Pangeran Tanpa Mahkota

Pangeran Tanpa Mahkota
Seribu pasukan berkuda menghampiri kadipaten Gedangan


__ADS_3

"lapor, Gusti. Tilik sandi mengatakan bahwa Jaya Pradana telah tiba di perkemahan tentara yang dipimpin oleh Raka Pati,"


Pangeran Indra Mahesa kini membalikkan tubuhnya yang saat ini sedang berdiri menatap ke arah bagian luar dari atas benteng.


Dia kini melihat Senopati Arya Prana telah berlutut dengan satu kaki di tekuk.


"Paman Senopati. Menurut mu apakah siasat kita telah berhasil mengecoh musuh?" Tanya Pangeran Indra Mahesa sekedar bertanya.


"Menurut hamba.., setiap pasukan memiliki tilik sandi dan setiap apa yang terjadi, pasti akan segera tercium oleh musuh. Mustahil mereka tidak tau tentang kedatangan pasukan obor yang mengelirukan bagi mereka. Hamba yakin seyakin-yakinnya bahwa saat ini si Jaya Pradana sedang memutar otak," kata Senopati Arya Prana menjawab pertanyaan junjungan nya itu.


"Jika benar bahwa mereka akan termakan dengan siasat yang kita atur, maka sebaiknya kita segera menyiapkan kuda yang gagah yang mampu menempuh jarak jauh. Bagaimanapun, lembah jati tidaklah dekat dari kadipaten Gedangan ini. Aku menduga jika berkuda, maka kita membutuhkan sepekan untuk sampai di sana," kata Pangeran Indra Mahesa.


"Hamba akan meminta Tumenggung Paksi untuk mencari kuda-kuda yang perkasa di setiap perkampungan yang berada dalam wilayah di kadipaten Gedangan ini," kata Senopati Arya Prana.

__ADS_1


" Setidaknya, kita membutuhkan paling sedikit sepuluh ribu ekor kuda. Aku khawatir perbekalan uang yang kita miliki tidak mencukupi. Apakah menurut paman Senopati, uang dan perhiasan yang disumbangkan oleh rakyat mencukupi kebutuhan kita untuk membeli kuda?"


Mendapat pertanyaan ini, Senopati Arya Prana tidak langsung menjawab. Dia segera menghitung-hitung. Katakanlah andai seekor kuda dihargai sebanyak lima Ringgit perak. Maka, sepuluh ribu ekor kuda akan memakan biaya sebesar lima puluh ribu Ringgit perak. Jika dibanding dengan Ringgit emas, maka mereka setidaknya harus memiliki sekurang-kurangnya dua belas ribu Ringgit emas. Bukan biaya yang sedikit. Itu bisa dua peti jika dalam jumlah yang banyak begitu.


"Hamba merasa, kita tidak memiliki uang dalam jumlah yang mencukupi. Saat ini, perbekalan kita tidak lebih dari lima ribu Ringgit emas. Sangat jauh dari kata cukup," jawab Senopati Arya Prana.


"Huhf..,"


Mereka terus memutar otak sampai pada saat seorang prajurit dari atas menara berteriak melaporkan bahwa dari arah kota raja, tampak serombongan pasukan penunggang kuda sedang menuju ke arah benteng ini.


"Lapor!!!"


"Ada apa prajurit penjaga?" Tanya Senopati Arya Prana.

__ADS_1


"Lapor, Gusti! Hamba melihat serombongan pasukan penunggang kuda mengarah ke kadipaten Gedangan ini. Mereka semua berjumlah sangat ramai dan kesemuanya menunggang kuda," jawab sang prajurit penjaga.


"Apa kau dapat melihat seragam yang mereka kenakan?" Tanya Senopati Arya Prana lagi.


"Maaf, Gusti. Terlalu jauh. Hamba belum bisa memastikan dari kerajaan mana prajurit ini berasal. Namun, menurut perkiraan hamba, jumlah mereka tidak lebih dari seribu orang," kata sang prajurit penjaga kembali melaporkan.


"Beri tanda kepada seluruh prajurit agar mereka bersiap sedia andai ada serangan!" Perintah Pangeran Indra Mahesa.


"Sendiko dawuh Gusti Pangeran!" Jawab sang prajurit lalu mengambil sangkakala berbentuk tanduk kerbau.


Begitu terompet itu ditiup, kini suara berdengung mengejutkan seluruh prajurit yang langsung bergegas mengambil perisai dan senjata lalu membuat formasi bertahan dengan pasukan pemanah kini mulai menempati pos-pos yang telah disediakan.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2