
Matahari telah condong ke bagian timur maya pada.
Sinar terik nya yang tadi terasa membakar kulit, kini perlahan telah meredup walau tidak bisa dikatakan sejuk.
Dari arah desa Waringin, tampak debu mengepul berterbangan di udara menandakan bahwa adanya rombongan besar yang baru saja melewati jalan di desa mati tersebut.
Ketika ini, tampak sebuah kereta kencana yang ditarik oleh empat ekor kuda bergerak paling depan dengan diapit oleh ratusan prajurit berpakaian perang yang tampak sangat gagah berjalan di bagian paling depan dengan rombongan pasukan di belakangnya seolah-olah tak putus-putusnya. Ini menandakan bahwa jumlah mereka sangatlah besar.
"Kakang Raka Pati. Apakah aku akan segera naik jabatan setelah berhasil menumbangkan kerajaan Galuh nantinya?" Tanya seseorang yang memakai pakaian serba hitam dengan destar yang juga berwarna hitam. Lelaki itu sama sekali tidak terlihat seperti layaknya seorang prajurit ataupun punggawa kerajaan yang memiliki jabatan tinggi. Orang ini bernama Gagak Ireng.
Dahulu, mereka bertiga berkomplot untuk membantu Pangeran Jaya Pradana yang membelot kepada Gusti Prabu Jaya Wardana bersama dengan Wikalpa dan Soka Nanta. Kedua nama yang baru saja disebutkan tadi telah tewas.
__ADS_1
Soka Nanta tewas di tangan Senopati Arya Prana ketika terjadi pertarungan di pinggir jurang lembah bangkai. Karena ini juga lah yang menyebabkan pangeran Indra Mahesa terjatuh ke dalam jurang.
Sedangkan Wikalpa, orang ini tewas di tangan Pangeran Indra Mahesa bersama dengan gurunya yaitu Datuk Marah Lelang di kadipaten Pitulung.
"Hahaha. Kau ini, Gagak Ireng. Apakah kau berfikir hanya kau saja yang menginginkan jabatan? Aku pun juga menginginkan jabatan tersebut. Namun, Gusti Prabu Jaya Pradana tidak akan melupakan semua jasa-jasa kita kepadanya. Paling tidak, kau harus menjadi Mangkubumi di kerajaan Galuh ini atau Setra kencana," kata Raka Pati sambil menyeringai.
"Hahaha. Aku juga begitu, Kakang. Aku mendoakan dirimu agar segera menjadi Mahapatih. Tidak hanya sebagai Patih. Tapi, Maha Patih!"
"Hahaha. Sayang Soka Nanta dan Wikalpa telah mampus. Jika tidak, pasti mereka akan menikmati hasil dari perjuangan kita ini," kata Raka Pati.
"Gagak Ireng.., kemana perginya Guru mu, Datuk Hitam? Aku tidak melihat keberadaan orang tua itu sejak kita tiba di kadipaten Pitulung?" Tanya Raka Pati.
__ADS_1
"Hahaha. Guruku memang begitu. Kita banyak melewati kampung. Mungkin dia melihat seorang gadis yang menarik perhatiannya. Karena itu lah dia menghilang. Mungkin dia saat ini sedang bersenang-senang dengan gadis kampung," jawab Gagak Ireng.
"Hahaha. Dasar buaya tua. Sudah tidak memiliki gigi, namun seleranya sangat tinggi," kata Raka Pati pula sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Raka Pati! Suruh mereka mempercepat pergerakan pasukan! Kita harus sudah melewati lebah jati sebelum matahari tergelincir!" Terdengar suara perintah yang berasal dari dalam kereta kencana itu.
"Hamba, Gusti Prabu!" Jawab Raka Pati lalu segera menoleh ke arah beberapa panglima rendah untuk mempercepat pergerakan pasukan itu.
"Semuanya! Jalan lebih cepat!" Perintah dari setiap kepala pasukan kepada bawahannya.
Menurut perhitungan mereka, pasukan itu akan melewati lorong jalan yang diapit oleh dua tebing sebelum matahari terbenam.
__ADS_1
Butuh waktu lama sebenarnya untuk melewati Lembah itu dengan berpasukan seperti ini.
Bersambung...