Pangeran Tanpa Mahkota

Pangeran Tanpa Mahkota
Penyebab kekalahan prajurit Setra kencana


__ADS_3

Peperangan itu baru saja berlangsung sekitar sepenanakan nasi. Tapi, pasukan yang di pimpin oleh Raka Pati tersebut sudah sangat terdesak dan mulai ada tanda-tanda akan mengalami kekalahan.


Tidak ingin mengalami gugurnya banyak prajurit, Raka Pati pun langsung memerintahkan para prajurit yang dia pimpin untuk segera mundur kebelakang.


Begitu mendapat perintah, para prajurit pun langsung membuat barisan kemudian bertahan sambil terus mundur.


Semakin jauh mereka mudur, semakin bersemangat pula pasukan dari kerajaan Setra kencana untuk terus mendesak. Sampai pada akhirnya, pasukan yang di pimpin oleh Raka Pati benar-benar melarikan diri tunggang langgang meninggalkan medan perang.


"Kejar mereka!"


"Ayo jangan biarkan seorangpun yang lolos!"


"Bantai semua! Jangan biarkan mereka kembali ke Sri Kemuning!"


Mereka kini terus saja mengejar pasukan yang sudah kocar-kacir itu sampai ke pinggiran hutan lalu berbalik arah dengan sikap menantang.


"Apa maksudnya ini?" Tanya sang Raja Setra kencana kepada panglima perangnya.


"Hamba juga masuk belum mengerti Gusti."


"Jangan-jangan..?!"


Belum lagi sempat Raja Setra kencana menyelesaikan kalimatnya, kini dari arah semak-semak belukar tampak ribuan anak panah melesat dari sisi kiri dan kanan jalan yang mereka lalui itu.


Seketika tempat yang tampak tenang tadi berubah menjadi hujan anak panah di susul dengan teriakan kesakitan saling sambut menyambut dari pasukan kerajaan Setra kencana.


"Ini jebakan. Mundur semua! Munduuuur!!!" Teriak sang raja Setra kencana begitu mengetahui bahwa ternyata pasukan yang dipimpin oleh Raka Pati tadi hanya berpura-pura kalah lalu melarikan diri hanya untuk memancing mereka untuk mengejar. Ketika mereka mengejar, maka saat itu mereka sudah masuk ke dalam perangkap yang di pasang oleh Jaya Pradana.


Mendengar perintah dari Prabu Setra kencana membuat barisan mereka mulai kocar-kacir dan tak tentu arah.


Para prajurit yang mencoba melarikan diri itu mulai saling tabrak antara mereka. Dan dalam keadaan yang kacau-balau itu, tiba-tiba pasukan yang dipimpin oleh Raka Pati tadi berbalik arah menyerang mereka dengan pasukan yang dipimpin oleh Gagak Ireng dan Wikalpa mulai keluar dari persembunyian mereka.


Kini tempat itu persis menjadi ajang pembantaian saja.


Bersusah payah Gusti Prabu Setra kencana berteriak memerintahkan agar mereka jangan kalang kabut. Namun terlambat, yang melarikan diri tetap melarikan diri. Yang bertahan hancur di serang dari segala sisi.

__ADS_1


Mayat-mayat kini mulai berserakan di serata tempat. Hanya tinggal beberapa orang saja yang masih selamat sambil terus menjaga keselamatan junjungan mereka.


"Lindungi Gusti Prabu dengan nyawa kita!" Kata mereka berteriak lalu terus memberi perlawanan.


"Wikalpa! Suruh mundur pasukan mu dan biarkan para pemanah yang menyelesaikan sisa-sisa prajurit Setra kencana itu!" Kata Raka Pati memerintahkan.


"Mundur kalian semua! Bentuk posisi melingkar dan jangan biarkan seorangpun meloloskan diri!"


Mendengar perintah dari atasan mereka ini, para prajurit yang sudah terlatih itu pun bergerak mundur sambil membentuk lingkaran dengan perisai mereka berada di depan persis seperti tembok baja yang tidak akan mudah di terobos oleh sisa pasukan kerajaan Setra kencana.


"Pemanah!" Teriak Gagak Ireng.


"Siap!"


"Siap!"


"Siap!"


Terdengar teriakan menggema dari para prajurit pemanah yang telah siap dengan panah-panah mereka.


Ribuan anak panah kini menderu ke arah satu tujuan yaitu sisa pasukan kerajaan Setra kencana.


Tampak satu persatu sisa para prajurit itu berjatuhan gugur sehingga tidak ada. Satupun yang tersisa termasuk Raja Setra kencana yang gugur dengan puluhan anak panah menembus tubuhnya.


Terbunuhnya Raja Setra kencana membuat kerajaan itu runtuh sepenuhnya di tangan kerajaan Paku Bumi.


*********


"Begitulah kisahnya Gusti Prabu!" Kata Sadewa setelah dia selesai menuturkan jalannya peperangan yang mengakibatkan runtuhnya kerajaan Setra kencana.


Gusti Prabu Rakai Galuh dan Mahapatih Mahesa Galuh tampak tertunduk menekuri lantai berlapis permadani merah itu.


Di dalam benak mereka saat ini sudah pasti memikirkan nasib yang akan menimpa kerajaan Galuh setelah runtuhnya kekuasaan raja Setra kencana ditangan pasukan Paku Bumi.


"Kanda Prabu!"

__ADS_1


"Kanda Prabu!!!" Panggil Mahapatih Mahesa Galuh.


"Hah?!"


Tampak Gusti Prabu Rakai Galuh sedikit terkejut karena terlalu lama merenung.


"Aku sedang memikirkan bagaimana dengan nasib kerajaan kita saat ini. Sekarang ini kerajaan Galuh benar-benar seperti sebutir telur di ujung tanduk. Aku yakin bahwa Jaya Pradana dan para pasukannya yang haus darah itu tidak akan berhenti sampai di kerajaan Setra kencana saja. Mereka pasti akan menyebrang ke kerajaan Galuh ini." Kata Gusti Prabu Rakai Galuh mengemukakan kekhawatirannya.


"Sadewa, kemana perginya sahabat mu satu lagi?" Tanya Mahapatih Mahesa Galuh.


"Ampun Gusti Mahapatih. Sahabat hamba saat ini sedang melaporkan semua yang terjadi kepada Gusti Adipati Rakai langit di kadipaten Gedangan." Jawab Sadewa sang tilik sandi itu.


Baru saja Mahapatih Mahesa Galuh akan membuka suara, dari arah depan tampak seorang prajurit pengawal terbungkuk-bungkuk dengan hormat menghampiri balai sema agung itu.


"Ada apa Prajurit?" Tanya Mahapatih.


"Ampun Gusti Mahapatih. Di luar ada kira-kira seribu orang prajurit dari Setra kencana yang selamat dan melarikan diri ke kerajaan Galuh. Mereka dipimpin oleh seorang panglima bernama Raden Danu," kata sang prajurit pengawal itu memberi tahu.


"Bawa pelarian itu menuju rumah di depan Istal. Berikan mereka makanan, minuman serta pakaian bersih. Biarkan mereka beristirahat dan katakan bahwa besok pemimpin mereka harus berada di ruang Paseban karena akan ada pertemuan untuk membahas masalah ini," perintah dari Mahapatih Mahesa Galuh.


(Istal artinya Kandang kuda)


"Sendiko dawuh Gusti Mahapatih." Kata Prajurit tadi lalu mundur beberapa langkah ke belakang sebelum memutar tubuhnya meninggalkan balai sema agung itu.


"Dinda Mahesa Galuh. Kirim para prajurit di seluruh kadipaten di kerajaan Galuh untuk menghadiri pertemuan agung dua hari dari sekarang. Aku akan segera mengambil keputusan untuk mempersiapkan segala sesuatunya bagi membendung arus pasukan dari anak durhaka Jaya Pradana itu. Jangan lupa untuk mengirim beberapa orang ke lembah jati memberitahu kepada Putriku agar menjaga lembah jati agar tidak menjadi jalur bagi Prajurit Paku Bumi menyerang kita dari arah belakang!" Perintah Gusti Prabu Rakai Galuh kepada Mahapatih Mahesa Galuh.


"Sendiko dawuh Kanda Gusti Prabu. Titah paduka akan hamba laksanakan," kata Mahapatih Mahesa Galuh.


"Sadewa! Kau segera berangkat ke kadipaten Karang Kencana. Sampaikan bahwa Gusti Prabu memerintahkan kepada Ardiraja untuk segera datang ke kota raja. Alasannya kau sudah tau sendiri bukan?"


"Hamba siap menjalankan tugas dari Gusti Mahapatih," kata Sadewa sambil mengatupkan kedua tangannya di depan kening.


"Berangkat lah sekarang! Kau akan tiba paling tidak tengah malam nanti. Pergi ke Istal dan pilih kuda terbaik sebagai tunggangan mu!"


"Hamba pamit dulu Gusti," kata Sadewa sekali lagi memberi sembah lalu berundur kemudian melangkah ke bagian belakang bangunan istana itu menuju Istal untuk memilih kuda terbaik untuk tunggangan perjalanannya menuju kadipaten Karang Kencana di perbatasan Kerajaan Setra kencana yang telah runtuh itu.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2