Pangeran Tanpa Mahkota

Pangeran Tanpa Mahkota
Larkin


__ADS_3

Matahari baru saja terbit di bagian timur mayapada ini.


Embun-embun pagi bak untaian mutiara menghiasi pagi yang indah itu.


Suara kicauan burung pun terdengar menyemarakkan lagi pagi yang indah dan terasa menenangkan ini.


Meski begitu, seorang lelaki berpakaian seragam prajurit yang tampak sangat lemah tidak begitu memperdulikan keindahan bagi ini.


Lelaki ini sedemikian lemahnya. Terlihat jelas bibir yang pucat itu dihiasi dengan retakan-retakan halus menandakan bahwa lelaki ini sedang dilanda kelaparan dan dahaga.


Ketika kuda tunggangannya melintasi tanah berbukit lalu menurun, akhirnya dia dan kudanya pun sampai di sebuah kali yang berair jernih.


Prajurit ini tampak menarik tali kekang kudanya lalu menggelinding dengan sengaja menjatuhkan dirinya ke dalam air yang jernih itu.


Sepuas hati dia meneguk air di kali tersebut sekaligus membiarkan kudanya juga meminum seberapa banyak air yang dia mau.


Setelah puas berada di dalam kali tersebut, sang lelaki berpakaian lengkap ala prajurit perang ini pun menuntun kudanya menuju ke pinggiran kali lalu duduk bersandar di sebongkah batu besar yang terdapat di pinggir kali tersebut.


Matahari belum terlalu terik dan sinarnya masih sangat bersahabat ketika lelaki ini berusaha menggapai beberapa potong ranting kering kemudian menggesek batu pemantik api untuk menyalakan api unggun.


"Syukurlah kita selamat kuda ku tersayang. Sebentar lagi kita akan tiba di kadipaten Karang Kencana," kata lelaki itu berbicara kepada kudanya.


Seperti mengerti, kuda ini pun menggesek-gesekkan kepalanya ke tubuh tuannya itu sambil sesekali lelaki itu membelai pipi kuda tunggangannya itu dengan lembut.

__ADS_1


Lelaki tadi perlahan mencabut pedangnya lalu memasukkan ujung pedang tersebut ke dalam api yang sedang menyala itu.


Setelah cukup, dia lalu menarik pedang tersebut dari dalam api. Dan kini tampak lah ujung pedang itu berubah menjadi merah membara.


Sambil menggigit sehelai kain, lelaki tadi mencoba menggapai sesuatu di pinggulnya lalu sekuat tenaga dia mencabut sesuatu yang tertancap di pinggulnya itu.


"Aaaaaargh...!"


Terdengar jeritan tertahan dari lelaki itu diikuti dengan memercik nya darah segar dari bekas luka tusukan benda tadi.


Setelah diperhatikan, ternyata itu adalah anak panah. Berarti, prajurit ini baru saja menghadapi pertarungan ataupun baru saja lolos dari medan peperangan.


Kembali lelaki itu menggigit kain kemudian menempelkan ujung pedang berwarna merah karena telah dibakar itu.


Cesss!


Sekuat tenaga lelaki itu menahan agar tidak menjerit dengan mengigit kain yang berada di mulutnya kuat-kuat.


Dengan nafas memburu, lelaki prajurit itu mengambil sebuah guci kecil dibalik pakaiannya kemudian membuka tutupnya. Kini tampak dia menaburkan jenis serbuk di luka akibat anak panah yang baru saja dia cabut tadi.


"Aku tidak boleh terlambat! Saat ini Gusti Permaisuri dan Putra Mahkota Indra Mahesa berada dalam bahaya," pikir lelaki itu dalam hati.


Setelah mengikat bekas luka di pinggulnya, dia kembali melompat ke atas punggung kudanya kemudian menggebah kuda itu menuju kadipaten Karang Kencana yang tidak sampai setengah hari perjalanan lagi.

__ADS_1


*********


Matahari kini telah naik tepat di atas kepala menandakan bahwa kini waktu siang telah tiba menggantikan pagi.


Dari kejauhan tampak prajurit tadi menunggang kudanya dan kini memasuki kadipaten Karang kencana. Namun, kekecewaan jelas terlihat di wajahnya ketika dia mendapati keadaan kota kadipaten ini telah kosong tanpa seorang pun penghuni tinggal di sini.


Sambil menuntun kudanya, prajurit ini berjalan menghampiri setiap rumah yang benar-benar telah kosong itu.


"Aneh. Kemana perginya semua penduduk di kadipaten ini? Apakah prajurit dari Paku Bumi telah menyerang kadipaten ini?" Pikirnya dalam hati. Namun dia segera membuang pikiran itu jauh-jauh. Ini karena, dia melihat tidak ada sedikitpun bekas pertempuran yang terjadi di kadipaten karang kencana ini.


Dengan menahan rasa heran di hatinya, lelaki tadi bergegas naik ke atas punggung kudanya. Tujuannya kali ini adalah berangkat ke rumah milik Adipati panembahan Ardiraja.


Tiba di rumah besar milik sang Adipati itu, sekali lagi prajurit ini merasa kecewa. Ini karena, dia juga mendapati rumah besar milik sang Adipati itu sama dengan rumah-rumah lainnya. Kosong!


"Aneh sekali. Apakah mereka semua mengungsi setelah kerajaan Setra kencana runtuh? Semoga saja tidak terjadi apa-apa pada seluruh rakyat kadipaten ini," doa nya dalam hati.


Lelaki ini tidak ingin membuang waktu lagi. Tadinya dia ingin menemui sang Adipati untuk segera meminta tempat beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan membawa pesan ke kota raja kerajaan Galuh. Namun, setelah mendapati kadipaten ini telah kosong, maka untuk apa lagi dia berlama-lama di kadipaten mati ini.


Dengan menunggangi kuda setia nya, prajurit ini kembali melanjutkan perjalanan menuju kerajaan Galuh. Baginya, semakin cepat dia sampai, semakin baik.


Sebenarnya siapa lelaki prajurit ini?


Seperti yang telah dituturkan dalam bab sebelumnya, lelaki ini tidak lain adalah Larkin. Salah satu dari lima prajurit yang di utus oleh Gusti Prabu Rakai Galuh untuk menyampaikan Warkah dari Baginda kepada Permaisuri Galuh Cendana di hutan lembah jat tentang runtuhnya kerajaan Setra kencana. Namun, ketika akan kembali ke kerajaan Galuh, mereka dicegat oleh prajurit dari Paku Bumi.

__ADS_1


Singkat cerita, dari lima orang prajurit yang di utus itu, hanya dia lah saat ini yang masih hidup dan kini, misinya adalah menyampaikan semua kejadian dan keadaan yang sedang dihadapi oleh Permaisuri Galuh Cendana di lembah jati. Sekaligus mengabarkan bahwa sang Putra Mahkota masih hidup bersama dengan keris tumbal kemuning sebagai lambang sah nya seorang raja yang memimpin di kerajaan itu.


Bersambung....


__ADS_2