Pangeran Tanpa Mahkota

Pangeran Tanpa Mahkota
Ingin meninjau kekuatan Musuh


__ADS_3

Kegemparan kini melanda perkampungan tersembunyi di tengah hutan lembah jati ini.


Baru saja pagi tadi mereka melepas keberangkatan Larso sang utusan dari kerajaan Galuh, kini sore harinya salah seorang prajurit Sri Kemuning yang masih setia kepada permaisuri Galuh Cendana menemukan salah seorang dari ke-lima prajurit yang akan kembali ke kerajaan Galuh itu dalam keadaan sekarat.


Beruntung bahwa prajurit yang meregang nyawa di atas punggung kudanya itu masih sempat memberitahu bahwa saat ini perbatasan hutan dengan perkampungan Waringin telah di kepung oleh pasukan dari Paku Bumi.


Indra Mahesa, sang putra mahkota yang baru saja bertemu kembali dengan ibunya kali ini terpaksa mengumpulkan semua tetua yang masih setia untuk mengadakan pertemuan bagi membahas masalah ini.


Hingga malam ini, mereka pun mulai berkumpul di ruangan besar di rumah yang selama ini menjadi kediaman sang permaisuri telah hadir seluruh mantan punggawa kerajaan Sri Kemuning antara lain, Senopati Arya Prana, Panglima Rangga, Tumenggung Paksi, Wiguna, Arya Permadi.


Selain dari nama yang disebutkan di atas, juga ada pendekar muda yang menjadi teman seperjalanan Indra Mahesa yaitu, Bayu Gatra, Andini dan Gayatri.


Indra Mahesa, yang menolak untuk mengenakan Mahkota kini duduk dengan pakaian kebesaran layaknya seorang Pangeran tampak sangat serius memperhatikan setiap pendapat dan masukan yang diberikan oleh para tetua yang masih setia itu.


"Aku tidak tau apakah ke-lima prajurit yang diutus oleh Kakek Prabu ada yang selamat atau semuanya terbunuh?! Saat ini, yang bisa kita lakukan adalah keluar untuk memata-matai kekuatan lawan, lalu membuat rencana penyerangan ketika kita sudah mendapatkan gambaran tentang kekuatan lawan," kata Pangeran Indra Mahesa setelah mendengarkan beberapa pendapat yang masuk dari para jajaran punggawa kerajaan yang masih setia itu.


"Ampun Gusti Pangeran. Menurut hamba, untuk saat ini kita hanya memiliki tidak lebih dari seribu prajurit yang memang sudah terlatih. Jika kita menyerang mereka secara terbuka, jelas kita akan kalah. Namun, hutan ini adalah hutan kekuasaan kita. Jadi, menurut hamba, ada beberapa keuntungan yang kita miliki jika kita berhasil memancing prajurit dari Paku Bumi itu untuk memasuki hutan," kata Wiguna sambil menjura hormat.


"Wiguna. Apakah perangkap yang kita pasang semuanya berfungsi dengan baik?" Tanya Senopati Arya Prana.


"Kanda Senopati. Aku telah memeriksa semua jebakan baik itu di tanah, maupun di atas pohon. Semuanya masih berfungsi dengan baik. Tadi, bahkan aku telah menambah beberapa lagi jebakan di kawasan hutan," jawab Wiguna.

__ADS_1


"Pangeran. Selain memiliki perangkap di hutan, hamba dan yang lainnya juga telah bergotong royong membuat pertahanan di tebing. Di sana terdapat satu-satunya jalan pintas menuju ke kerajaan Galuh dengan melalui jalan berlembah serta memiliki tebing yang tinggi. Jika Pangeran ingin menjebak mereka melalui jalan itu, maka kita bisa mempersiapkan orang-orang tua, anak-anak remaja dan seluruh penduduk di kampung ini untuk menempati posisi masing-masing. Kita bisa melempari mereka dengan batu dari atas. Ketika barisan mereka porak-poranda, hal ini tentu akan membuat kita dengan mudah menyerang mereka," kata Senopati Arya Prana menjelaskan.


Seberapa jauh jalan pintas itu dari kampung Waringin?" Tanya Pangeran Indra Mahesa sekedar ingin tau.


Dia sengaja bertanya seperti itu untuk menghitung jarak tempuh andai terpaksa untuk menarik perhatian musuh agar mengejar mereka ke lorong jalan yang telah mereka pasangi perangkap tersebut.


"Ampun Pangeran. Menurut perkiraan Hamba, jarak antara jebakan di tebing itu dengan desa Waringin hampir dua mil,"


"Hmmm. Rasanya itu tidak cocok. Aku khawatir jika menarik perhatian mereka ke jalan di bawah tebing yang paman sebutan tadi, maka aku khawatir sebelum sempat para prajurit melarikan diri ke perangkap yang telah terpasang, panah-panah musuh lebih dahulu menembus tubuh prajurit kita,"


"Lalu, Gusti? Apakah Pangeran memiliki pandangan yang lain?" Tanya Senopati Arya Prana.


"Sebaiknya kita jebak saja mereka agar memasuki hutan. Pancing mereka untuk mengejar kita ke arah jebakan yang telah di pasang. Dengan begini, akan lebih mudah bagi kita untuk mengubur mereka hidup-hidup di tengah hutan ini!"


"Silahkan Paman Senopati! Aku dan ketiga sahabat ku akan keluar malam ini untuk mengintip pergerakan serta kekuatan dari musuh. Jangan ada yang melakukan apapun tanpa perintah dari ku! Apakah semuanya mengerti?" Tanya Pangeran Indra Mahesa.


"Hamba mengerti Tuan ku!" Kata mereka serentak.


"Baiklah. Mari kita lakukan pekerjaan ini!"


"Sendiko dawuh Gusti Pangeran!" Kata mereka lalu kini membubarkan diri.

__ADS_1


Pangeran Indra kini beranjak dari kursinya kemudian memasuki sebuah kamar.


Tak lama setelah itu diapun keluar dengan penampilan yang sudah berubah.


Celana pangsi putih, baju putih tanpa lengan, kain sutra kuning dan sebilah keris tampak terselip di samping kirinya. Penampilan Pangeran Indra Mahesa kini sama seperti ketika dia baru tiba kemarin.


"Ada yang mau ikut?" Tanya Pangeran Indra kepada ketiga sahabatnya itu.


"Aku ikut, Kakang!" Kata Gayatri menawarkan diri.


"Aku juga akan bersama dengan mu, Indra!" Kata Bayu Gatra sambil bangkit berdiri.


"Aku juga," kata Andini pula.


"Gayatri! Sebelum pergi aku ada pesan untuk mu. Kendalikan emosi mu nanti. Jangan melakukan apapun tindakan sebelum ada perintah dari ku!" Kata Pangeran Indra memperingatkan.


"Baiklah kakang! Tidak perlu khawatir. Saya akan menuruti kata-kata dari Kakang!"


"Kalau begitu, mari kita berangkat sekarang!" Ajak pangeran Indra Mahesa lalu melesat menggunakan Ilmu peringan tubuh nya sambil di susul oleh tiga bayangan yang menyusul di belakangnya.


Karena keempat pemuda ini adalah murid dari tokoh papan atas di dunia persilatan, maka tidak sulit bagi mereka untuk melewati puncak tebing di lembah jati ini.

__ADS_1


Mereka sengaja tidak pergi melalui pintu keluar karena memang tidak perlu. Ketika ilmu meringankan tubuh mereka telah berada pada tahap tertinggi, maka tebing di lembah jati ini bukanlah sebuah masalah besar bagi mereka untuk mendakinya.


Bersambung...


__ADS_2