Pangeran Tanpa Mahkota

Pangeran Tanpa Mahkota
Pangeran Indra Mahesa dalam Dilema


__ADS_3

Setelah semalaman mengistirahatkan seluruh pasukannya di kota raja Sri Kemuning, Kini pangeran Indra Mahesa beserta dengan yang lainnya pun bersiap untuk kembali ke kerajaan Galuh melalui Setra kencana kemudian memasuki Kadipaten Karang Kencana, lalu ke kadipaten Gedangan untuk bergabung bersama dengan sepuluh ribu prajurit penjaga perbatasan di benteng kadipaten itu, setelahnya, barulah mereka akan sama-sama kembali ke kota raja kerajaan Galuh.


Tidak jauh berbeda dengan sambutan rakyat di Sri Kemuning. Seluruh rakyat kerajaan yang telah runtuh yaitu, Setra kencana pun sangat mengelu-elukan kemenangan yang dicapai oleh pasukan pimpinan Pangeran Indra Mahesa.


Bagi mereka, mereka lebih rela menyatukan kerajaan Setra kencana ke dalam kerajaan Sri Kemuning daripada harus di jajah oleh orang-orang dari Paku Bumi.


Setelah menghabiskan waktu selama satu malam di Setra kencana, pasukan itu kambali melanjutkan perjalanan menuju ke kadipaten Gedangan dan kehadiran mereka di sana disambut dengan sangat meriah oleh sepuluh ribu pasukan dan rakyat di kadipaten Gedangan itu. Bahkan, Pangeran Indra Mahesa di arah dengan tandu terbuka oleh seluruh rakyat di kadipaten Gedangan itu mengelilingi dari benteng menuju pusat kota kadipaten.


Duduk berdua dengan Gayatri di atas tandu tanpa bumbung itu, mereka berdua bak raja dan ratu penguasa negri antah berantah. Sungguh pemandangan yang membuat iri bagi gadis-gadis lain, yang melihatnya.


Siapa yang tidak menyukai Pangeran Indra Mahesa. Pemuda tampan, memiliki ilmu Kanuragan yang sangat mumpuni serta masa depan yang cerah.


Kebanyakan orang tua ingin menyerahkan putri mereka walau hanya menjadi seorang selir sekalipun. Setidaknya, ini bisa meningkatkan harkat dan martabat mereka.


"Sobat ku Raden Danu. Aku meminta kepada mu untuk memimpin keberangkatan pasukan pejalan kaki untuk mendahului kami kembali ke kota raja. Kalian tidak perlu menunggu kami. Ini karena, kami pasti akan bisa menyusul kalian. Walau bagaimanapun, pasukan yang akan berangkat dua hari lagi adalah pasukan berkuda. Jadi, untuk menghemat waktu agar segera tiba di kota raja, aku sarankan agar kalian mendahului kami!" Kata Pangeran Indra setelah diantar oleh rakyat kadipaten Gedangan kembali ke istana kadipaten.


"Hamba, Gusti Prabu!" Kata Raden Danu yang langsung disambut gelengan kepala dari Adipati Rakai langit.

__ADS_1


"Pangeran cucu ku ini tidak akan menduduki tampuk kepemimpinan sebelum dia menikah. Sudah menjadi adat istiadat dari kerajaan Sri Kemuning bahwa sebelum menduduki tahta kerajaan, maka calon raja tersebut harus sudah menikah terlebih dahulu dengan seorang gadis berdarah biru. Jika tidak, ruh naga di dalam keris tumbal kemuning akan mengamuk dan ini dapat menyengsarakan rakyat," kata lelaki tua saudara se-ayah lain ibu dari Gusti Prabu Rakai Galuh itu, lalu melanjutkan. "Cukup panggil dia untuk saat ini sebagai Putra Mahkota. Dia belum diperabui dan belum layak untuk di sebut dengan gelar Gusti Prabu!"


Selain dari Senopati Arya Prana, Panglima Rangga, Tumenggung Paksi, Wiguna dan Arya Permadi, semua orang saling pandang mendengar penjelasan ini. Juga termasuk Pangeran Indra Mahesa yang langsung menatap ke arah Gayatri.


Baginya, jika syarat untuk naik tahta adalah dengan menikah, maka dia seribu kali akan memilih Gayatri yang selama ini bersama-sama berjuang di belakangnya. Namun, karena mendengar kalimat terakhir yang menyatakan gadis berdarah biru, maka sudah pasti Gayatri tidak memiliki kelayakan untuk itu.


Gayatri pun hanya bisa tertunduk mendengar penjelasan ini. Hilang sudah Gayatri yang biasanya memiliki sifat grasak-grusuk, tidak sabaran dan cepat naik darah. Kini Gadis itu layaknya seperti orang yang merasa kesepian berada di keramaian.


"Apakah harus seperti itu, Kakek Adipati?" Tanya Pangeran Indra Mahesa meminta kepastian.


"Cucu ku, apakah menurut mu kakek mu ini seorang pendusta?" Tanya Adipati Rakai langit.


"Cucu ku. Aku tau bahwa ada hal-hal yang tidak bisa dilanggar oleh pewaris tahta. Ini sudah terjadi sejak turun temurun. Jika kau ingin menjadi seorang raja, maka hidup mu bukan lagi milik mu. Melainkan adalah milik negri dan seluruh rakyat mu. Terkadang kita harus rela berkorban. Besar atau kecilnya pengorbanan itu terletak pada tujuannya. Jika kau menganggap bahwa hidup mu adalah milik mu, maka rakyat tidak akan mencintaimu. Namun, jika kau kau mengorbankan sedikit ego mu demi rakyat, maka mereka akan berada di belakang mu dalam apa jua keputusan yang akan kau ambil. Aku tau bahwa Gayatri adalah pilihan hatimu. Namun, pilihan hati belum tentu yang terbaik. Apa lagi ini menyangkut tentang suatu adat istiadat yang telah ditetapkan oleh leluhur mu. Maka dari itu, kebesaran hati kalian berdua di tuntut dalam hal ini," sambil menepuk pundak Pangeran Indra, Adipati Rakai langit menjelaskan semuanya kepada kedua muda-mudi itu.


"Aku bisa menikah dengan Sekar Mayang. Tetapi, untuk Putri Melur, aku tidak bisa." Kata Pangeran Indra yang jelas menolak jika dijodohkan dengan Putri Melur.


"Ketika kita kembali ke istana kerajaan, kita akan mengetahui keputusan yang akan diambil oleh Kanda Prabu Rakai Galuh, Permaisuri Galuh Cendana, Mahapatih Mahesa Galuh dan Gusti Prabu Kerta Rajasa. Karena, jujur saja. Berita kemenangan yang kau dapat telah menyebar ke seluruh kerajaan. Mereka pasti telah mengambil langkah cepat untuk menentukan masa depan mu. Menurut ku, kau sama sekali tidak memiliki hak untuk menolak keputusan mereka," tandas Adipati Panembahan Ardiraja.

__ADS_1


"Kalau begitu, sebaiknya aku tidak perlu menjadi raja. Lebih baik aku menjadi seorang pendekar yang bebas menentukan hidup. Aku akan menjadi orang yang bebas melanglang buana kemanapun aku mau," kata Pangeran Indra Mahesa pula seolah-olah tidak terima dengan keadaan yang menjerat lehernya kali ini.


"Apakah kau ingin menghancurkan kerajaan Sri Kemuning? Lalu, apakah kau ingin melihat rakyat seperti anak ayam yang kehilangan induknya? Sudah kakek katakan. Hidup mu bukan milik mu sendiri. Hidup mu adalah milik seluruh rakyat. Kau harus mengorbankan diri mu demi mencapai sesuatu yang besar di depan sana. Apa kau tidak mencintai negri mu sendiri? Saat ini, keturunan dari Wangsa Perkasa Alam hanya tinggal dirimu. Sementara putra dari Arya Prana entah masih hidup atau sudah mati di bukit Menjangan. Jika dia hidup, sudah pasti dia akan bersama dengan Datuk Hitam. Karena, menurut yang aku dengar, Datuk Hitam adalah lawan terakhir mu. Apakah kau melihat seorang anak lelaki berusia sekitar sepuluh tahun bersama dengan dedengkot aliran hitam itu?" Tanya Adipati Rakai langit.


Pangeran Indra Mahesa hanya menggelengkan kepalanya saja sebagai jawaban atas pertanyaan dari kakek nya itu.


"Aku butuh waktu untuk berfikir," kata Pangeran Indra Mahesa sambil bangkit dari duduknya.


"Jika kau ingin menyatukan lima kerajaan menjadi satu di bawah kekuasaan mu, maka kau harus menikahi Putri Melur. Namun, jika kau ingin menjadi raja di raja dengan cara memerangi kerajaan Garingging, maka kau tidak ada bedanya dengan Jaya Pradana. Pikirkan itu baik-baik!" Kata Adipati Rakai langit yang sukses membuat langkah kaki pangeran Indra Mahesa yang hendak meninggalkan ruangan itu seketika tertahan.


"Aku butuh waktu untuk menyendiri," kata Pangeran Indra lalu segera pergi.


Semua mata saat ini tertuju ke arah kepergian Pangeran Indra.


Ada tatapan iba di hati mereka.


Begitulah orang yang memiliki kekuasaan namun diikat oleh kekuasaan yang mereka miliki.

__ADS_1


Sepintas, menjadi seorang raja adalah impian bagi banyak orang. Karena, mungkin mereka berfikir bahwa dengan menjadi seorang raja, apapun keinginan bisa terpenuhi hanya dengan menjentikkan jari saja. Namun, siapa yang mengetahui bahwa ada hal-hal yang tidak bisa di langgar oleh seorang raja. Tentunya adalah seorang raja yang baik. Bukan raja lalim seperti Jaya Pradana.


Bersambung...


__ADS_2