
"Gusti Prabu.., undangan ke seluruh padepokan telah hamba sebarkan melalui prajurit pilihan di puncak alam ini,"
Berkata Raja Tumenggung Paksi sambil membungkuk memberikan sembah kepada seorang pemuda yang terlihat sangat tampan. Pemuda itu mengenakan pakaian yang dikenakan oleh kebanyakan pendekar di rimba persilatan pada umumnya.
"Paman Tumenggung.., terimakasih atas kerja keras mu. Kelak, ketika aku memiliki seorang Putra, aku akan merubah tatanan pemerintahan di Sri Kemuning. Hanya saja, untuk langkah awal, aku akan menjadikan putra ku menjadi Yuaraja di Puncak alam ini. Dengan begitu, tidak akan ada alasan lagi bagi kakek Prabu di kerajaan Galuh untuk menentang. Ini karena, Puncak alam ini bukanlah kerajaan yang tadinya milik wilayah kerajaan Sri Kemuning,"
"Lalu, Gusti.., mengapa tidak Setra kencana saja. Bukankah bekas kerajaan itu lebih makmur dan lagi, segalanya telah tertata dengan baik di sana. Jika dibandingkan dengan puncak alam ini, di sini hanya ada banyak hutan. Sedangkan rakyatnya hanya sedikit," kata Tumenggung Paksi.
"Hahaha. Itu lah mengapa aku mengutus Paman untuk menjadi Raja Tumenggung di sini. Kerajaan Puncak Alam ini jauh, Paman. Jauh dari kerajaan Galuh dan kerajaan Garingging. Kerajaan ini masih harus melewati Paku Bumi terlebih dahulu. Jika di Setra kencana, bekas kerajaan yang saat ini di pimpin oleh Mangkubumi Raden Danu itu berbatasan langsung dengan kerajaan Galuh. Juga tidak jauh dari kerajaan Garingging. Semuanya akan mentah di tengah jalan jika Kakek Prabu Rakai Galuh mengetahui hal ini. Ini lah sebabnya mengapa aku mengutus Paman untuk membangun Puncak alam ini menjadi sebuah kerajaan yang makmur. Aku ingin kelak putra ku tidak dipandang sebelah mata oleh orang lain. Tapi, itu kembali kepada dia. Andai dia memilih menjadi seorang pendekar, maka aku tidak akan melarang,"
"Baiklah, Gusti. Hamba siap mengemban amanah. Kelak, setelah pangeran telah lahir, Gusti bisa memisahkan kerajaan ini dari naungan kerajaan Sri Kemuning,"
"Tepat sekali. Itu lah yang ada dalam fikiran ku. Mari Paman! Sudah ada orang-orang dari rimba persilatan yang dekat dari Puncak alam ini yang mulai berdatangan,"
"Mari, Gusti. Oh ya, mengapa kita tidak mengadakan pesta peresmian pernikahan Tuan ku di istana saja?" Tanya Tumenggung Paksi.
"Tidak, Paman. Aku di sini bukan sebagai seorang raja. Aku di sini adalah sebagai kaum Pendekar. Makanya, para tamu undanganku adalah mayoritas dari kaum rimba persilatan," jawab Prabu Indra Mahesa yang menolak usulan dari bawahannya tersebut.
Tumenggung Paksi kini mengerti maksud tersembunyi dari junjungan nya itu.
Dia tidak akan bertanya lagi. Semua ini pasti telah difikirkan oleh rajanya ini jauh-jauh hari.
*********
Tiga hari setelah menyebarnya para prajurit yang diutus oleh Raja Tumenggung Paksi ke berbagai daerah, kini di kaki bukit puncak alam telah penuh sesak oleh tamu undangan yang kesemuanya adalah dari golongan pendekar.
Tidak satupun dari mereka berpakaian prajurit ataupun punggawa istana.
Diantara mereka yang datang dalam acara peresmian pernikahan Gusti Prabu Indra Mahesa ini adalah, Mata Elang, Bima Purana, Penyair Gila, Loka Pati yaitu Guru dari padepokan bangau putih, Suratmaja atau yang lebih dikenal dengan julukan, penguasa lembah serindit, Bayu Gatra bersama dengan Andini dan banyak lagi yang lainnya.
Acara yang berlangsung ini dimeriahkan pula oleh para jawara silat yang mengadakan adu tanding persahabatan di atas sebuah panggung besar yang telah disediakan oleh pihak tuan rumah.
__ADS_1
***
"Hahaha. Tidak ku sangka akhirnya kita berbesan juga, Santalaya!" Terlihat Eyang Jari Malaikat berjalan menyambut sepasang tamu istimewanya yang datang menghadiri acara peresmian pernikahan Gusti Prabu Indra Mahesa dengan Gayatri. Eyang Santalaya tentu saja datang bersama dengan pujaan hatinya yaitu Bidadari Kipas Perak.
"Hehehe. Aku juga tidak menyangka bahwa murid Sontoloyo ku itu akhirnya laku juga. Haaah.., rasanya seperti baru kemarin dia mengencingi celana butut ku ini. Tau-tau.., eh sudah mau nikah saja. Berarti kita ini sudah sangat tua, Renggo Rekso," balas Eyang Santalaya pula sambil nyengir menunjukkan gusinya yang tanpa gigi itu.
"Dasar orang tua tak tahu diri. Merasa muda. Padahal malaikat maut sudah lama mengikuti mu," gerutu Bidadari kipas perak sambil mendengus kesal.
"Orang boleh saja tua. Tetapi, kekuatannya laksana kuda binal yang gagah perkasa,"
Bugh.., bugh.., bugh!
"Uhuk.., uhuk.., uhuk!"
Baru saja Eyang Santalaya memuji dirinya sendiri yang gagah perkasa sambil memukul dadanya, kini dia sudah terbatuk-batuk sambil terbungkuk-bungkuk menahan sakit pada dadanya.
Rupanya, cedera yang dialami Eyang Santalaya sewaktu melawan Datuk Hitam masih belum sembuh juga.
"Sudah.., sudah.., sudah! Berbicara dengan dirimu membuat darah tinggi ku naik," omel Bidadari kipas perak. Dia segera mendahului ke arah halaman gubuk milik Eyang Jari Malaikat yang tampak semarak dengan dihiasi bermacam pernak-pernik.
Eyang Santalaya hanya nyengir kuda saja mendengar perkataan sahabatnya itu. Lalu, dia pun ikut berjalan menyusul keduanya menuju tempat acara.
Melihat siapa yang datang, Gusti Prabu Indra Mahesa pun langsung turun bersama dengan Gayatri dan begitu tiba dihadapan dua orang tua aneh itu, mereka berdua pun menjatuhkan diri berlutut.
"Mohon doa restu nya, Eyang Guru dan Eyang Putri!" Kata Indra Mahesa dengan mengatupkan kedua tangannya di depan dada.
"Mohon restu untuk kami berdua, Eyang!" Kata Gayatri pula sambil melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan oleh Indra Mahesa.
"Ah.. apa-apaan kalian ini. Restu kami berdua selalu bersama kalian. Bukan begitu, Bawuk?" Tanya Eyang Santalaya.
"Tumben kau ini waras, Santalaya?" Sergah Bidadari kipas perak.
__ADS_1
"Aromanya, bakalan kacau lah acara pernikahan kita ini," bisik Prabu Indra Mahesa kepada Gayatri yang langsung menahan tawa sekuat tenaga.
"Heh.., Sontoloyo. Apa bisik-bisik?" Bentak Bidadari kipas perak.
"Eh. Tid-tidak.., tidak, Eyang Putri,"
"Mau telinga mu aku jewer?"
"Ampuuun!!! Murid tidak berani,"
"Aku tanya mau..! Bukan berani,"
"Iya, Eyang Putri. Murid tidak berani,"
"Sudahlah, Bawuk! Ini hari bahagia dengan mereka. Kalau kau iri, kita bisa sekalian melangsungkan pernikahan di sini," kata Eyang Santalaya sambil mengedip-ngedipkan matanya yang jereng.
"Dasar tua bangka tak tau diri. Sekarang aku menantang mu ke atas panggung sana untuk bertarung. Cepat naik biar kita bertarung dan akan ku sumbat mulut mesum mu itu!" Bentak Bidadari Kipas Perak lalu membetulkan celananya yang hampir kedodoran akibat lagaknya yang mencak-mencak tadi.
"Makin hancur lah acara kita ini. Akhirnya kekhawatiran ku terjadi juga," kembali Indra Mahesa berbisik ke telinga Gayatri.
"Hati-hati kalau mereka dengar. Bisa-bisa kita nanti terkena imbasnya!" Kata Gayatri pula memperingatkan.
"Ayo Santalaya! Naik kau ke atas panggung ini. Akan ku hajar kau!" Teriak Bidadari kipas perak yang telah terlebih dahulu naik ke atas panggung arena pertarungan yang telah disediakan.
"Lawan!"
"Lawan!"
"Lawan!"
Semua pendekar yang berada di tempat itu berteriak memberi semangat untuk kedua tua bangka yang akan bertarung itu.
__ADS_1
"Dasar calon santapan cacing tanah tak tahu diri," kata Eyang Santalaya lalu berlindung di belakang punggung Jari Malaikat yang sejak tadi memegangi perutnya menahan tawa.
Bersambung...