Pangeran Tanpa Mahkota

Pangeran Tanpa Mahkota
Jaya Pradana telah sampai


__ADS_3

Matahari kini hampir tenggelam di ufuk barat. Saatnya perannya kini digantikan oleh sang rembulan yang akan berperan sebagai penghias langit malam ditemani sang bintang gemintang yang bertaburan.


Sayup-sayup di tengah hutan kini terdengar lolongan serigala dengan sesekali ditingkahi dengan bising suara jangkrik. Suasana yang sangat menyeramkan sebenarnya bagi para pemburu atau bahkan bagi orang-orang yang sengaja mencari kayu bakar jika harus kemalaman di hutan ini. Tapi semua itu tidak berlaku bagi sekitar dua puluh ribu pasukan Prajurit yang dipimpin oleh Raka Pati dan Gagak Ireng.


Suara lolongan serigala itu hanya mereka anggap bagai lagu pemecah kesunyian belaka bagi mereka.


Dari kejauhan, kini terlihat bayang-bayang sosok penunggang kuda yang semakin mendekat.


Semua orang yang berada di tempat itu kini sama-sama melihat sosok yang semakin mendekat yang ternyata adalah dua orang prajurit penunggang kuda dari arah karang kencana.


Begitu dua orang prajurit itu tiba, mereka langsung menanyakan dimana kemah milik Raka Pati yang langsung ditunjukkan oleh prajurit yang di tanya.


Prajurit itu langsung bergegas menghampiri tenda besar lalu segera membungkuk begitu tiba di depan pintu kemah yang terbuka lebar itu.


"Ampun Gusti Patih Raka Pati. Hamba adalah utusan dari Gusti Prabu Jaya Pradana. Gusti Prabu berpesan bahwa mereka kini telah tiba dan sebentar lagi akan sampai di pinggiran hutan ini. Segeralah membuat sambutan untuk kedatangan Baginda!" Kata prajurit itu mengabarkan.


"Oh. Begitukah? Baik. Kau beristirahat lah dahulu. Kami akan mempersiapkan penyambutan untuk rombongan Gusti Prabu Jaya Pradana," kata Raka Pati dengan wajah berseri-seri.


Mereka semua kini mulai sibuk mempersiapkan segala sesuatunya sehingga perkemahan yang seharusnya dijadikan sebagai perkemahan untuk para prajurit yang akan berperang itu menjadi ajang tempat berpesta pora.


Kini, sekitar sepenanakan nasi, dari arah Karang Kencana tampak rombongan besar prajurit yang jika diperkirakan berjumlah dalam tiga puluh ribu orang mulai mendekati tapak perkemahan yang sedang ditempati oleh Raka Pati, Gagak Ireng beserta dengan prajurit yang dia pimpin.


Dari barisan ditengah-tengah bagi pasukan yang baru tiba itu, tampak sebuah kereta kencana yang ditarik oleh empat ekor kuda dengan dihiasi segala pernak-pernik khas kerajaan Sri Kemuning.

__ADS_1


Begitu rombongan besar itu tiba, kini tampak pilihan orang budak suruhan dengan posisi merangkak diam di depan pintu kereta kencana itu.


Kini tampak lelaki setengah baya yang masih menyisakan ketampanan masa mudanya keluar lalu menginjak punggung-punggung para budak tadi yang dijadikan sebagai tangga untuk turun dari kereta kencana itu.


Begitu tiba di punggung manusia yang terakhir, beberapa prajurit langsung membentangkan permadani untuk injakan kaki lelaki yang baru tiba itu.


Sambil menginjak permadani itu, sebelah kaki kirinya langsung menendang ke belakang dengan tumit nya yang langsung mengenai rusuk salah seorang dari beberapa orang yang tubuhnya dijadikan injakan kaki lelaki itu.


Mendapat tendangan menggunakan tumit kakinya itu, orang yang terkena langsung terpental ke belakang dan segera batuk darah.


"Selamat datang di perkemahan ini, Gusti Prabu Jaya Pradana Perkasa Alam!" Kata Raka Pati sambil tergopoh-gopoh laksana anjing yang menjilat di depan Tuan nya.


"Hmmm. Bagaimana dengan perkembangan penyerangan yang kau lakukan? Apakah kau sudah berhasil menaklukkan kadipaten Gedangan?" Tanya lelaki yang ternyata adalah Raja Jaya Pradana itu.


"Ampuni hamba, Gusti. Ternyata lawan kita kali ini telah belajar dari kekalahan kerajaan Setra kencana. Mereka tidak ingin terpancing dan meninggalkan benteng mereka," jawab Raka Pati sambil terbungkuk-bungkuk.


"Ampun Gusti Prabu. Sebenarnya kami telah berusaha semampunya. Namun, mereka tetap tidak bisa untuk kami jebak. Saat ini, sudah satu orang yang menjadi korbannya. Apakah Gusti ingat dengan Panglima perang kerajaan Galuh yaitu, Pratisara?" Tanya Raka Pati.


"Ada apa dengan murid ku itu?"


Terdengar bentakan dari arah belakang Jaya Pradana begitu mendengar nama Pratisara do sebut.


"Maaf eyang Datuk Hitam. Pratisara saat ini sedang terluka," jawab Raka Pati.

__ADS_1


"Eyang guru.., sebaiknya mari kita masuk ke dalam. Aku juga ingin melihat seperti apa cedera yang dialami oleh Pratisara ini!" Kata Jaya Pradana lalu segera melenggang mendahului yang lainnya.


Begitu mereka tiba di dalam, kini mereka melihat seorang lelaki dengan keadaan yang sangat lemah terbaring di atas tempat tidur yang terbuat dari tumpukan rerumputan yang dialas dengan selembar kain.


"E-Eyang Guru!" Kata Pratisara sambil berusaha untuk bangkit.


"Ada apa dengan mu Pratisara?" Tanya Datuk Hitam sambil meraih pergelangan tangan lelaki itu untuk diperiksa.


Sejenak dia memejamkan mata lalu segera tersentak ketika mengetahui aliran darah Pratisara tidak seperti biasanya.


Dengan sangat cekatan lelaki tua itu merobek baju bagian dada milik Pratisara. Ketika dia melihat bekas gosong di bagian dada lelaki tua itu, dia langsung terkejut bukan main.


"Ada dua pukulan yang disarangkan di tubuh mu. Katakan padaku! Apakah kau dikeroyok oleh seorang pendekar wanita memiliki senjata kipas dan seorang lelaki tua sebaya denganku yang membawa kendi labu kemanapun dia pergi?" Tanya Datuk Hitam dengan wajah yang semakin menghitam.


"Tidak guru. Aku hanya bentrok dengan seorang pemuda yang mengaku sebagai putra mahkota dari kerajaan Sri Kemuning. Pemuda itu mengaku anak dari Gusti Prabu Jaya Wardana dan Permaisuri Galuh Cendana. Namanya adalah Indra Mahesa. Di tangan pemuda itu ada keris tumbal kemuning," jawab Pratisara sambil menjelaskan.


"Ajian tapak suci dan Lebur Wesi. Kau terkena dua pukulan itu dalam waktu yang tidak terlalu lama. Ini terlalu kuat untuk kau tahan. Pusat tenaga dalam mu hancur berantakan. Kau tidak akan bisa lagi menjadi seorang pendekar. Mustahil seorang pemuda bisa mempunyai tenaga dalam yang sedemikian mengerikan?"


Sementara itu, di sisi lain, Raja Jaya Pradana tampak sangat terkejut begitu mendengar Pratisara menyebut tentang Keris tumbal kemuning. Senjata yang menjadi lambang sah nya bagi seorang raja yang bertahta di kerajaan Sri Kemuning.


"Pratisara. Apa kau yakin bahwa yang berada di tangan pemuda itu adalah keris tumbal kemuning?" Desak sang Raja.


"Ampun Gusti Prabu. Semua benar adanya. Hamba melihatnya sendiri," jawab Pratisara dengan lemah.

__ADS_1


"Eyang guru. Apakah Pratisara tidak bisa disembuhkan? Jika bisa, segeralah tolong!" Kata Raja Jaya Pradana sambil tetap berdiri dengan berkacak pinggang.


Mendengar permintaan dari Jaya Pradana tadi, Datuk Hitam hanya menggeleng lemah lalu berkata, "tidak. Aku sudah mengatakan bahwa pusat tenaga dalam yang dimiliki oleh Pratisara ini telah hancur. Tidak ada yang bisa memulihkan. Tidak aku, tidak juga orang lain," jawab Datuk Hitam dengan lirih.


__ADS_2