Pangeran Tanpa Mahkota

Pangeran Tanpa Mahkota
Pasukan kerajaan Galuh mulai berangkat


__ADS_3

Pagi itu juga, sekitar sepuluh ribu prajurit dipimpin oleh pangeran Indra Mahesa, Panglima Pratisara, Panglima Rangga, Senopati Arya Prana dan Tumenggung Paksi berangkat meninggalkan ibu kota kerajaan Galuh menuju ke kadipaten Gedangan untuk menggabungkan diri dengan prajurit yang berada di sana.


Sesuai dengan lambang pada bendera, kali ini kemungkinan terbesar adalah, mereka akan menggunakan formasi burung merak.


Pasukan bersenjata tombak mereka siapkan di bagian kepala, ini akan dipimpin langsung oleh Senopati Arya Prana. Sementara pasukan berkuda berada di sayap kiri dan kanan yang masing-masing akan dipimpin oleh Panglima Pratisara dan Panglima Rangga.


Sedangkan untuk pasukan yang berjalan kaki, berada di tengah-tengah pasukan itu dengan dipimpin langsung oleh Panembahan Ardiraja. Sedangkan pasukan pemanah, berada di bagian ekor yang langsung dipimpin oleh Tumenggung Paksi.

__ADS_1


Tujuan formasi ini jelas dengan mengandalkan kecepatan prajurit sayap, pertahanan yang kuat dari prajurit bersenjata perisai dan tombak, dengan dibantu oleh pasukan pejalan kaki yang siap mengelabui musuh untuk mendekati bagian ekor. Ketika mereka terkecoh dan masuk kebagian ekor, maka pasukan berkuda akan menikung mereka dari belakang. Sebelum pasukan berkuda menyerang, mereka akan terlebih dahulu di serang dengan lesatan anak panah yang akan ditembakkan dari para prajurit pemanah yang berada di bagian ekor atau paling belakang sekali dalam bentuk burung merak ini.


Ketika pasukan ini tiba di tugu batas kota raja, di sana mereka telah di tunggu oleh orang-orang berpakaian yang kelihatannya dari rimba persilatan. Jumlah mereka ini tidak lah ramai. Paling hanya berjumlah sekitar tiga ratus orang. Namun, bukan kuantitas yang diunggulkan dari para pendekar ini. Namun kualitas mereka lah yang berbicara.


Kebetulan sekali Bayu Gatra, bisa mengenali beberapa dari mereka ini. Hal ini membuat pangeran Indra Mahesa yang tadinya agak ragu, mulai dapat mempercayai bahwa mereka memang berniat tulus untuk membantu.


Setelah pangeran Indra Mahesa menganggukkan kepalanya, kini maju pula satu orang lagi. Mereka ini berjumlah sekitar dua puluh orang dengan memakai pakaian mulai dari celana, baju dan ikat kepala berwarna ungu.

__ADS_1


"Panglima. Kami adalah murid-murid dari padepokan kala Wungu. Guru kami memerintahkan kami untuk membantu prajurit kerajaan Galuh untuk melawan kekuatan dari Paku Bumi. Ini karena, guru kami mendapat tahu bahwa di dalam pasukan mereka, banyak terdapat para pesilat dari golongan hitam,"


"Panglima! Kami adalah orang-orang kampung yang merantau menuntut ilmu di berbagai padepokan dan perguruan silat. Mendengar bahwa sang Pangeran telah bergabung untuk memimpin pasukan bagi membela kerajaan Galuh, kami sengaja kembali dari perantauan untuk ikut membantu mempertahankan tanah air kita ini. Mohon Sudi kiranya, Pangeran yang bertindak sebagai Panglima tertinggi untuk mengizinkan kami menyertai pasukan ini,"


"Hmmm. Baiklah. Tapi aku tidak bisa menjanjikan apa-apa kepada kalian semua. Tidak ada makanan enak, tempat tidur yang layak, dan juga tidak ada upah yang bisa aku beri kepada kalian semua. Dan satu lagi! Ketika kalian bergabung ke dalam pasukan yang aku pimpin, maka secara langsung kalian juga adalah bagian dari prajurit kerajaan Galuh. Dengan begitu, kalian semua harus mendengar dan taat terhadap apa saja perintah dari ku, sekali panglima tertinggi bagi prajurit ini. Jika kalian bisa memberikan kerja sama yang baik, maka aku sangat mengelu-elukan kehadiran kalian di dalam pasukan ini. Namun, andai kalian tidka bisa dan ingin berjuang sendiri, maka dengan sangat berat hati aku mengatakan bahwa, biarkan hanya kami saja yang berjuang. Kalian biarkan hanya menjadi penonton saja. Semoga ketika aku mati, kalian akan berbaik hati untuk menguburkan jenazah ku,"


"Ampun Pangeran. Perkataan dari pangeran ini telah mengecilkan kami. Kami mengerti bahwa tidak akan ada perkataan manis yang akan membelai telinga di medan perang. Kami juga tau tidak akan ada tarian yang diiringi oleh musik. Yang ada hanya teriakan pembangkit semangat, serta dentingan senjata beradu diiringi percikan api. Kami semua siap mendengar perintah dan melaksanakan apapun yang anda perintahkan!" Jawab mereka bersungguh-sungguh.

__ADS_1


__ADS_2