
Hampir seratusan sosok tubuh berpakaian hitam kini tampak bergerak dengan cepat menggunakan ilmu peringan tubuh memasuki kawasan hutan di lembah jati ini.
Paling depan tampak lima orang saling berlomba memasuki hutan lebat yang selama ini tidak pernah dikunjungi oleh siapapun karena kepercayaan mereka bahwa hutan ini sangat angker dan banyak hantu nya. Tapi siapa sangka bahwa manusia lebih mengerikan daripada hantu. Dan itu adalah gerombolan perampok yang menamakan kelompok mereka dengan julukan Penyamun lembah jati, yang menjadi momok menakutkan bagi para prajurit dan saudagar yang akan singgah di kerajaan Sri Kemuning melalui kawasan hutan ini.
Semakin jauh ke dalam hutan, bukannya semakin lebat hutan lembah jati ini. Melainkan semakin lapang dan bahkan sekitar satu mil lagi di depan, tampak sebuah perkampungan.
Jika di lihat dari luar, tidak ada yang tau bahwa di dalam hutan belantara yang bahkan tidak pernah dikunjungi para pemburu ini terdapat sebuah perkampungan.
Kelima orang yang tadi berada di garis paling depan kini berhenti di sebuah dinding batu lalu menekan salah satu gundukan batu yang terdapat di bagian kiri.
Aneh! Seketika terdengar suara berkeretakan di susul dengan terbukanya sebuah pintu yang bisa dilalui oleh satu orang.
Kini lelaki yang menekan salah satu gundukan batu kecil itu memberi aba-aba agar semuanya segera memasuki pintu lorong yang gelap dan pengap itu.
Begitu semuanya telah masuk ke dalam pintu kecil yang terbuka tadi, orang yang paling terakhir masuk adalah yang pertama tiba dan menekan gundukan batu itu. Setelah dia masuk, pintu batu tadi kembali tertutup rapat layaknya seperti tidak ada tanda-tanda bahwa di sana terdapat sebuah pintu rahasia.
Mereka semua kini terus menyusuri lorong tersebut sampai menemui sebuah ruangan yang tampak luas dengan diterangi lampu obor yang tertancap di dinding ruangan seperti goa itu.
Kini masing-masing mereka mulai menanggalkan pakaian serba hitam itu lalu berganti pakaian seperti pakaian orang biasa pada umumnya.
Selesai berganti pakaian, mereka lalu kembali bergerak menarik undakan tangga batu yang sengaja dipahat.
Setelah tiba di salah satu lorong, kini mereka mulai tiba di pintu keluar dari Goa itu dan di depan mereka tampak sebuah perkampungan yang memiliki rumah sekitar kurang lebih dari seratusan rumah dengan salah satu rumah yang paling tengah adalah yang paling besar diantara rumah-rumah yang lainnya.
__ADS_1
"Dinda Tumenggung Paksi, Panglima Rangga, Wiguna dan Arya Permadi, kalian ikut aku menemui Gusti Permaisuri!" Ajak Senopati Arya Prana lalu berjalan mendahului keempat orang itu.
Setelah mereka tiba di depan bangunan rumah berdinding papan kayu jati yang paling besar diantara rumah yang lainnya itu, mereka lalu memberi pesan kepada salah satu emban yang langsung memasuki rumah besar itu.
Tak lama kemudian sang emban kembali keluar lalu mempersilahkan ke-lima lelaki itu memasuki ruangan besar tersebut dengan berkata, "Gusti Permaisuri Galuh Cendana berkenan menerima kedatangan Gusti Senopati. Gusti diperintahkan untuk menemui Gusti Permaisuri di ruang pertemuan." Kata sang emban menyampaikan.
"Terimakasih Emban." Kata Arya Prana sambil mendahului yang lainnya berjalan di depan.
*********
Seorang wanita yang masih berusia kurang dari 30 tahun tampak duduk di sebuah kursi berukir yang terbuat dari kayu Cendana. Di sampingnya tampak dua orang gadis yang lebih muda berdiri di sisi kiri dan kanannya dengan memegang masing-masing sebatang tombak dan senjata pedang yang tergantung di pinggang mereka.
Wanita ini terlihat sangat anggun dan cantik walaupun dari guratan diwajahnya seperti memendam beban fikiran yang sangat berat.
Hal ini lah yang menyebabkan dirinya dan sisa pasukan yang melarikan diri terpaksa lari dan bersembunyi di hutan lembah jati yang konon katanya sangat angker ini.
Dia lah wanita yang baru saja melahirkan terpaksa harus menempuh perjalanan jauh merentasi dua kerajaan demi mencari selamat. Dan kini, mereka sudah bangkit dan mulai menebar teror bagi pasukan prajurit Sri Kemuning dan paku bumi. Dialah Permaisuri Galuh Cendana yang digulingkan kekuasaannya oleh adik dari suaminya sendiri.
Wanita itu tampak mengangkat sedikit kepalanya menatap lurus ke depan ketika dari arah depan tampak lima orang lelaki memasuki ruangan pertemuan itu.
Berjarak sekitar lima tombak dari kursi dimana wanita tadi duduk bersama kedua pengawalnya, kelima laki-laki tadi langsung beringsut dan memberikan sembah dengan mengatupkan kedua telapak tangannya di atas kening.
"Sembah kami untuk Gusti Permaisuri Galuh Cendana," kata mereka serentak.
__ADS_1
"Bangunlah Arya Prana! Apakah ada sesuatu yang akan kau laporkan kepadaku?" Tanya Wanita itu.
"Benar Gusti Permaisuri," jawab Arya Prana sambil duduk bersila di lantai dengan beralaskan permadani itu.
"Katakan kepada ku laporan apa yang kau bawa!"
"Ampun Gusti Permaisuri. Kali ini kami gagal merampok rombongan pembawa upeti dari Kadipaten Kali Bening. Ini karena, Jaya Pradana sengaja mengirim pasukan berjumlah hampir mencecah seribu lima ratus orang prajurit. Jika kami nekat menyerang pasukan yang dipimpin langsung oleh Raka Pati, dikhawatirkan kami akan kalah dan binasa. Hamba mohon agar Gusti Permaisuri berkenan memberi ampun atas kegagalan dari hamba," kata Arya Prana dan sekali lagi mengatupkan tangannya di depan kening.
"Aku sudah menduga bahwa semua ini pasti akan terjadi. Jaya Pradana itu memang orang yang sangat licik,"
"Arya Prana. Kumpulan hasil rampokan kita. Lalu, bagikan kepada rakyat! Kita harus bisa mengambil hati rakyat untuk mendukung perjuangan kita ini. Karena, hanya dengan begitu barulah mereka akan menaruh simpati kepada kita," kata wanita yang sangat dihormati itu memberi perintah.
"Titah yang mulia Permaisuri akan hamba laksanakan. Hamba mohon diri dulu, Gusti!" Kata Arya Prana.
Setelah mendapat restu dari sang Permaisuri, Arya Prana langsung mundur beberapa langkah sebelum membalikkan badannya kemudian di susul oleh Tumenggung Paksi, Panglima Rangga, Wiguna dan Arya Permadi.
Mereka kini sama-sama berjalan menuju ke goa tempat menyimpanan hasil rampokan mereka lalu membagi-bagikan harta rampokan itu ke dalam kantong-kantong kecil.
Dengan menyamar sebagai petani, mereka lalu bergegas berangkat bersama dengan beberapa orang lainnya menuju ke perkampungan terdekat.
Begitulah yang sering mereka lakukan dengan hasil rampokan itu.
Mereka merampok bukan untuk mencari kekayaan dan menumpuk harta. Justru yang mereka rampok bukanlah rakyat jelata. Melainkan para utusan pembawa upeti dan saudagar kaya dari paku bumi, pandan Selo. Jika usaha mereka berhasil, maka mereka akan membagi tiga hasil tersebut. Sebagian seperempat untuk mereka, seperempat untuk Permaisuri dan setengah untuk dibagikan kepada rakyat yang terus-menerus ditekan oleh pajak yang tinggi dari pemerintah.
__ADS_1
Bersambung...