya sebenarnya.
__ADS_1
"Kami tidak menyangka bahwa Gusti Pangeran Indra Mahesa masih hidup. Telah lama sekali kami mencari keberadaan Gusti Pangeran yang ketika itu terjatuh ke dalam jurang di lembah bangkai,"
"Kalian semua segeralah bangun!" Kata Pangeran Indra Mahesa sembari menarik pundak Senopati Arya Prana agar berdiri.
"Hamba Gusti Pangeran!" Kata Senopati Arya Prana lalu bangkit berdiri.
"Gusti Pangeran, kita tidak memiliki banyak waktu di sini. Ini karena kita telah membunuh Adipati Aria Seta, Senopati Suta Wijaya, Wikalpa dan telah menghancurkan seluruh prajurit di kadipaten Pitulung ini. Berita mungkin akan segera tiba ke kota raja Sri Kemuning. Celaka bagi kita jika masih bertahan di kadipaten Pitulung ini," kata Arya Prana.
"Tunggu sebentar Kisanak. Mengapa kau begitu yakin kalau aku ini adalah Putra Mahkota kerajaan Sri Kemuning?" Tanya Pangeran Indra Mahesa sengaja untuk menguji.
"Sebenarnya sejak awal kami sudah curiga kepada Gusti. Ini karena, kami mengenali kain sutra kuning yang melilit di pinggang Gusti. Hanya keluarga istana yang memiliki sutra dengan sulaman seperti itu," kata Panglima Rangga pula.
"Pangeran, segera keluarkan perintah! Kita tidak bisa berlama-lama di sini. Pasukan kerajaan yang lebih tangguh dan terlatih pasti akan tiba cepat atau lambat ke kadipaten ini,"
__ADS_1
"Kami memiliki tempat persembunyian di hutan lembah jati bersama dengan Gusti Permaisuri Galuh Cendana, yaitu Ibunda Pangeran sendiri," kata Senopati Arya Prana.
Perkataan dari sang Senopati Arya Prana ini membuat jantung pangeran Indra Mahesa langsung berdebar kencang.
"Apakah Ibunda ku masih hidup?" Tanya sang Pangeran.
"Benar Gusti. Gusti Permaisuri Galuh Cendana masih hidup dan sekarang memimpin kami untuk terus berjuang. Kali ini, kerajaan Galuh pula terancam oleh keserakahan Jaya Pradana," kata Senopati Arya Prana lalu menceritakan semua kejadian sejak tujuh belas tahun yang lalu kepada Pangeran Indra Mahesa.
Merah padam wajah Indra Mahesa mendengar penuturan yang dikisahkan oleh Senopati Arya Prana ini.
"Paman Senopati. Jika lembah jati adalah tempat yang aman, maka bawa semua rakyat kadipaten ini pindah lalu bakar saja kadipaten Pitulung ini. Jadikan rata dengan tanah. Kita akan bersama-sama berjuang. Aku akan kembali untuk mengambil sesuatu yang seharusnya menjadi hak ku," tegas sang Pangeran.
"Sendiko dawuh Gusti Pangeran!" Kata Senopati Arya Prana lalu memerintahkan kepada seluruh orang-orang berpakaian hitam itu untuk mengumpulkan rakyat kadipaten Pitulung kemudian membakar seluruh kadipaten ini lalu berangkat menuju lembah jati.
__ADS_1
Bersambung...