
Pagi-pagi sekali, pangeran Indra Mahesa dengan didampingi oleh orang-orang kepercayaannya serta ketiga sahabatnya berangkat menunggang kuda bagi melihat persiapan para prajurit yang saat ini sedang melakukan pemusatan latihan di salah satu desa yang masih berada disekitar kota raja ini.
Ini karena, para prajurit yang berjumlah sekitar lima ribu orang dari kadipaten Gedangan telah tiba di kota raja kemarin sore.
Pangeran Indra sengaja ingin melakukan persiapan dini untuk menjaga segala kemungkinan yang akan terjadi. Baginya, lebih baik mempersiapkan segala sesuatunya lebih cepat daripada menunggu perkembangan yang terjadi.
Baru saja dia akan meninggalkan tugu batas kota raja, di perjalanan ternyata dia bertemu dengan Sadewa yang sekitar empat hari yang lalu telah dia kirim bagi memata-matai pasukan musuh.
Ketika rombongan Sadewa bertemu dengan rombongan pangeran Indra, kini mereka pun berhenti di pinggir jalan dan kemudian melangsungkan pembicaraan dengan sangat serius sekali.
"Ampun Gusti. Hamba sengaja buru-buru kembali ke kota raja. Ini karena, saat ini pasukan yang dipimpin oleh Raka Pati dan Gagak Ireng telah menduduki kadipaten Karang Kencana," kata Sadewa melaporkan.
__ADS_1
"Karang kencana? Bukankah kadipaten itu telah dikosongkan?" Tanya Pangeran Indra Mahesa.
"Benar, Pangeran. Mereka baru saja tiba di sana dan akan terus melanjutkan perjalanan menuju ke kadipaten Gedangan. Hamba khawatir pasukan kita di sana tidak mampu membendung serangan dari sekitar tiga puluh ribu pasukan yang dipimpin oleh Raka Pati dan Gagak Ireng ini. Kemungkinan terbesar adalah, saat ini Jaya Pradana juga akan segera tiba di sana bersama pasukan inti. Mereka ini berjumlah sekitar dua puluh ribu dengan sebagiannya adalah orang-orang dari rimba persilatan golongan hitam,"
Mendengar penjelasan dari Sadewa ini, Pangeran Indra Mahesa dan yang lainnya saling melempar pandang. Ada raut kekhawatiran terpancar pada wajah mereka.
"Celaka jika sudah begini. Pangeran! Segera keluarkan perintah! Kita tidak boleh membiarkan kadipaten Gedangan terancam. Karena, kadipaten itu adalah pintu masuk ke kota raja ini," kata Panglima Pratisara sambil menjura.
"Kalian semua segera berangkat ke pusat pelatihan para prajurit! Suruh mereka bersiap-siap. Aku akan kembali ke istana untuk mengabarkan semua ini kepada kakek Prabu. Setelah itu, baru kita akan berangkat menuju ke kadipaten Gedangan. Lakukan seperti perintah. Setiap satu orang prajurit, harus membawa setidaknya tiga kemah!"
Setelah mengatur semuanya, mereka lalu berpisah di sana untuk menjalankan segala perencanaan yang telah mereka bahas beberapa hari yang lalu.
__ADS_1
*********
Sama seperti Sadewa. Saat ini, tilik sandi dari kerajaan Sri Kemuning yang dikuasai oleh Jaya Pradana juga kembali ke kota raja Sri Kemuning.
Mereka juga melaporkan kepada Jaya Pradana bahwa ternyata kadipaten Karang Kencana telah kosong karena ditinggalkan oleh penduduknya. Ini termasuk Adipati Panembahan Ardiraja. Adipati itu telah memboyong seluruh keluarganya meninggalkan kadipaten yang entah kemana tujuannya.
Ketika Jaya Pradana mengetahui tentang hal ini, dia segera berunding dengan para rakrian kepercayaan yang masih berada di tempat itu. Termasuk Datuk Hitam yang menjadi pentolan bagi orang-orang dari golongan hitam yang tergabung di dalam pasukan inti di bawah pimpinan nya.
"Guru. Bagaimana menurut mu tentang taktik dari kerajaan Galuh ini?" Tanya Jaya Pradana.
"Hahahaha. Menurut ku, mereka ini adalah para cecunguk kecil yang tidak ada apa-apa nya. Mereka ini hanyalah sampah yang akan hanyut terbawa arus. Para pengecut ini pasti sudah melarikan diri ke kota raja dan berlindung di balik ketiak Rakai Galuh," jawab lelaki tua dengan wajahnya dipenuhi oleh cambang brewok yang sudah memutih itu. Dari sorot matanya, menggambarkan kebengisan dan kelicikan.
__ADS_1
"Menurut hamba, kemungkinan terbesar adalah, mereka ini memang sengaja menggabungkan diri ke kadipaten Gedangan. Karena, bukankah mereka saat ini sedang mendirikan benteng di kadipaten itu dengan panjang benteng mencakup puluhan mil?!" Kata salah satu Mentri yang ada di aula itu.
Mereka memang sengaja menggali kubur mereka di sana. Baiklah! Sekarang bersiaplah! Kita akan berangkat besok pagi menyusul Raka Pati dan Gagak Ireng ke Karang Kencana!" Kata Jaya Pradana lalu menutup pertemuan itu.