Pangeran Tanpa Mahkota

Pangeran Tanpa Mahkota
Pertarungan hidup dan mati


__ADS_3

Lelaki setengah baya dengan memakai pakaian prajurit perang itu tampak berdiri dengan sebelah tangannya menggenggam gagang pedang.


Sambil berteriak nyaring, dia segera melesat dengan pedang mengayun deras ke arah leher seorang pemuda yang mengenakan celana pangsi putih, baju putih tanpa lengan dengan kain sutra kuning bersulam emas yang melilit di pinggang nya.


Wuzzz!


Terdengar suara angin bersiur membawa hawa panas menyengat menerpa kulit pemuda itu. Namun, yang sangat mengherankan adalah, pemuda itu malah tersenyum saja.


Sepersekian kedipan mata lagi pedang itu akan menemukan sasarannya, tiba-tiba...


Tap!


Tampak pemuda itu menjentikkan jari telunjuknya ke arah bilah pedang membuat pedang itu terpental kembali dengan deras kebelakang bersama dengan lelaki tadi juga ikut terhuyung-huyung kebelakang.

__ADS_1


"Ayo, Pratisara! Apakah hanya segitu saja?" Cibir Pangeran Indra Mahesa.


"Bocah ingusan. Kau jangan sombong dulu! Mari kita bertarung seribu jurus!" Bentak Panglima Pratisara lalu kembali mengayunkan pedangnya yang kini tampak hanya seperti sambaran kilat keperakan.


Pemuda yang tidak lain adalah Pangeran Indra Mahesa itu hanya merunduk saja menghindari serangan itu sehingga tebasan pedang milik Panglima Pratisara hanya lewat satu inci saja dari puncak kepalanya.


Pangeran Indra Mahesa lalu bersalto ketika tebasan kembali datang dari arah tengah dengan sasarannya adalah bagian perut.


Melihat kedua serangan nya luput hanya dengan sedikit egosan tubuh saja dari lawannya, Panglima Pratisara kini memperhebat lagi serangan yang dia lancarkan.


"Setan!!! Ilmu apa yang dipakai oleh bangsat ini? Tidak satupun serangan ku yang menemukan sasaran," keluh Panglima Pratisara dalam hati.


Sudah lebih sepuluh jurus berlalu. Namun, tidak satupun serangan yang dia lancarkan bisa mengenai sasaran. Padahal, untuk serangan dari jurus yang dia keluarkan, jangankan anak ingusan. Pendekar yang sudah banyak makan asam garam di dunia persilatan pun akan tunggang-langgang menghindar. Tapi nyatanya, pemuda ini hanya melompat asal-asalan, berjongkok, terkadang miring ke kini dan ke kanan seperti orang mabuk. Lalu melompat-lompat seperti monyet kegatalan. Tapi tetap saja cara yang terlihat sangat asal-asalan itu begitu ampuh untuk menghindari setiap serangan yang dia lancarkan.

__ADS_1


Pratisara tidak tau bahwa saat ini Pangeran Indra Mahesa sedang mengeluarkan jurus Langkah sakti miliknya. Jurus ini memang bukan ditujukan untuk menyerang. Namun, untuk bertahan serta untuk mengukur ilmu silat yang dimiliki oleh lawan, jurus ini sangat berguna.


Walaupun terlihat sembarangan, namun terbukti bahwa sepuluh jurus telah berlalu begitu cepat tanpa pemuda itu sedikitpun mereka tertekan.


"Hiaaaaah!"


Terdengar teriakan dari Panglima Pratisara yang disertai dengan lesatan tubuh nya yang mendadak keluar dari arena pertarungan.


Sambil merafalkan mantra, dia kini meninju ke arah tanah dan tampak dengan jelas bahwa kedua tangan sampai sebatas siku kini berubah menjadi hitam legam.


"Gusti! Hati-hatilah! Pengkhianat itu sedang mengeluarkan ajian tapak Ireng miliknya. Ajian itu mengandung racun yang sangat keji sekali!" Kata Larkin memperingatkan.


"Terimakasih atas peringatan dari mu, Larkin!" Kata Pangeran Indra Mahesa lalu dia juga segera mengibas-ngibaskan tangannya ke bawah, lalu naik ke atas. Kebawah lagi lalu dengan tinju terkepal, dia mengangkat tangannya sampai sebatas pinggang. Begitu selesai membaca mantra, kini tampak jelas bahwa dari tangan nya kini berubah warna menjadi keperakan.

__ADS_1


"Tapak Suci!!!" Teriak Pangeran Indra Mahesa lalu segera mendorong kedua telapak tangannya ke arah depan.


Bersambung...


__ADS_2